Kamis, 24 Januari 2019

Adagio - Bagian 1

(http://blog.livaza.com/3-desain-ruang-kantor-minimalis-di-rumah/)

Tempo

Suara jarum jam berdetik terdengar dengan jelas. Suasana yang serius melebur di ruangan ini. Dengan mata sayunya, Pose dan Gratt berdiri di samping pintu untuk berjaga. Pria berjaket hitam yang baru saja duduk tiba-tiba berdiri lagi dan menghadap ke Nancy yang sedang memasang wajah serius dengan siku yang menyangga kedua tangan saling merangkul hingga menutupi hidungnya.

Demi matahari yang mati di waktu malam untuk menghemat tenaga, sudah beberapa menit pria itu berdiri disitu tanpa mengatakan sesuatu. Begitu pula dengan Nancy yang hanya diam tak bersuara.

Ada apa dengan kalian ini ???

"Chant ! Bukannya kau membawa pelanggan kita ?" tanyanya dengan lirikan tajam.

Iya, aku sudah membawanya

"Jadi... dimana dia sekarang ?"

Baru aku sadari bahwa... pria ini sungguh terlalu pendek untuk ukuran pelanggan kami biasanya. Padahal suaranya saat bicara denganku tadi terlihat layaknya pria dewasa, apa dia jni memang pedet ? Tingginya bahkan tidak menyamai meja Nancy yang hanya setinggi satu meter ???

Dengan segera aku mengangkat meja kecil yang ada di depanku tadi dan kuletakkan berhadapan dengan mejanya Nancy. Lantas pria pendek ini menaiki meja tersebut dan akhirnya bisa bertatap muka.

"Maafkan aku tuan, aku tidak tahu kalau kau sepen... sebenarnya ada di depan saya" tandasnya dengan senyum kecil bercampur canggung

Aku tidak salah dengar, dia pasti akan bilang pendek barusan !!

Pria itu dengan kebaikan hatinya memaafkan atas kejadian barusan, ia juga berganti meminta maaf kalau dia juga tidak kunjung bicara karena beranggapan akan kurang sopan jika berbicara tanpa saling tatap menatap. Setelah itu, pria bersepatu pantoufel cokelat berbahan kulit itu mulai angkat bicara mengenai permasalahannya. Ia bercerita salah satu kerabatnya telah hilang diculik oleh orang tak dikenal tadi malam.

Ceritanya dimulai dua hari yang lalu, ketika kerabatnya datang untuk menginap di apartemennya. Namanya adalah Luna, ia datang sendirian dengan membawa koper besar saat pria itu sedang tidak berada di tempat. Sore harinya pria tersebut pulang dan terkejut mengetahui si Luna yang sudah tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Saat ditanya alasan mengapa ia mau menginap disini, Luna hanya menjawab kalau ia hanya sekadar ingin beramah tamah ke kerabat dekatnya itu. Pria itu percaya begitu saja dengan perkataan Luna yang bahkan terlihat terbata-bata.

"Bisakah aku melihat foto kerabatmu ?"

"Tentu, ini dia nona" ucapnya setelah merogoh saku kanannya

Ia melanjutkan, malam itu Luna tidur di kamar tidur pria itu karena hanya ada satu kamar tidur. Jadi si pria memutuskan untuk tidur di sofa yang sama dengan yang digunakan Luna untuk tidur sebelumnya. Tidak ada yang terjadi pada malam pertama saat itu. Keesokan paginya, si pria membangunkan Luna dan mengajaknya untuk sarapan di restoran keluarga di lantai satu. Setelah itu ia meminta Luna untuk kembali ke kamar sendiri karena si pria akan pergi ke luar hingga sore tiba.

Di perjalanan pulang, ia mendapati ada seseorang yang duduk di kursi kafe yang berada di trotoar seberang apartemen sedang mendongakkan wajahnya ke apartemen. Saat diperhatikan lebih jelas lagi, ia befpikir kalau orang tersebut menatap ke sebuah kamar tiga dari kiri yang terletak di lantai sepuluh apartemen. Pria itu terkejut karena itu adalah kamar yang dihuninya, tapi ia tak terlalu ambil pusing soal itu dan masuk ke apartemen.

"Apa saat kau sudah masuk ke ruanganmu, sosok tak dikenal itu masih duduk di sana ?" tanya Nancy penasaran

Pria itu membenarkan pertanyaan tersebut. Sosok tak dikenal itu masih duduk disana sambil melihat ke ruangan pria itu. Karena merasa was-was, ia ingin menengok Luna di kamar tidurnya. Tak ada yang aneh dengan Luna, kamarpun dalam kondisi rapi, karena Luna ini orang yang disiplin meski rada pemalas. Pria itu tak mengatakan apapun soal sosok tak dikenal itu, takut akan membuat Luna menjadi cemas.

Malam harinya, pria itu begadang menonton pertandingan sepak bola di telivisi yang ada di ruang tengah. Sampai pertandingan berakhir pukul 03.00 a.m, ia keluar ke lantai satu untuk membeli minuman dan merokok sebentar. Setelah itu ia masuk ke ruangannya lagi dan langsung tertidur pulas. Dan saat pagi hari ia membangunkan si Luna... Kamar itu kosong tanpa adanya Luna dan kopernya. Ia lantas bergegas mencarinya di sekitar apartemen dengan harapan ia masih belum pergi jauh, tapi sayangnya hasilnya nihil. Pria itu pun terpaksa harus menelepon orang tuanya Luna, tapi yang mereka tahu hanya puterinya yang menginap di rumah si pria itu.

Pagi itu ia sudah pasrah dan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian tersebut. Tapi saat sedang menunggu panggilannya diproses tiba-tiba ada pria tua berperut rada buncit menghampiriku dan duduk di sebalah kananku.

"Permisi tuan, kalau boleh tahu apa yang menjadi permasalahanmu ?" tanya pak tua berkemeja putih itu

"Siapa kau ?"

"Tak perlu tahu siapa aku" balasnya lirih

Pak tua mengatakan pada si pria itu bahwa jangan pernah mempercayai kepolisian di tingkat distrik seperri ini. Mereka hanya peduli dengan uang, everything is money. Jika mereka telah berhasil menemukan pelakunya, maka mereka akan berusaha untuk meminta tebusan pada pelaku dan ia akan dibebaskan. Musahnya, kasusmu akan berhenti ditengah jalan nantinya.

Ahh... Nampaknya aku tahu siapa pak tua itu

"Jadi, aku harus bagaimana ?"

Dengan lihai pak tua itu memasukkan sesuatu ke dalam jaket hitam yang sama dengan yang ia kenakan sekarang. Setelah itu pak tua itu bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke salah satu ruangan di kantor kepolisian. Karena merasa takut, pria itu memilih untuk keluar dari kantor polisi dan mencari tempat yang sepi. Di sebuah gang sempit yang terhimpit oleh dua gedung, ia melihat benda berbentuk persegi panjang yang ternyata berupa kartu nama. Di sana tertulis nama kafe ini yaitu Se calmer dan di baliknya tertulis "Adagio". Pria itu tak begitu paham apa maksudnya, tapi jika dilihat dari sosok pak tua itu yang nampaknya orang dari kepolisian atau seorang informan ia berpikir kalau "Adagio" itu sebuah nama orang atau semacamnya. Karena sudah ada nama kafe dibagian depannya, maka bagian belakang adalah nama pemilik atau orangnya.

Maka dari itu sejak siang tadi ia berusaha keras mencari kafe ini selama berjam-jam dari kota kecil, Toul hingga akhirnya tiba di sini malam ini setelah bertanya kesana kemari tak tahu lokasi Se clamer ini.

Gggrrrrhhhh.... piu piu piu

"Ehhem !!!"

Tos !! (suara ingus meletus)

"Apa kau tak tahu apa itu gps ?" sahut Gratt sambil menguap

"Agh !!??" pria itu menasang wajah terkejut bodoh

Bukan hanya tubuhnya saja yang pedet, tapi otaknya juga !!!

"Garis besarnya aku sudah paham, kami akan segera mencari kebaradaan Luna, cukup menca..."

Belum selesai Nancy melontarkan perkataannya, dengan cepat pria itu menyela " Cukup mencari keberadaannya saja, sisanya itu adalah urusanku"

Dengan begitu, Nancy menerima permintaan itu kemudian aku mengantarkan pria itu keluar dari ruangan

"Saya undur diri nona Nancy, selamat malam" ucapnya sembari menundukkan sedikit kepalanya.

Ketika sudah di depan kafe aku berkata,

Dalam waktu tiga hari, kami pasti akan menemukannya

"Satu hari, tidak ada kompromi !" tegas pria itu.

Sungguh pria yang tak tahu diri, setelah kami dipaksa untuk mendengar kronologis yang seperti cerita pengantar tidur itu, ditambah ia hanya mampu membayar setengah dari DP yang telah ditentukan, masih saja hanya memberi tenggat waktu satu hari. Menyebalkan sekali...

Aku benci pria pedet !!!

Aku tetap berdiri di depan kafe sampai bayangan pria itu tak bisa kulihat sosoknya lagi. Jam berdentang, pukul 10 p.m datang. Sudah waktunya bagi kami untuk beroperasi. Aku naik kembali ke lantai dua untuk rapat sebentar soal pembagian tugas untuk kami bertiga. Nancy disini hanya berperan sebagai penerima misi bagi kami, jadi ia tidak akan terjun ke lapangan bersama kami.

"Chant, strateginya ?"

Baiklah, mari kita bagi tugas seperti biasa. Untuk misi tipe pencarian ini... Pose, kau cari di kota Toul dimana kejadian itu berawal. Kemudian untuk Gratt, kau cari di sekitar colombey. Dan aku akan mencarinya di....

"Kau akan mencarinya di sekitar Pount a Mussuon !!!" Pose memotong kalimatku

Hey ! Apa maksud....

"Jangan kira kau bisa menipu kami, kami tidak akan membiarkanmu bermalas-malasan hanya mencari di kota ini saja ??!!" teriak Gratt dengan menodongkan jari telunjuknya

Sejak kapan mereka... eh ??
Aku menyerah, aku menyerah !

Lebih baik kita segera bergerak karena batas waktu kita hanyalah satu hari saja.

"Bukan masalah !" ucap Gratt dengan mata terpejam

"Let's playing hide and seek" menjawab sambil tersenyum adalah keahlian Pose

Le gérant, kami pergi dulu

"Emm... Yakin ? Dengan pakaian itu ?"

Eh ???

Tidak memiliki rasa malu itu terkadang memang dibutuhkan, tapi ini adalah soal identitas kami. Jangan sampai pakaian maid ini bisa membongkar identitas yang sudah terjaga selama satu tahun ini hanya karena misi rendahan seperti ini. Setelah berganti pakaian kami bertiga pun berangkat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar