
BAB I-Pertemuan
Bagian 1 - Saat
Terbangun di Pagi Hari
• 10 Telu 680 Danindra - Kediaman Bangsawan
Catura Kota Maja
Bangunan besar berhalaman lumayan luas dengan
warna putih menyilaukan mata yang memandangnya. Kediaman Bangsawan Catura ini
dihuni oleh beberapa orang. Tentu saja sang kepala keluarga selaku pemilik
rumah, kemudian belahan jiwanya, seorang gadis remaja dan tiga orang pelayan.
Sinar Dewa yang perlahan merayap masuk ke dalam kamar ialah pertanda kalau
salah seorang pelayan akan datang dan mengetuk pintu.
*Tok tok tok
“Nona Laksha, sudah pagi,
mohon untuk segera bangun. Hari ini anda harus berangkat ke Kota Aryasetya,
bukan?”
Gemulai tangan menari dalam
balutan selimut tebal, enggan untuk keluar dari zona nyaman itu. Lagi dan lagi,
hari yang terus berulang diawali dengan membuka mata di pagi hari. Mengapa
hidup terlalu monoton seperti ini....
Sekali lagi si pelayan
mengetuk rada garang dibuatnya jengkel. Itu sudah biasa terjadi, Nona
"Tukang Tidur" ini selalu sulit soal bangun di pagi hari. “Segeralah
bangun atau anda tidak akan mendapatkan jatah sarapan”.
*Sling!!
*Sruek
*Sruek
“Hahaha... Pagi yang cerah
sekali bukan, Lise!?” Dengan cepat ia terbangun dan melempar jubah tidurnya sembari
menatap penuh semangat keluar jendela.Ia bergegas keluar kamar tidurnya menuju
kamar mandi untuk sekadar membunuh kuman-kuman yang bisa membuat orang menjadi
malas dan membuat wajah nampak lesu tak berenergi. Segera setelahnya ia
berganti seragam putih-putih yang dijahit oleh Lise secara spesial hanya untuk
hari ini. Bukan, seharusnya itu dipakai besok saat menghadiri ujian masuk akademi.
Mungkin karena ia tak sabaran, maka dari itu ia kenakan hari ini juga. “Lise,
tidakkah ini terlalu pendek untukku?”
“Tidak Nona, itu sudah pas.
Saya telah mencocokkan dengan seragam aslinya bulan lalu.”
“Ntah mengapa aku sedikit
merasa malu...” Mukanya menunduk dengan rona merah di pipinya.
Seragam putih-putih itu
memiliki desain tiruan milik Akademi Dasar yang masih berada dalam satu kota.
Untuk beberapa alasan Lise harus menjahitkan seragam tersebut untuk dipakai
oleh Laksha. Padahal ia bukanlah lulusan dari Akademi Dasar tersebut.Ruang
makan yang berada di lantai satu mengharuskannya untuk menuruni lima puluh anak
tangga diujung rumah. Terlihat di sana sudah duduk bersahaja ala bangsawan, dua
orang pemilik rumah atau yang dalam kurun waktu tiga tahun ini ia panggil
dengan sebutan Ayah dan Ibu.
“Laksha, kau terlambat lima
menit” Seorang wanita berparas cantik mengeluh telah dibuat lama menunggu
kedatangan putri semata wayangnya. “Maaf, Ibu, Lise tadi terlambat untuk
membangunkanku” Alasan khas orang pemalas mulai keluar dari lisannya.
“Sudah berulangkali kau
seperti ini. Lise, aku ijinkan kau untuk mendobrak pintu kamarnya jikalau
Laksha masih saja sulit untuk dibangunkan”
“Dimengerti, Nyonya” Meski
Lise mengangguk, ia menyadari kalau kemungkinan besar Laksha tidak akan berada
di rumah selama tiga tahun mendatang. Itu adalah perintah yang sia-sia di
matanya.
Merasa
tersudutkan, Laksha hanya bisa terdiam dan menyantap sarapannya saja. Sepotong
roti dengan telur mata sapi di atasnya sebenarnya tidaklah cukup untuk memenuhi
mesin penggiling tukang makan itu. Meski sudah dibuatkan sup daging domba pun
juga masih kurang. Anehnya, tubuh anak satu itu tak melebar seperti orang
kebanyakan yang terlalu banyak makan. Suasana yang sederhana menyejukkan pagi
yang sedikit berawan. “Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Ayah harap tidak
mendengar kabar kalau kau gagal dalam ujian hanya karena kondisimu yang
tiba-tiba memburuk” Kekhawatiran sang Ayah ini tentu saja beralasan. Bukan
karena kondisi tubuh yang lemah dan sering sakit-sakitan, melainkan justru
karena terlalu sering berlatih hingga lupa waktu yang membuatnya juga lupa akan
hobi makannya dan berakhir terkapar di atas kasur. “Tak perlu khawatir, Ayah.
Aku sudah mengistirahatkan tubuhku seharian kemarin”
“Baguslah kalau begitu”
Mereka
bertiga melanjutkan makan cantiknya. Nampaknya Sang Ayah masih belum tenang
jika hanya bertanya segitu saja. Ia terus melanjutkan perbincangan mengenai
akademi yang akan dimasuki oleh Laksha. Ia bercerita bahwa di akademi itu
berisi para Sakti yang kuat. Selain itu, status bangsawan juga menjadi
perhatian serius untuk menentukan siapa yang berkuasa dan bagaimana cara harus
bersikap. Sembari terus mengoceh tak jelas, Laksha akhirnya mengabaikannya dan
menikmati sarapan.Lise yang kembali ke lantai dua untuk mengambil tas bawaan
Laksha saat mereka bertiga sarapan sudah kembali. Satu, dua, tiga tas yang akan
dibawa oleh Laksha menuju kota sebelah. Mungkin terlihat berlebihan karena
hanya tujuh hari saja ia akan tinggal sementara di sana. Ayahnya, Tuan Catura
sudah menyewa kamar di penginapan yang sedekat mungkin dengan akademi untuk
mempermudah Laksha yang buta arah.
*Ngiik ngiik ngiiik
“Nona Laksha, kereta kuda
yang akan mengantarkan anda sudah tiba”Pelayan lelaki yang sedang sibuk menyapu
halaman depan itu masuk ke ruang makan.
Laksha
yang telah menyelesaikan sarapannya beranjak dari kursinya menuju pintu depan.
Soal piring kotor, barang bawaan, tentu saja itu sudah tugas pelayan. Tak perlu
repot-repot tuk mengotori tangan seperti itu. Kepergiannya diiringi oleh seisi
penghuni rumah. Tak terkecuali Asuki.
*Auwk auwk!
“Ahhh...!! Asuki!!”
Anjing
yang mirip dengan serigala berbulu hitam dan dikombinasikan dengan warna putih
berlari menghampiri Laksha. Khas dari seekor anjing rumahan, menjilati pipi
merah Laksha yang kedinginan karena suhunya yang rendah, padahal sudah memasuki
musim semi. “Yoshi yosh... Aku pergi dulu ya, Asuki. Kau jangan nakal, ya... dan
juga kalau Lise memberimu makan kau harus memakannya, oke!?”
“Auwk!”
Memang
berat, selama tiga tahun ini Laksha tak pernah sekali pun pergi ke luar kota
sendirian. Sebagai orang tua sudah normalnya mengkhawatirkan anaknya di luar
sana. Terlebih berada di kota yang banyak Sakti di sana. “Kalau begitu, Ayah,
Ibu dan semuanya... Doakan aku lulus ujian besok” Hanya satu kalimat itu yang
terucap dari mulutnya sebelum akhirnya menaiki kereta kuda yang beratap dan
berdinding kayu. Ruang kecil tertutup yang berada tepat di belakang Pak Kusir.
Tali telah dilecutkan, kuda yang mulai berjalan perlahan menjauhkan jarak
pandang antara mata hijaunya dengan rumah putihnya.Meski tak terlihat jelas,
nampak aliran sungai kecil keluar dari bola matanya. Lambaian tangan mereka
terlihat jelas saat Laksha mencoba tuk mengintip melalui jendela kaca kereta
kencana. Satu langkah roda keluar dari halaman indahnya. Banyak rumah pertanda
banyak pula penghuni kotanya. Mereka melintasi satu persatu kediaman berbagai
bangsawan dan berbagai kelas bangsawan yang tertata rapi di kanan dan kiri
jalan. “Akhirnya... Setelah sekian lama... Aku akan bisa mewujudkan impianku
untuk menjadi Sakti yang hebat, dan... Mengungkap tabir "Obong Wengi"
itu”.
Dengan mata perlahan sayu di
saat melihat pepohonan melintas di sebelahnya. Ia menatap keluar, matanya
seperti akan tenggelam dalam lautan biru langit. “Benar juga, sudah lima tahun
berlalu... dan tiga tahun semenjak hari itu... ya” Masih teringat dengan jelas
dalam memori yang sudah usang namun tak kunjung tenggelam di palung samudera.
Malam setelah dua tahun "Dia" membawanya dan mengajarinya banyak
macam teknik bertahan hidup dan sedikit beladiri, sebelum akhirnya ia pergi dan
tak pernah kembali lagi.
***
Malam itu ia berkata akan
pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sungguh ungkapan yang tak normal
karena sudah waktunya untuk beristirahat dan menyantap makan malam namun masih
ingin mencari sesuatu yang bisa untuk menerangi dan menghangatkan diri. Memang
benar persediaan kayu bakar sudah habis, tapi bukannya suatu yang dilarang
untuk mencarinya esok hari. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang
dindingnya terbuat dari deretan bambu dengan atap penyangga dari kayu yang
diselimuti oleh serabut jerami. Hanya ada satu kamar, dapur, tungku untuk memasak
dan meja bundar dengan dua kursi yang menemaninya.
“Guru... Kapan makanannya
matang?” Sesosok anak kecil berusaha memalak seseorang yang sedang disibukkan
oleh panci dengan uapnya yang memenuhi ruangan.
“Kau ini tidak sabaran
sekali, ya. Dasar gadis tukang makan!” Tangannya terangkat mencicip sesendok
sup yang sudah mulai menua. Waktu itu Laksha tertawa kecil setelah ia
mengatakannya, dan ia mengacak-acak rambutnya.
Aroma
yang lezat ini mampu menyeret hidung menuju tepian panci berisi sup kaldu ayam.
Begitu menggoda hingga liur tak tertahan mengucur dari mulut kecilnya. Laksha
yang benar-benar sudah tak sabar ingin mencicipinya sampai habis berteriak
manja padanya untuk segera menyajikan di meja makan. Uap yang keluar dari sup
itu begitu mengepul dan menanjak ke udara lepas. Akhirnya saat-saat yang
dinanti telah tiba. Sendok sayur itu diambil oleh Si Guru dan ia mengambilkan
jatah untuk Laksha di mangkok yang sudah haus akan makanan.Tak perlu menunggu
pagi tiba untuk memuaskan cacing yang sudah berjejer di dalam perut “Selamat
makan!” Mengatakan hidangan ini buruk adalah dosa besar baginya semasa hidup.
Ia selalu membuatkan makanan dengan rasa bangsawan meski bahannya sekelas
jelata. Saat kali pertama Laksha memakan masakannya dua tahun lalu, ia langsung
jatuh hati pada kelihaiannya dalam memasak. Berulang kali ia meminta untuk diajarkan
dan berulangkali pula orang itu dengan senyum manisnya menyedekahkan resep
rahasianya setiap memasak, dan resep itu adalah... “Laksha, aku akan pergi ke
hutan untuk mencari kayu bakar dulu, kau tetaplah di sini dan habiskan makan
malammu, ya!”
“Eh? Mencari kayu bakar?
Bukannya besok masih bisa?” Seorang anak kecil mempertanyakan hal yang logis
dan beralasan.
Matanya
sedikit sayu dan mengeluarkan senyum kecil tak puas “Tak apa, aku akan mencarinya
malam ini, aku pergi dulu”. Dalam benak Laksha bertanya-tanya mengapa gurunya
tersebut tiba-tiba ingin mencari kayu bakar malam-malam begini, tidak seperti
biasanya. Ya sudahlah, daripada repot-repot memikirkan apa yang orang dewasa
lakukan, Laksha lebih memilih untuk menyelesaikan pertarungannya dengan panasnya
sup yang berada di depannya. Itu jauh lebih menarik untuk dilakukan.
Beberapa
menit berlalu dan makan malamnya sudah tinggal sesendok lagi. Tubuhnya merasa
aneh, seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari perut kecilnya. Padahal sore
tadi ia tak banyak minum, tapi datangnya hasrat untuk buang air kecil sudah
diujung tanduk. Di rumah yang tak pantas disebut rumah ini tidak memiliki
toilet pribadi, mereka harus pergi ke bilik kecil buatan si guru yang ada di
tepi sungai tak jauh dari sana. Laksha menyalakan lentera yang tergantung di
dinding dan dibawanya keluar menerangi jalan setapak di bawah bayangan
pepohonan.Suara-suara nyaring terdengar di tempat yang sunyi. Untuk suara serangga
yang bernama jangkrik bukanlah masalah karena bisa merubah suasana seram
menjadi sedikit ramai, tapi untuk suara burung yang hanya terdengar di malam
hari... Burung hantu adalah musuh utama baginya acap kali berkunjung ke toilet
pribadi mereka di hilir sungai. Biasanya Laksha akan ditemani oleh gurunya, tapi
apa daya ia sekarang sedang menjelajah hutan meninggalkan tuan putri itu
sendirian.
“Kau tetaplah disini dan
habiskan malammu, ya!” Kalimat itu terngiang di kepalanya saat sudah tiba di
tempat tujuan. Mau bagaimana lagi, ini adalah urusan yang tak bisa ditunda esok
hari seperti mencari kayu bakar. Jika si guru saja tidak bisa menunda
keperluannya, mengapa Laksha tidak? Nampaknya rasa kesal tidak bisa makan malam
berdua dengan gurunya membua Laksha tak tenang.
Deru
aliran sungai berduet dengan nyanyian jangkrik menutupi suara memalukan air
seni yang mengucur dari salah satu organ ekskresi. Laksha berterimakasih pada
mereka berdua. Meski sebenarnya itu tak diperlukan karena takkan ada orang yang
mendengarnya. Ditutupnya pintu reot dan berjalan pulang. Di tengah perjalanan
langkahnya terhenti oleh penampakan jejak binatang yang membekas di tanah.
Laksha mencoba menyentuhnya untuk memastikan apakah jejak itu sudah lama atau
baru saja terbuat. Bodohnya Laksha waktu itu, saat diamelewatinya tadi tentu
saja jejak itu masih belum terekam di tanah. Tanpa disadari suara-suara
rerumputan yang saling bergesekan, seekor binatang berbulu hitam muncul dari
balik semak belukar. Entah Dewi Bulan yang marah padanya karena menyalakan
lentera menyaingi sinarnya, Laksha langsung menjerit dan berlari sekencang
mungkin.
“Babi hutaaaaannn!!!” Kejadian
munculnya babi hutan seperti itu di malam hari bukanlah hal yang mustahil.
Itulah mengapa biasanya si guru yang bertugas untuk mengatasinya. Meski tak
jarang pula ia enggan untuk membunuhnya atau sekadar mengusirnya hanya demi
menjahili Laksha dan tertawa saat mereka berdua lari bersama dengan pekikan teriakan
yang keluar dari mulutnya.
Sudah
dua tahun Laksha dilatih oleh gurunya dan sudah berulangkali pula ia bernasib
sama dikejar seperti itu, anehnya tak pernah terpikir untuk melawannya dengan
kekuatan miliknya. Laksha yang sekarang tentu saja jauh berbeda dengan setelah
ia menyaksikan kekejian tujuh roh jahat yang telah membakar desanya. Laksha hanya
bisa berlari dan berlari. Untung saja dia ini adalah pengguna kekuatan tipe
angin, sehingga ia bisa memanfaatkan angin malam untuk membantu percepatan
berlarinya. "Angin Kencana!"
*Wusssss !!
“Aa... Aaaaaaaaaa...”
Karena
rasa takut yang sedang menguasai raga, mengendalikan jumlah tenaga dalam yang
dikeluarkan saja ia tak bisa. Alhasil Laksha tak bisa membelokkan tubuhnya ke
arah jalan setapak yang benar dan malah menerobos masuk ke dalam labirin hutan.
Beberapa saat setelah ia menggunakan jurus jitu "Melarikan Diri",
Laksha bisa lolos dari kejaran babi hitam jelek itu. Perlahan ia mulai
mengurangi kecepatan larinya hingga akhirnya saat berhenti total barulah
disadari... “A, Aku tersesat”.
“Bagaimana ini?? Apa yang
harus aku lakukan?” Seorang anak kecil tetaplah anak kecil. Padahal usia telah
menginjak dua belas tahun, tapi semua ini gegara si guru yang terus menerus
memperlakukannya seperti anak kecil usia tujuh tahun. Untuk menghadapi
permasalahan seperti anakan ayam yang tak tahu arah kandangnya saja Laksha
kebingungan. Situasi pada malam hari benar-benar berbeda 180° dibanding saat
matahari sedang bertakhta. Gelap dan gelap. Saat itu cahaya rembulan sedang
tertutupi arus sungai awan. Ditambah lagi pepohonan di hutan yang tak kalah
tingginya dengan rumah bertingkat milik bangsawan. Dengan berhati-hati Laksha
menyusuri lautan semak belukar untuk mencari jalan setapak yang dilaluinya
tadi.
“Aduh!”
Ternyata
bukan Dewi Bulan saja yang marah, pepohonan pun juga tak mau meninggalkan kesempatan
untuk menjahilinya. Akar besar nan keras menjalar keluar dari rumahnya. Tak
diragukan lagi pohon itu pasti sudah berusia lebih dari seratus tahun, dimana
tubuh mungil Laksha mencoba untuk berpelukan pada batangnya yang berdiameter
cukup lebar itu. Kesialan yang bertubi melanda. Cahaya harapan yang menyala
pada lentera tersebut lenyap begitu saja meninggalkannyadalam duka tak
berkesudahan. Laksha yang tipe angin tentu saja tak bisa mengubah tenaga
dalamnya untuk menghasilkan percikan api. Sekali pun bisa, itu hanya sebatas
untuk meningkatkan suhu tubuh diri sendiri dengan hanya mengeluarkan tenaga
dalam murni tanpa ada campur tangan dengan gesekan partikel-partikel kecil di
sekelilingnya.
Andaikan
saja lampu lagit menyala, mungkin tanpa lentera pun ia masih bisa menelusuri
hutan yang menyebalkan itu. Laksha jadi bingung mengapa dulu si guru memutuskan
untuk tinggal di dekat sini, padahal sekitar setengah hari perjalanan ke arah
selatan ada sebuah desa kecil yang setidaknya mereka bisa ikut mendirikan
rumah-rumahan kecil di sana. Mengeluh terus tak akan menghasilkan secangkir
hangat susu sapi, Laksha memutuskan untuk tetap berjalan entah kemana ia
mengarah. Kunang-kunang yang biasanya berada di langit juga tidak menampakkan
hidungnya, lagi-lagi ini semua salah awan.
“Huh...”
“Ja@#&$asi÷×✓%!?”
“∆¶\•ngat[°^™€{£\”
Suara
samar-samar tertangkap daun telinga. Abaikan atau telusuri darimana asal suara
itu adalah dua pilihan yang membuatnya bimbang. Di satu sisi Laksha ingin
segera menemukan jalan setapak dan cepat-cepat pulang, di sisi lain ia juga
penasaran asal suara itu darimana dan siapa yang mengeluarkannya. Malam-malam
begini, ditengah sesatnya hutan begini, mungkinkah ada orang lain sebodoh si
guru yang mencari kayu bakar di malam hari? Rasa penasaran akan kebodohan orang
tersebut membuatnya membelokkan kaki menuju sumber suara. Siapa tahu nanti ia
bisa menanyakan arah agar bisa keluar dari labirin itu. “Apa-#&)/"!$kita+@_@=¢{¢[✓€?” Semakin mendekat suara yang
terdengar semakin jelas. Ada apa di ujung semak ini? Sebelum mencapai puncak
penasarannya, terdengar dikit seperti adanya percakapan, dengan begitu bisa
dipastikan lebih dari seorang. Laksha sempat berpikir kalau itu adalah suara
gurunya yang sedang bergumam, tapi ternyata bukan.
“Dimana dia sekarang?” Seseorang
nampaknya sedang melontarkan pertanyaan dengan nada sedikit cemas. Tak
pedulikan itu Laksha semakin dekat menerjang.
“Dia sudah berangkat terlebih
dahulu ditemani oleh *** menuju desa ***”.
Laksha
semakin jelas mendengarnya. Berpikir sejenak mengenai desa *** yang sedang
dibicarakan itu, kalau tidak salah gurunya pernah bercerita kalau dia pernah
tinggal di sana selama beberapa tahun. Api yang sedang berkobar melupakan
hasrat untuk bersegera pulang dan tidur di atas kapuk yang dibalut kain bekas. Awan
bertiup lebih kencang dari sebelumnya, membuka cahaya lampu tuk menerangi
panggung sandiwara. Lima siluet terlihat sedang berkumpul di sana. Semakin
terang sinarnya semakin pula terlihat jelas jubah hitam mereka. Wajahnya mereka
sembunyikan dibalik topeng putih yang melekat erat di kepala. Masa lalu kelam
menyerobot keluar dari kumpulan buku ingatan yang menindihnya. Dengan mata
terbelalak tubuhnya bergetar hebat, rasa takut, benci, dendam, dan amarah melebur
menjadi satu saat itu juga. “Ro-Roh Jahat!!?”
Padahal
belum pasti apa yang dilihatnya, mereka yang berada di balik semak itu adalah
mereka yang telah menyalakan api neraka di malam tahun baru. Tetapi, mengapa
tubuh Laksha berguncang kuat sampai tak bisa digerakkan? Kepalanya serasa berat
sekali, berharap tanpa kepala itu lebih baik. Badannya serasa membatu, berharap
tanpa badan itu jauh lebih baik. Bagaimanapun Laksha ingin sekali menyerang
mereka. Membalaskan dendam banyak jiwa yang terenggut hanya dalam satu api satu
malam. Terus menerus memerintahkan tangan itu untuk menyerang namun tak bisa.
Jangankan menyerang, mengeluarkan tenaga dalam saja ia tak bisa. Seolah tubuhnya
mengerti kalau sampai mereka mengetahui keberadaan Laksha karena merasakan tenaga
dalamnya, ia akan mati di sana tanpa diketahui oleh siapa pun selain mereka
sang pembunuh.
“Keputusan yang tepat, kalau
begitu kita segera ke sana!” Salah satu roh jahat itu memberikan komando kepada
empat roh jahat lainnya.
Bersamaan
dengan gugurnya daun terhempas angin malam, mereka menghilang dari pandangan
begitu saja. Lenyap tanpa jejak. Lenyap tanpa sempat Laksha melawan mereka.
Lenyap tanpa sempat ia bertanya arah untuk keluar dari hutan itu. Hilangnya
mereka mampu mencairkan tubuh yang membatu itu. Tak sampai satu detik setelah
Laksha menyadarinya... Ia berteriak sekencang mungkin juga berlari sekencang
mungkin. Adu kencang terjadi antara mulut dengan kaki. Sudah tak peduli lagi
kemana arah yang dituju, asalkan ia bisa berlari sejauh mungkin dari tempat
terkutuk tadi.
Malam
yang seharusnya sunyi dan menenangkan berbalik menjadi malam yang menegangkan,
sama halnya seperti malam tahun baru dua tahun yang lalu. Lari... Melarikan
diri adalah satu-satunya hal yang ia bisa. Lari dari gudang penyekapan, lari
dari desanya, lari dari babi hutan, dan sekarang lari dari kenyataan bahwa
betapa lemahnya gadis kecil itu. Tidak seperti gurunya yang bisa melakukan apa
saja karena keberaniannya, Laksha ini tidak lain hanyalah seorang anak
perempuan yang masih ingin dimanja dan tentunya ingin dilindungi oleh orang
dewasa. Seperti yang gurunya lakukan selama kurun waktu dua tahun, tapi
nahasnya si guru sedang tidak ada di sampingnya kala Laksha dalam kondisi yang
memalukan dan pilu itu. Tak dihitung berapa jejak kaki yang sudah ia tancapkan
pada tanah, Laksha berhasil kembali ke jalan setapak sebelum ia menjelajahi
hutan belantara. Rasa tenang sedikit meredam rasa takut akut yang mendekapi
tubuhnya. Berusaha mendinginkan kepala, ia melihat jejak kaki babi hutan yang mengejarnya.
Penyebab dari malapetaka yang menimpa. Laksha mengikuti jalan sempit itu dan
berhasil pulang sampai di rumah.
Laksha
segera membuka pintu dengan harapan gurunya sudah pulang duduk di meja makan
menyantap makan malamnya dan percaya dengan semua yang dilihatnya akan diceritakan.
Tak disangka setelah pintu terbuka... Sang Guru sudah lenyap dari rumah,
satu-satunya tempat untuk mereka kembali pulang.
***
“Nona, kita sudah memasuki
kota Aryasetya”. Suara dengan nada sedikit keras dari luar terdengar hingga
membangunkannya dari tidur yang lelap. Selama kurang lebih satu jam nampaknya
Laksha tertidur. Melewati pemandangan luar yang tak pernah ia lihat sebelumnya
memang sangat disayangkan, tapi melewatkan udara sejuk di pagi untuk tidur
kembali itu jauh sangat disayangkan. Orang bilang kalau tidur di pagi hari
tidaklah baik bagi kesehatan, tapi rupanyaLaksha masih mengantuk, terlebih
fakta bahwa ia yang seorang tukang tidur.
Untuk
bisa sampai ke Kota Aryasetya sebenarnya tidaklah jauh. Hanya melewati dua desa
setelah keluar dari Kota Maja dan
dilanjut melintasi wilayah perbukitan. Di sinilah waktu terkuras banyak untuk
bisa tiba di kota yang dituju. Jalan yang panjang dan berliku harus dilalui mau
tidak mau suka atau tidak suka, dan nampaknya selama kereta kuda ini melintasi
perbukitan, Laksha tertidur.
Pak
Kusir itu berkata kalau mereka sudah tiba di kota, faktanya mereka masih baru
akan memasuki gerbang kota. Terdapat kebijakan di tiap kota yang berada di
bawah kekuasaan Kerajaan Ardiya ini, atau mungkin semua kerajaan juga
memberlakukan sistem yang sama. Tiap kota pasti di batasi oleh dinding yang
terbuat dari campuran batu dan tanah. Tingginya mencapai sepuluh meter
mengelilingi kotanya. Lebih tepatnya melindungi kota dari bencana alam seperti banjir
dari luar dindinng, badai, maupun tanah longsor kalau itu memungkinkan. Itu semua
karena letak geografis Kota Aryasetya ini dikelilingi oleh perbukitan dan dekat
dengan laut barat. Adanya dinding setinggi itu lebih efektif daripada beberapa
kota lainnya yang ada di dataran rendah.
Otoritas
kota menugaskan beberapa orang untuk berjaga dan memeriksa setiap orang dan
barang bawaannya yang akan masuk ke dalam kota. Mereka pun juga tak luput dari
pemeriksaan tersebut, meski harus menunggu belasan menit untuk mengantre. “Perlihatkan
lembar identitasmu!”Suara tegas salah satu petugas terdengar sedikit gagah
namun rada sombong, seolah-olah dialah penguasa kota yang sudah banyak manusia
keluar masuk dan mendapat izin darinya. Pak Kusir memberikan lembaran berupa
identitas juga daftar angkutannya kepada petugas. Tak lupa juga Laksha
menunjukkan sebuah benda yang melingkar di lehernya sebagai lambang bahwa
dirinya merupakan kaum bangsawan kelas keempat, Catura.
Di Kerajaan
Ardiya ini terdapat tujuh kelas bangsawan yang dihormati. Mulai dari kelas
terendah hingga tertinggi, masing-masing memiliki identitas yang berbeda.
Berhubung Laksha yang merupakan bangsawan kelas keempat, maka kalung adalah
perwujudan yang mewakili identitasnya. Kalung bangsawan dengan kalung emas lainnya
memiliki warna dan bentuk yang berbeda. Kalung khas bangsawan kelas keempat ini
berwarna perak dengan butiran-butiran kecil yang saling merekat satu sama lain
membentuk tali dengan membawa simbol burung merpati. Cukup dengan memperlihatkan
simbol tersebut pada siapa pun di kerajaan ini pasti akan segera menyadari
bangsawan kelas berapa pemakainya. Hal mudah tak perlu repot-repot menjawab
berbagai macam jejalan pertanyaan. Sebagai gantinya, mereka telah menuliskan
data diri dan alasan atau keperluan apa memasuki kota dan daftar barang bawaan
yang telah diberikan kepada petugas.
“Baiklah, silahkan masuk”.
Akhirnya... Kata yang sudah lama dinanti keluar darinya. Gerbang setinggi
delapan meter itu terbuka. Roda berjalan ditarik oleh tenaga kuda memasuki
tempat penuh misteri. Laksha beralih duduk di samping Pak Kusir yang sedang
bekerja, mengendarai kuda supaya baik jalannya. Tepat setelah gerbang, terdapat
jalan lebar yang lurus sejauh mata memandang. Diujung jalan dapat dijumpai
daratan yang sedikit lebih tinggi dengan bangunan berlumuran susu yang berdiri
megah bertakhta. Pusat dari otoritas kerajaan di Kota Aryasetya.
Berbeda
dengan jalanan di Ibu Kota Auriga, dari peta yang pernah ia lihat, jalanan di
ibu kota dibuat berliku-liku sedangkan yang satu ini jalan utamanya justru
dibuat lurus. Dibuat berliku dengan tujuan untuk memperlama dan mempersulit
apabila ibu kota sedang diserang oleh tentara lawan sewaktu-waktu. Lantas apa
gerangan kota yang satu ini tidak demikian ? Pak Kusir dengan cepat menjawab
gumamannya. Ia menjelaskan jika yang bertanya adalah anak kecil, maka mereka
orang dewasa akan menjawab bahwa jalan lurus ini dibuat agar kalian tidak
tersesat, atau mungkin jikalau sedang tersesat, kalian tinggal bertanya dimana
jalan utama berada, dengan begitu masalah akan teratasi. Tapi sebaliknya, jika
yang bertanya adalah orang dewasa... Tapi rasanya mustahil bagi orang dewasa bertanya
hal semudah ini. Jika dilihat dari sisi baiknya, kota ini seperti memberikan
rasa sopan dan santun kepada pengunjung dengan langsung memperlihatkan dirinya
(Istana Kota). Tapi jika dilihat dari sisi buruknya, maka orang yang telah
melewati gerbang pasti akan sedikit merasa kesal karena mereka telah
diremehkan. Jalan utama ini adalah bentuk kesombongan Kota Aryasetya dalam
menyambut musuh apabila berhasil menembus garis pertahanan terdepan. Jalan
utama yang sedemikian lurus ini juga dengan tujuan lain supaya perhatian mereka
terfokus pada istana dan mengesampingkan rumah-rumah warga yang ada di sisi
kanan dan kiri jalan.
Ia menambahkan lagi agar aku
tidak pergi jalan-jalan sendirian memasuki pemukiman warga, karena di samping
jalan sombong ini adalah labirin kota yang akan menyesatkan pendatang baru.
Jalan kecil yang dibuat berliku dengan rumah bagai dinding penghalangnya, jika
diperhatikan dengan baik, tak kan pernah kita jumpai rumah hanya dengan satu
lantai. Setidaknya dua sampai tiga lantai untuk menghalangi pandangan mereka
yang sudah masuk ke dalam labirin tak berujung itu.
“Tak perlu khawatir, karena
aku bukanlah tipe orang yang suka berkeliaran”. timpalku.
Bagian 2 - Pulang
Pagi
• 10 Telu 680 Danindra - Akademi Aryasetya
Kerajaan Ardiya Bagian Barat
*Teng tong teng tong
Bulatan besi berwarna emas yang ada di menara bergerak memantul dan
menghasilkan suara yang khas. Pertanda baik maupun buruk. Sebagai tanda
pembelajaran dimulai, istirahat siang, dan pembelajaran selesai.
“Perhatian semuanya!”
Ditengah libur akhir semester, murid-murid
terpaksa diminta keluar dari kandang mereka untuk datang ke akademi hari ini.
Itu karena ada pengumuman penting yang harus disampaikan. Semuanya berkumpul di
arena berlatih yang terpisah dari akademi namun masih dalam satu area. Lapangan
yang hijau berseri tertutupi oleh sekian banyak murid berseragam hitam yang
sedang berbaris di sana. Pada bagian terdepan terpisah dari barisannya berdiri
beberapa murid yang merupakan ketua kelas dari tiap-tiap kelas yang ada. Mereka
menghadap ke arah podium yang ada di depan mereka. Belasan wajah orang dewasa
menghiasi panggung, terutama yang paling depan di ujung podium. Meski sudah
beruban nampaknya ia masih segar dan enerjik. Dialah Kepala Akademi ini.
Sedangkan belasan orang yang berjejer di paling belakang panggung adalah
pengajar di akademi. Tidak semua pengajar yang berstatus aktif hadir dalam
acara, hanya mereka yang masih berumur di bawah empat puluh tahun yang hadir.
Inilah yang mungkin dinamakan dengan “Mereka yang tua adalah Dewa”, liburan
kami harus dikorbankan untuk menghadiri acara yang hanya berjalan tak sampai
berjam-jam tentunya. Di antara belasan pengajar yang hadir, aku adalah salah
satunya. Berdiri paling pojok kiri agar dianggap bukanlah sosok penting dalam
akademi, atau mungkin aku ini memang keberadaan yang sangatlah tidak penting di
sini.
Terdapat keunikan yang membedakan seragam
yang dikenakan oleh murid dan pengajarnya. Seragam murid dimana bajunya hanya
sepanjang tangan tanpa dilapisi apapun, sedangkan seragam pengajar dilapisi
oleh jubah yang panjangnya sampai betis. Mungkin desainer seragam ini ingin
agar kami terlihat lebih keren dari muridnya. Selain itu, terdapat juga
perbedaan lainnya antar sesama pengajar. Bukan masalah kekuatan atau kelas
bangsawan atau gelar yang dimilikinya, melainkan ada beberapa pengajar yang
menutupi wajahnya menggunakan topeng. Untuk yang hadir di sini ada tiga orang
termasuk aku yang memakainya, sedangkan untuk yang tidak hadir ada tujuh orang
pemakai. Tiap topeng yang dikenakan berbeda tampilan dan warnanya; ada yang
putih, ungu, dan hitam. Aku sendiri mengenakan yang berwarna putih, untuk
tampilannya topeng ini tak meniru bentuk hewan seperti yang kebanyakan orang
pakai, hanya saja ada sedikit coretan-coretan yang menghiasinya.
“Ehem! Maaf kalau harus menganggu waktu
berlibur kalian, terdapat perubahan jadwal yang harus kami sampaikan”. Kepala
Akademi menjelaskan bahwa jadwal liburan yang seharusnya berakhir tiga hari
lagi, menjadi satu minggu lagi. Perubahan jadwal ini disebabkan oleh jumlah
murid yang mendaftar ke akademi membeludak. Beliau mengatakan kalau jumlah
pendaffar tahun ini bertambah sekitar 50% dari tahun lalu. Data tahun lalu
menunjukkan pendaftarnya berjumlah kurang lebih tiga ratus murid, padahal yang
diterima tiap tahunnya tidaklah berubah yakni seratus murid saja. Sedangkan
tahun ini akademi harus menghadapi empat ratus lima puluh pendaftar, tentu
jadwal yang sudah ditentukan jauh sebelum liburan semester menjadi berantakan
dan terpaksa harus memperpanjang waktu ujian masuk.
***
• 7 Telu 680 Danindra - Ruang Pengajar Akademi Aryasetya
“Pagi yang menyebalkan”. Apa yang baru saja
kuucapkan mewakili dua puluh pengajar yang hadir pada rapat darurat ini.
Kemarin, kami mendapatkan surat dari akademi untuk menghadiri pertemuan yang
katanya super duper genting, tapi apa yang terjadi sekarang....
Terpancar jelas wajah suram semua pengajar
baik yang muda maupun tua. Tak satu pun dari mereka yang rela datang kemari
jika bukan karena kata wajib yang diperbesar dan dipertebal penulisannya dalam
kalimat terakhir yang tertulis pada surat tersebut. "Kepala Akademi yang akan
secara langsung memimpin rapat hari ini". Begitulah kata Wakil Kepala
Akademi. Meskipun begitu, "Dimana Kepala Akademi sekarang!?"
Kesabaranku yang sudah diujung tombak memicu kalimat tersebut terlontar dari
mulut ini. Menurut jadwal yang tertera pada surat, rapat seharusnya dimulai
pada pukul sembilan pagi. Sekarang sudah pukul sepuluh dan Kepala Akademi tak
kunjung tiba. Tentu saja itu membuat Wakil Kepala sendiri juga harus menahan
amarah agar tidak memicu pengajar yang lain untuk pulang.
Kursi cokelat itu seharusnya sudah diduduki
oleh seseorang setidaknya sejam yang lalu, tapi sampai sekarang masih kosong
menunggu tuannya datang tuk menghangatkannya.
*Jeglek!
“Ternyata kalian semua sudah datang, ya”.
Tanpa rasa dosa sedikitpun ia membuka pintu dengan senyuman yang menaikkan
tensi darah seketika.
“Oi, Pak Tua... Apa kau tahu apa yang telah
kau perbuat?” Lava panas berusaha ke luar dari gunung yang sudah tak kuasa
menahan emosinya.
“Eh? Mengapa tatapan kalian begitu dingin
padaku?” Bahkan orang tua sekalipun paham dengan hawa nafsu ingin membunuh
seseorang ini.Dengan santainya ia duduk manis di kursi kebanggaannya tanpa
permisi pada kami yang telah lama menunggu kehadiran dirinya di ruang rapat.
Aku memintanya untuk melihat jam sebagai isyarat akan keterlambatannya yang
melebih batas normal. “Jam Sepuluh? Memang kenapa?”
Suara jarum jam sampai terdengar karena
kesunyian menakutkan yang datang tiba-tiba. Aku adalah orang pertama yang memicu
ujaran pembunuhan untuknya. “Adakah dari kalian yang ingin menonjoknya?” Salah
satu pengajar lelaki ikut serta mendukung pertanyaan sekaligus deklarasi
peperangan yang mungkin bisa menghancurkan akademi dalam kedipan mata. “Ah,
kalau begitu bagaimana kalau kita keroyok sekalian?” Jawaban pertanyaan yang
sungguh-sungguh cerdas. “Kita bakar saja mungkin lebih efisien”.
“Eh.. ehhhh??” Setelah pembantaian
dilakukan, rapat akhirnya dapat berjalan meski harus terlambat tiga puluh menit
setelah kedatangan Kepala Akademi ke ruangan.
***
Huh... Seperti yang sudah aku jelaskan tadi
kalau liburan ini akan berakhir tiga hari lagi, tapi bertambah menjadi seminggu
lagi. Bagi murid-murid ini merupakan kabar gembira yang datang dari langit,
tapi bagi kami segenap pengajar merupakan kabar terburuk yang tidak pernah
terjadi sepanjang aku mengajar di akademi. Jadwal barunya yaitu besok akan
dilakukan tes tulis. Tes tulis dibagi menjadi tiga gelombang, yaitu pagi,
siang, dan sore. Kemudian satu hari sisanya digunakan oleh pengajar untuk
mengoreksi dan menilai skor yang didapatkan oleh pendaftar sembari para pegawai
akademi mempersiapkan arena yang akan digunakan untuk ujian tahap kedua, yaitu
pertandingan. Hari ketiga adalah pertandingan satu lawan satu. Ujian tahap
kedua ini tidak akan dibagi menjadi beberapa gelombang seperti pada tahap
pertama, ujian akan dilakukan mulai fajar di langit timur sampai di langit
barat dengan satu kali istirahat siang. Kemudian sehari lagi untuk menentukan
skor yang diperoleh dari hasil bertanding. Terakhir pada hari kelima akan
diadakan tes wawancara secara personal yang dilakukan oleh tiga pengajar yang
dipimpin langsung oleh Kepala Akademi nantinya. Seperti sebelumnya, sehari
berikutnya digunakan untuk menilai pendaftar. Saat semua rangkaian tes telah
dilalui, hari ketujuh adalah hari penentuan dimana seratus nama peserta yang
lolos akan diumumkan melalui selembaran yang akan dipampang pada papan kayu di
halaman depan akademi. “Inilah yang terjadi kalau kuota pendaftar tidak
dibatasi”. Keluh salah seorang pengajar wanita.
Setelah Kepala Akademi selesai berpidato dan
mengumumkan rencana perubahan jadwal, murid-murid diperbolehkan untuk balik
kanan dan kembali ke rumah masing-masing untuk melanjutkan liburan mereka.
Sorak-sorai murid benar-benar sangat menjengkelkan sekali. “Ahh... Andaikan
saja aku yang menjadi murid”. Dengan begini pertemuan dadakan hari ini telah
usai. Murid-murid yang berhamburan terlihat seperti kerumunan semut yang telah
menghabiskan menu utama mereka. Tak ketinggalan pula pengajar akademi yang
dengan tubuh sedikit bungkuk dengan wajah kusam berjalan meninggalkan panggung.
“Hei, Nak Tama!” Kepala Akademi memanggilku. Aku tidak tahu ada perihal apa
yang ingin dia bahas denganku, aku tetap mengacuhkannya dan berjalan lurus
dengan tekad baja ingin segera keluar dari arena dan jalan-jalan di kota. “Tunggu
woi dasar bocah!” Nampaknya ia terpicu atas sikapku yang acuh.
“Aku ada kabar bagus untukmu”. Dengan senyum
licik penuh kelicikan yang selicik-liciknya licik, kalimat tersebut mampu
memberhentikan langkah bulat penuh semangat jiwa mudaku. “Jadi, apa kabar
bagusnya?” Dia berbisik padaku dan meminta agar merahasiakannya dari semuanya,
ini perlakuan khusus untukku. “Kau tak perlu datang saat ujian masuk nanti,
tugasmu akan digantikan oleh pengajar lain yang hadir saat itu. Aku yang akan bertanggungjawab
nantinya, oke!?” Aku tak tahu maksud dibalik ucapannya itu, tapi yang jelas aku
tahu dia pasti merencanakan sesuatu di belakangku hingga dia terkesan
menjauhkanku secara halus dari ujian masuk untuk murid baru yang akan dimulai
besok. Aku juga heran mengapa hal baik seperti ini tidak ia sampaikan seusai
rapat dadakan yang lalu, tapi itu semua sudah tak penting lagi bagiku, itu
sudah bukan urusanku lagi. Waktunya untuk bersenang-senang di liburanku yang
bertambah sampai satu minggu ke depan ini.
Bagian 3 – Penginapan
Bagian selatan jalan utama terdapat sebuah penginapan dengan tinggi
empat lantai. Ayahnya telah memesankan kamar untuknya jauh-jauh hari karena
dikhawatirkan akan penuh sebab besok akan diadakan ujian masuk akademi ternama
yang menjadi kebanggaan kota ini, bahkan raja pun pernah berkunjung ke akademi
tersebut. Laksha diturunkan tepat di depan penginapan berwarna cokelat
kehitaman yang melumuri dinding kayunya. Dibantu oleh Pak Kusir yang membawakan
dua tas bawaannya, mereka masuk ke dalam penginapan menuju tempat
resepsionis.
“Ada yang bisa dibantu nona?” Perempuan
dewasa yang terlihat masih muda tapi tidak seperti ibu-ibu berdiri di balik
meja menyambut mereka dengan hangat dan penuh senyuman. Bajunya simpel sekali,
hanya mengenakan baju berkerah lengan panjang dan rok sepanjang betis. “Kami
sudah memesan sebuah kamar beberapa hari yang lalu, bisakah anda mengantarkan
kami?” Wanita itu tak langsung mengiyakan permintaan Laksha yang begitu
mendadak barusan, tetapi bukan berarti permintaannya ditolak mentah-mentah
tanpa sebab. Setelah ia menanyakannya, wanita itu membalas dengan permintaan
juga. Ia meminta selembar nota yang telah diberikan oleh pihak penginapan jika
memang benar telah melakukan pemesanan.
“Eh? Nota? Nota apa?” Laksha yang sedang
kebingungan sama sekali tak memahami maksud dari perkataan wanita tersebut.
Ayahnya yang memerintahkan salah satu pelayan mereka untuk memesankannya dan
Laksha juga tidak diberitahu apapun mengenai notanya. Mungkinkah Joko lupa
memberikannya kepada Tuan Catura? Ataukah ayahnya yang lupa memberikannya pada
Laksha? Atau jangan-jangan mereka salah penginapan? Parahnya lagi, bagaimana
jika Joko ternyata tidak memesankan kamar di sana? Saat Laksha sibuk tercengang
dengan segala pertanyaan yang memenuhi kepalanya, tangan berbaju hitam
tiba-tiba menjulur dari samping kiri menuju meja resepsionis. “Ini Nyonya”.
Ketercengangan Laksha meningkat drastis,
tapi kekhawatirannya sedikit menurun bersamaan dengan emosi yang sedikit naik.
“Jadi... Kau yang bawa, ya. Pak Kusir!!? He...” Dengan menurunkan kelopak mata
ia mengatakannya dengan nada yang datar. 1001 dikurangi 1000 dia beralasan
kalau Tuan Cautra sendirilah yang telah memberikan nota tersebut padanya
setelah ia menaikkan tas-tas itu ke dalam kereta. Tentu saja Laksha tak
melihatnya karena ia sedang menginjakkan kakinya satu persatu ke dalam kereta,
sedangkan mereka berada di belakangnya waktu itu. Laksha dapat menduga kalau ayahnya
melakukannya karena ia menganggap kalau dirinya adalah seorang anak yang
teledor. “Bukankah begitu, Pak Ku-u-sir!!?” Merasa kepalanya sedang diincar
dengan tatapan es, ia justru membuang muka sambil bersiul tanda bahwa apa yang
Laksha pikirkan itu tidaklah salah. Ia merasa semakin kesal dibuatnya. Tak
berapa lama setelah wanita yang bertugas di bagian resepsionis itu melakukan
pengecekan nota, ia berkata kalau nota yang diberikan itu asli dan rupanya dia
sendiri yang bertanda tangan sebagai bentuk kesepakatan antara kedua belah
pihak. Setelah itu, dia keluar dari posisi awal berdirinya dan mengantarkan
mereka berdua ke tempat tujuan.
Penginapan itu berbentuk persegi panjang
dengan bagian tengahnya adalah halaman, bisa terlihat beberapa jemuran sedang
berkibar terkena angin siang. Posisi meja resepsionis tadi terletak tepat
beberapa meter setelah pintu masuk. Di sebelah kanan dan kiri pintu masuk digunakan
sebagai ruang tamu penginapan karena disediakan kursi panjang dengan
pengantinnya. Baik di sebelah kanan maupun kiri terdapat tangga yang
menghubungkan antara lantai dasar dengan tiga lantai di atasnya. Wanita
resepsionis itu mengantarkan mereka menuju anak tangga melalui jalur sebelah
kanan.
“Ada di lantai berapa kamarku?” Sembari
terus menginjakkan kaki ke lantai berbahan kayu, ia mengatakan kalau kamar
Laksha berada di lantai tiga. Syukurlah bukan yang teratas batinnya, karena
akan sangat melelahkan jika harus naik turun tangga sebanyak itu. Tangga
pertama yang terletak di pojokan ruang tamu selesai dinaiki, selanjutnya menuju
tangga kedua di lantai dua yang langsung terhubung dari lantai dasar menuju
lantai ketiga dan keempat. Seminggu Laksha akan sementara tinggal di sana,
meski begitu, dirinya merasa harus mengetahui jauh lebih banyak tentang rincian
mengenai penginapan itu. Sudah tugasnya sebagai pegawai di penginapan untuk
menjelaskannya sesuai dengan permintaan tamu. Dengan cepat menanggapi rasa
keingintahuan Laksha barusan, ia mengambil keputusan untuk mulai mendongeng.
Selain bentuk bangunan yang sudah diketahui, ia mengawali dongeng sejak awal
mula penginapan ini berdiri. Tak enak hati menyelanya, Laksha membiarkan wanita
resepsionis bercerita terus. Hitung-hitung sebagai penghilang rasa bosan selama
perjalanan singkat itu.
Terdapat tujuh puluh kamar yang disewakan
oleh sang pemilik dimana salah satunya nanti akan menjadi markas rahasia
Laksha.Wanita itu juga bercerita terkait dengan adanya ujian masuk akademi,
penginapan ini sudah penuh oleh para pendaftarnya. Ia turut lega karena Laksha
yang sudah memesan kamar jauh-jauh hari sebelumnya. Tuan Catura memilih
penginapan yang setidaknya cukup layak untuk ditinggali oleh kaum bangsawan
sepertinya. K-343 adalah kode kamarnya. Tertulis pada papan nomor yang ditempel
di atas pintu kamar. Menggunakan kunci dua gigi wanita itu membukakan pintu
untuk mereka. Menimbang harga sewa yang lumayan mahal, ruang yang akan ia
tempati juga cukup luas. Wanita itu mengatakan kalau ukuran ruangan ini 4×5
meter. Kamar ini difasilitasi sebuah almari dua pintu di bagian kanan kamar,
ranjang besar yang empuk di bagian kiri kamar, dan sepasang meja dan kursi di
samping ranjang menghadap ke jendela. Semua kamar memiliki fasilitas yang sama,
karena harga sewanya pun juga sama semua. Kamarnya terlihat bersih karena sudah
ada pelayan yang bertugas sesuai tugasnya. Itulah kamar Laksha. “Kalau begitu
Nona, ini kunci kamarnya. Apabila ada yang perlu ditanyakan atau meminta bantuan,
silahkan menuju bagian pelayanan yang ada di lantai dasar tadi. Saya mohon
undur diri”. Wanita itu kembali ke tempat kerjanya meninggalkan mereka berdua.
Pak Kusir yang dirasa kalau tugasnya telah
selesai mengarah ke jendela kamar dan membukanya. “Fiiuit” Ia bersiul ala
tentara yang memanggil burung pembawa pesan. Tiba-tiba seekor titisan malaikat
yang ada di bumi datang menghampiri. Tak disangka ternyata orang itu
benar-benar sedang memanggil burung merpati putih. Kepakan sayapnya mengejutkan
Laksha yang terlajur mendekat ke jendela. Ia terheran karena merpati itu tidak
datang dari langit, melainkan dari bumi. “Sejak kapan kau membawa merpati ini?”
Tanya Laksha penuh kebingungan. “Sejak awal, burung ini sudah berada di atas
kereta. Tentu saja anda tidak melihatnya”. Balasnya dengan wajah mengejek.
Burung itu bertengger di tangan kiri Pak Kusir yang sedang merogoh saku kanan
celananya. Darinya keluar secarik kertas putih dan menaruhnya ke dalam wadah
silinder kecil yang sudah terikat di kaki kiri merpati. Tak perlu ditanya pada
orang menyebalkan itu, pastilah dalam secarik kertas itu tertulis laporan kalau
Laksha sudah tiba di penginapan dengan selamat, atau ia yang telah
menyelesaikan tugasnya dengan lancar. Ketika pesan sudah terbawa, ia
menerbangkan merpati itu dan si burung terbang ke langit kemudian. Merasa
tugasnya telah usai, ia berpamitan pada Laksha dan segera pergi. “Tugas saya
sudah selesai, saya undur diri. Semoga anda diberi keberhasilan”. Laksha
menyaksikan kepergiannya dari pintu masuk penginapan. Keretanya memutar balik
menuju gerbang perbatasan. Perlahan menjauh hingga tak terlihat ekornya lagi.
“Huh... Sekarang enaknya ngapain? Tidur
atau... Jalan-jalan?” Itu adalah kesempatan besar baginya untuk bebas
berkeliaran di luar tanpa adanya Lise yang selalu mendampinginya kemanapun ia
pergi. Namun, saat kaki kanan dengan langkah tegap maju jalan, bayangan Pak
Kusir seketika menghantui pikirannya. “Jangan pergi jalan-jalan sendirian
memasuki pemukiman warga, karena di samping jalan sombong ini adalah labirin
kota yang akan menyesatkan pendatang baru”. Badai datang menerjang membuatnya
melakukan salah satu gerakan baris berbaris yang sangat disukai oleh siapa pun
itu, BALIK KANAN GRAK!!
“Kembali ke kamar saja kalau gitu terus
tidurrr....” Saat Laksha baru saja mendapat dua langkah berjalan kembali
sembari meregangkan kedua tangannya ke atas, seorang gadis yang sedikit lebih
pendek menabraknya. Sepertinya ia sedang tergesa-gesa... Bahkan Laksha yang
jelas-jelas berdiri di sana pun ia terobos begitu saja. Laksha terjatuh bukan
karena lemah, tapi ketidaksiapannya membuat dirinya terdorong ke belakang
dengan daging kenyal di bawah pinggul itu mencium lantai terlebih dahulu. Gadis
yang menabrak itu tentu saja masih tetap berdiri kokoh di hadapan Laksha. “Ma-maafkan
saya, maafkan saya, saya sung-sung-guh minta maaf!! A-apakah anda baik-baik
saja? A-a-pakah anda terluka?”
Bagi gadis kuat seperti Laksha yang setiap
malam berlatih secara diam-diam tidak akan mungkin terluka apalagi merasa
kesakitan jika hanya diseruduk oleh gadis yang tingginya bahkan lebih pendek
darinya. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Laksha dengan wajah yang setengah
tertutup tudung cokelat yang ia kenakan. “Tak perlu cemas. Aku baik-baik saja”.
Balasku padanya sambil memegang tangan kanannya. Dia berpamitan pada Laksha
setelahnya dan pergi meninggalkan penginapan menuju labirin kota yang
menyesatkan. Laksha mencoba kembali berjalan menuju kamar, tetapi kakinya
tersandung oleh sesuatu. “Eh?” Benda berbentuk setengah lingkaran tergeletak di
lantai. Warnanya sama dengan tudung yang gadis itu kenakan. Saat Laksha
mengambilnya, terdengar suara khas koin yang saling bertabrakan satu sama lain.
Tak perlu membukanya, ia tahu betul meski dilihat dari mana pun benda yang
terlantar ini adalah dompet. Tapi dompet milik siapa? “Ah!” Itu pasti milik
gadis bertudung itu. Kalau mau coba ditebak, pasti dompetnya terjatuh saat dia
menabrak Laksha dari belakang. Tidak salah lagi dompet itu pasti miliknya. “Humm!
Humm! Tidak salah lagi”. Meski sudah mengetahui kalau itu adalah miliknya,
terus apa? Gadis itu nampaknya sedang tergesa-gesa, bagaimana kalau ia pergi
keluar untuk membeli sesuatu? Sedang dompetnya sekarang ada pada genggaman
Laksha? Peduli sekali dengannya, Laksha putuskan untuk memberikannya pada....
JAM ISTIRAHAT.
“Hmmb... Hmmmmbb...Hmmmmmbbbb!!!”
Tanpa disadari matahari sudah berada pada
titik pertengahan bumi. Sudah sewajarnya kalau wanita itu pergi meninggalkan
mejanya untuk beristirahat. Waktunya makan siang, ya...Dengan penuh kesadaran
diri Laksha melakukan balik kanan lagi dan sekali lagi ia berdiri di depan
pintu masuk. Perkataan Pak Kusir terngiang kembali namun diacuhkannya.
Masa bodoh kalau pun ia tersesat, cukup bertanya saja pada masyarakat juga
selesai. Ngomong-ngomong, cepat juga gadis itu perginya, yang Laksha tahu tadi
dia berlari ke arah kiri. Sebelum melakukan langkah tegap maju jalan seperti
tadi, Laksha mengambil napas dalam-dalam dan meyakinkan diri kalau ia pasti
akan baik-baik saja. Tak terpikirkan sekalipun kalau besok adalah penentu masa
depan nantinya. “Yoshh... Maju Jalan!!”
Bagian 4 - Makan Siang
• 10 Telu 680 Danindra - Jalanan Kota Aryasetya
Lelaki yang sedang berjalan dengan perut lapar ini adalah aku. Begitu menyedihkannya
di tengah hari di bawah sengatan api dikelilingi orang-orang yang berlalulalang
di jalanan yang tidak terlalu lebar maupun sempit ini. Kalau aku mengukurnya
mungkin lebar jalan ini mencapai tujuh langkah kaki orang dewasa. Jauh lebih
kecil dibanding jalan utama yang selebar lima belas langkah. Aku masih
mengenakan seragam pengajar akademi karena baru saja pulang dari pertemuan yang
sangat menyebalkan itu, tapi mungkin itu tidak sepenuhnya benar, karena dengan
datangnya aku ke sana Pak Tua sialan itu memberikanku jatah libur yang lebih
panjang daripada pengajar yang lainnya. Kalau saat hari pelaksanaan mereka tahu
kalau aku mendapatkan tambahan hari libur, mungkin mereka akan mengobrak-abrik
ruang Kepala Akademi. Aku tak bisa menahan tawa jika itu sampai terjadi.
*Kruukkk~~
“Sial, aku sampai lupa kalau perutku
kehabisan bahan bakar”.
Lonceng telah berbunyi. Aku harus segera
mencari tempat yang cocok untuk mengisi perut. Seperti biasa, baik perkampungan
maupun pasar, jalanan yang terletak di sisi kanan dan kiri jalan utama memang
cukup menyesatkan. Tak jarang kujumpai anak kecil yang sedang berdiri sendirian
menangis meneriaki ibunya yang entah dimana. Tak jarang pula orang dewasa yang
baru kali pertama berkunjung ke kota ini sampai dipaksa bertanya ke sana kemari
hanya untuk menanyakan pertanyaan yang sama. “Dimanakah jalan utamanya?”
Di kota Aryasetya ini terdapat beberapa
pasar. Pertama ada yang namanya Pasar Kanan. Dinamakan begitu karena terletak
di bagian kanan jalan utama, kedua ada Pasar Kiri dengan alasan penamaan yang
sama, kemudian ada Pasar Pembuka yang ada di dekat gerbang masuk kota, dan
terakhir ada Pasar Pusat yang ada di dekat Istana Kota. Pasar Kanan dan Kiri
memiliki wilayah yang tak jauh sama luasnya, sedangkan Pasar Pembuka sedikit
lebih kecil dari keduanya, dan Pasar Pusat jauh lebih kecil lagi karena
dikhususkan untuk kaum elit yang ingin berbelanja tanpa harus dikerumuni oleh
rakyat jelata dan kumuhnya lokasi.Aku sekarang berada di Pasar Kiri, letaknya
sedikit jauh dari akademi. Berselancar di sini lebih baik daripada harus
berjalan lebih jauh lagi menuju Pasar Kanan. Kalau ditanya mengapa tidak ke
Pasar Pusat saja yang lokasinya lebih bersih dan sepi, aku akan menjawab kalau
aku bukanlah seorang bangsawan. Aku bukanlah seorang elit. Meski berbekal
seragam pengajar dari akademi kebanggaan kota sebenarnya bisa berbelanja atau
sekadar duduk menyesap teh di sana, tapi memang benar aku tetap tidak cocok
berada di sana jika digolongkan dalam strata elit.
Dari kejauhan, jauh dibelakangku ada
seeorang yang berlari dengan desahan napas menuju ke arahku. Berteriak
memanggil namaku. Pinggulnya bergoyang ke kanan dan ke kiri, dadanya ke atas
dan ke bawah. Ia memakai pakaian yang sama denganku. Perempuan itu bernama....
“Tamaaa! Tunggu aku!!”
Padahal aku sudah berhenti berjalan di saat
aku menyadari akan keberadaannya sebelumnya. Di hadapanku ia menundukkan
badannya dengan tangan memegangi masing-masing lututnya. Napas akan jauh
semakin berat saat seseorang berhenti bergerak setelah melakukan aktivitas yang
melelahkan.
“Vani, kau ini lama sekali”.Lavani Kaneishia
Trika, itulah nama perempuan yang sedang menggembungkan pipi tembemnya karena
merasa kesal. Memang sebuah fakta kalau diriku meninggalkannya sewaktu ia
berada di dalam toilet umum. Vani berkata akan sebentar saja, tapi ternyata itu
adalah dusta selain wanita akan segera selesai dalam bersemolek.
“Mau bagaimana lagi, aku ini 'kan perempuan!” Ujarnya saat menatap
wajahku penuh semangat.
“Memangnya ukuran kantung kemih perempuan
itu lebih besar daripada laki-laki?”
Tak bisa menjawab pertanyaanku, ia langsung mengalihkan pembicaraan
dengan mengatakan “Huwaahh!! Buah itu kelihatannya enak!”, “Whoaa!! Gelang itu
indah sekali!” Bagaimana aku harus menyebutnya... Perempuan bodoh? Bego? Atau
polos? Entah kata apa yang pantas disematkan padanya, yang jelas aku sendiri
masih bingung mengapa dia selalu mengikutiku selama ini.
***
• 20 Loro 677 Danindra - Kediaman Bangsawan Trika
Seminggu setelah insiden ***, aku memutuskan
untuk tinggal di sebuah penginapan di Kota Kuta. Siang menjadi malam, putih
menjadi hitam, cahaya menjadi bayang, tak tahu lagi betapa tidak bergunanya
diriku. Tak sanggup menghentikan tragedi "Obong Wengi", tak sanggup
menghentikan insiden ***, bahkan kumenelantarkan "Dia". Hidup sudah
tiada arti lagi bagiku. Mati adalah jalan terbaik untuk menebus dosa-dosa yang
t'lah kuperbuat.
Aku mengambil sebilah pisau dapur yang tajam. Kupegang erat tanpa
keraguan kala itu. Mengarah tepat pada titik dimana nadi bersemayam. Dalam
pemejaman mata kumengayunkannya.
*Tek!
“Apa kau tahu apa yang sedang kau lakukan
sekarang, Tama!?” Sebuah tangan tua menggenggam erat pergelangan tanganku
dimana ujung pisau sudah berhasil meneteskan setetes darah yang mengalir dari
lapisan daging. Begitu kuat ayunan tanganku, begitu kuat pula genggamannya.
Padahal tanganku jauh lebih muda darinya, tapi mengapa... “Kenapa kau
menghentikanku?”
“Bukan aku yang menghentikan tanganmu, tapi
kau sendiri yang berhenti setelah setetes darah mengucur”. Dengan nada datar ia
mengucapkannya
“Dasar pembohong! Aku sudah membulatkan
tekad untuk- “
“Menghentikan denyut jantungmu? Kalau begitu
jawab pertanyaanku. Kalau kau sudah membulatkan tekad, kalau memang bukan kau
sendiri yang berhenti menusuk lehermu, lalu mengapa tetesan kesengsaraan akan
kehidupan itu keluar seolah berteriak kalau "Aku masih ingin hidup"?”
“Jawab pertanyaanku! Tama!!!”
***
Bayangan malam itu terkadang datang untuk
meminta pertanggungjawaban atas keputusan yang aku buat. Setelah aksi bunuh
diriku gagal, ia memintaku untuk bekerja di sebuah akademi, Akademi Aryasetya
Kerajaan Ardiya Bagian Barat. Mungkin dia mengira kalau aku menjadi seorang
pengajar akan memperbaiki mental yang sudah jatuh di kedalaman laut yang tak
tergapai cahaya matahari dan bulan. Namun, nampaknya itu semua hanyalah
menguras deburan ombak di lautan.
Awalnya aku mengira jikalau berada di suatu
tempat yang tak satu pun mengenaliku, aku bisa sedikit bebas tanpa harus
menyembunyikan penderitaan hidup di balik tulang rusukku. Namun, lagi-lagi itu
hanyalah ekspektasiku. Pada kenyataannya, saat aku kali pertama datang ke
akademi dan masuk ke ruang pengajar, ada seorang perempuan yang sangat aku
kenal dengan baik melebihi yang lain. Vani... Dia ada di sana waktu itu dan
langsung memelukku saat aku baru saja membuka pintu. Mungkin pupus sudah
harapannya untuk memperbaikiku saat ia memperkerjakan sosok yang selalu
bersamaku semenjak aku masih berusia tujuh tahun. Jika memang dia ingin aku
memulai lembaran baru, seharusnya dia tak menjadikan Vani sebagai pengajar
juga, atau sebaliknya akulah yang seharusnya tidak berada di sana.Huh... Sudah
tiga tahun berlalu, tak ada yang berubah pada diriku. Masih tetap dalam keadaan
berdiri di tepi jurang tak berdasar.
*Kruukk~
Untuk kedua kalinya dan kuberharap untuk
terakhir kalinya pula perut ini mengeluh. Vani juga sudah berada di sampingku
sekarang, saatnya untuk mencari makan siang.
“Tama, kau mau makan apa?”Biasanya kalau di akademi saat jam makan siang
seperti ini, aku selalu makan bekal makan siang buatan Vani. Berhubung tadi
pagi kami bangun kesiangan, jadi Vani tidak sempat membuatkan bekal untuk kami
berdua. Yah, selain itu rencananya setelah pulang dari akademi kami langsung
pulang ke rumah, tapi karena mood-ku yang membaik karena berita bagus dari
Kepala Akademi, aku memutuskan untuk jalan-jalan di kota saja. Kupikir akan
pergi sendirian, tau-taunya Si Vani ikutan juga.
“Apa saja, lah. Asalkan enak dimakan”.Setelah
aku melontarkan kalimat sejuta umat, ia meletakkan jari telunjuk ke bibirnya
dan mulai menampakkan ekspresi sedang berpikir. “Kalau begitu... Ke sini!” Tanpa
aba-aba tangan kananku ditarik olehnya dan kakiku dipaksa untuk berlari
mengikuti dari belakang. Aku tidak tahu mengapa, dia terlihat senang hari ini.
Padahal aku sudah meninggalkannya tadi.
Jalan yang berliku, dinding bata dan kayu
menjulang, orang-orang yang berlalulalang sedang meramaikan Pasar Kanan. Kami
sudah tinggal di kota ini selama tiga tahun, itu membuat Vani hapal betul jalan
penuh kesesatan di kota ini. “Huh... Aku benci harus mengatakannya,
tapi... ini tidak buruk juga”.Sambil berlari ia menoleh ke belakang "Hmm?
Apa kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak, hanya perasaanmu saja”.
Sedikit berkeringat mungkin
bisa membuat makanan dan minuman terasa lebih menggoda lagi. Setidaknya aku
mencoba untuk berpikir positif padanya. Selama tiga belas tahun aku bersamanya.
Aku merasa dia adalah cahaya yang mengarahkan kemana bayangku harus berjalan.
Itulah yang kurasakan.Tak lama kemudian kami sampai di tempat tujuan. Tempat
untuk makan yang aku inginkan dan ia pilihkan. Sebuah rumah makan kecil yang
berada di sudut pasar. Daripada kusebut rumah makan, mungkin lebih pantas jika
hanya disebut sebagai kedai. Berbeda dengan rumah makan lainnya yang tempatnya
luas dan banyak pelanggan, di kedai ini hanya terdapat beberapa kursi dan meja
yang diletakkan di pinggiran jalan.
“Permisi”
Di bagian depan atas kedai
terdapat spanduk bertuliskan kedai mie. Aku bingung mengapa ia membawaku ke
tempat seperti ini. Bukannya aku tidak suka dengan tempatnya, melainkan mengapa
siang bolong begini harus makan mie yang cenderung panas? Seharusnya ia tahu
kalau lidahku ini adalah lidah kucing. Baru saja aku merasa tersanjung padanya,
tapi sekarang... “Tama? Duduklah di sana, aku yang akan memesan”. Vani
menghampiri pemilik kedai yang sedang duduk melihat kedatangan kami berdua.
Pria berjenggot pendek itu menyambut kedatangan kami dengan mengucap “Selamat
datang, mau pesan apa, Nona?”
Tanpa keraguan dalam dirinya,
Vani memesan dua mangkok mie kuah spesial. Aku tidak melihat Vani membaca menu
makanan yang ada, tapi dia begitu percaya diri saat memesan. Apa mungkin dia sudah
pernah makan di kedai ini? Kalau dipikir-pikir lagi, jika dia tidak pernah
datang ke sini, sangatlah mustahil baginya untuk menyeretku kemari.Pria itu
mulai bekerja setelah mendapat pesanan. Vani kemudian duduk di depan berhadapan
denganku. “Hei, Tama. Bukankah ini mirip dengan kencan?” Dengan senyuman
mematikan dia melontarkan pertanyaan yang sangat tidak masuk akal bagiku.
“Kencan? Kita hanya makan
berdua seperti biasanya, hanya saja tidak di rumah”.
“Maka dari itulah, bukankah
makan berdua di luar terlihat seperti kencan?” Ia semakin melebarkan
senyumannya.
Kalau aku mengatakan hal yang
negatif, mungkin aku akan membuatnya sedih dan parahnya dia akan marah. Akan
jauh lebih parah lagi kalau dia enggan untuk membuat makan malam nantinya.
Berhubung mood-ku sedang dalam kondisi baik dan nampaknya dia merasa
senang hari ini, aku akan mengiyakan saja semua ucapan yang keluar dari
mulutnya.Selama menunggu pemilik kedai meracik anak-anaknya, Vani membetulkan
poninya terus menerus. Menurutku sudah tidak ada yang aneh dari poni yang
disisir ke kiri itu, tapi ia seperti khawatir kalau poninya berantakan. Rambut
bagian kanannya ditarik lurus ke belakang berpangku pada bahu kiri. Sedikit
bergelombang di ujung, tapi terlihat anggun dengan warna pirangnya.
“Maaf sudah menunggu lama”.
Tiba juga penghasil energi
tenaga dalam kami. Semangkuk mie yang ditujukan untukku mengeluarkan aroma yang
menyengat, sampai-sampai liur mengalir dari mulut. Jika dilihat dari luar, mie
yang disajikan nampak tidak ada bedanya dengan yang dijual oleh rumah makan
lainnya. Lantas mengapa Vani membawaku ke sini hanya untuk memakan mie membuatku
penasaran.
“Silahkan dinikmati”. Pria
itu kembali ke pangkalannya dengan nampan kosong. Dia sukses menyajikan
hidangannya dengan baik. Mungkinkah dia bersikap sempurna seperti itu karena
dia tahu kalau kami adalah pengajar dari akademi? Lagipula mana mungkin kedai
butut di pojokan pasar memiliki orang baik dan sopan seperti pria itu. Aku
sangat meragukan sikapnya pada kami. Aku melepaskan topeng yang aku kenakan
setiap keluar rumah. Topeng putih yang selalu menemaniku selama tiga tahun
belakangan ini.
“Yah, selamat makan”.
Kepulan uap panas melayang
dari mangkuk. Lidah kucing ini tentunya tidaklah sanggup jika harus melahapnya
mentah-mentah tanpa ditiup terlebih dulu.
*Sllrrrpp!
“Enak! Enak sekali!”
Aku tidak menyangka,
bagaimana mungkin mie yang dibuat dan dijual di pinggiran pasar bisa selezat
ini. Pantas sekali Vani mengajak makan di kedai ini. Rasa kepedulianku atas
makan siang yang berupa mie langsung lenyap tertelan bersamaan dengan kuah yang
sedikit asin memenuhi mulutku. Nafsu makanku semakin bertambah saat
berulangkali sendok berisi mie kutelan.
Duduk di seberangku, Vani
tidak segera memakan hidangannya. Ia menatapku dengan wajah yang menghangatkan
sejak aku berkata “enak” tadi. Perasaan malu menyerang diriku yang sempat
berpikiran buruk tentang memakan mie di bawah terik panas ini. Aku hanya bisa
tersipu malu dengan menundukkan kepalaku dan melanjutkan meniup sesendok mie. “Karena
aku sudah merasa puas dengan melihat wajahmu yang memerah, aku akan mulai makan
sekarang”. Begitulah ucapnya dengan tersenyum seperti seorang ibu yang puas
melihat anaknya senang dengan masakannya.
Aku melanjutkan makanku
dengan tenang sekarang. Giliran dia yang merasa kegirangan karena telah
menyantap hidangan yang luar biasa lezatnya. Sedikit sekali orang di sekitar sini,
mungkin karena letaknya yang dipojokan. Itu membuat kami bisa makan dengan
tenang.
“Hei, Tama, apa kau mau
kapan-kapan aku buatkan mie seperti ini untukmu?” Pertanyaan tak masuk akal
lagi-lagi menyudutkanku. “Terserah kau saja”.
“Uhm!! Kalau begitu aku akan buatkan
untukmu di lain waktu”.
Demi Dewi Kecantikan, mengapa
kau menciptakan wanita sepertinya? Dari tadi dia terus menerus melayangkan
senyuman itu padaku. Memang bukan kali ini saja, bahkan setiap hari, setiap
waktu dia selalu tersenyum seperti itu. Baik saat berjumpa orang tak dikenal,
orang lain yang dikenalnya, dan terlebih padaku. Sudah sangat lama kami
bersama, seharusnya aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Tak tahu mengapa
khusus hari ini serasa ada yang berbeda dari biasanya.Dengan begini, kami
menikmati makan siang bersama, berdua, beratapkan langit yang sedikit berawan
memayungi kami, dan sepatah kata tak sengaja terucap dari mulutku.
“Terimakasih”
Tapi tak lama kemudian....
“Tama... Tadi sebelum kau ke
keluar dari lapangan, kau sempat berbicara sebentar 'kan dengan Paman!? Apa yang
kalian bicarakan?”
Sudah kuduga cepat atau
lambat ia bakal membahas hal tersebut. Apa jangan-jangan dia sudah tahu sejak
awal tentang pembicaraan kami? Mungkinkah dia dari tadi senyam senyum karena
ingin aku mengungkapkan rahasia terbesarku tahun ini? Itu tidak mungkin! Itu
tidak mungkin! Tapi... Meski penampilan Vani kadang terlihat seperti wanita
polos yang tak tahu apa-apa, bukan berarti aku melupakan sisi Vani yang
satunya, bukan?
“Ahaha... Ti-tidak ada
apa-apa, Kepala Akademi hanya sedikit mengkhawatirkanku karena... Kau tahu
'kan, tadi badanku terasa lemas karena hanya sarapan selapis roti dengan telur
saja? Hump hump ia hanya mencemaskanku saja”.
“Ne~ Tama... Apa kau ingin
tidak ada makan malam untukmu?” Tatapan senyum yang hangat berubah menjadi
senyuman yang menusuk.Sepertinya dia tahu kalau aku menyembunyikan sesuatu.
Gawat, jika aku terus mengelak, maka jatah makan malamku...
“Ya, aku menyembunyikan
sesuatu darimu...”
“Hee… Apa itu? Coba katakan
pada kakakmu ini”. Senyum yang menudutkan itu semakin mendekat ke wajahku.
Kasih tau gak, ya... Kasih
tau gak, ya... Tapi makan malamku jadi taruhannya! Tiada rasa sakit yang lebih
menyakitkan daripada tidak menyantap makanan buatannya! Eh... Hmm...!!!
“Hah... Kepala Akademi
memintaku untuk tidak hadir selama ujian masuk murid baru besok”. Aku harap dia
puas dengan jawabanku ini. Sejujurnya, aku sendiri juga tidak tahu alasan
mengapa ia memintaku begitu.
“Ehh... Jadi begitu...”
“Kalau begitu, mulai besok
selama satu minggu ke depan kau yang harus membuat sarapan dan bekal untukku,
ya!”
*Hah ???
"Hah? Apanya? Kau
sendiri 'kan yang bilang kalau selama seminggu ke depan kau akan menganggur di
rumah!? Aku besok harus berangkat pagi, kau tahu! Aku jelas tidak akan sempat
untuk membuat sarapan dan membuat bekal. Lagian bla bla bla...” Inilah sisi
Vani satunya yang kumaksud tadi. Terkadang dia seperti gadis remaja usia
belasan tahun, terkadang ia seperti wanita dua puluhan, dan terkadang ia
seperti ibu-ibu yang cerewetnya minta ampun. Padahal ibunya tidak seperti dia,
lantas putri siapa Si Vani ini?
Huh.... “Baiklah, aku
mengerti. Aku yang akan melakukannya mulai besok. Tapi ingat, ya hanya selama
satu minggu saja!”
“Uhm!! Satu minggu saja itu
sudah cukup untuk meringankan pekerjaan rumahku. Terimakasih!” Sifatnya yang
bisa berubah 180° ini terkadang membuatku merinding, aku merasa seperti berada
di genggaman seekor singa betina saja.
Menatap ke langit putih, aku melepaskan
semua rasa penatku. “Kuatkanlah diriku” adalah doa yang kutujukan entah pada
siapa. Aku pun melanjutkan makanku yang tidak nyaman sesaat karena ulah Vani
barusan.
Bagian 5 -
Penguntit dan Pencuri
Berlari mengejar gadis itu adalah tujuan Laksha.
Tidaklah lama aku berada di jalan utama karena langsung berbelok menuju
perkampungan. Aku benar-benar tidak tahu kemana tujuan gadis itu dan dimana ia
sekarang. Laksha hanya bisa terus mencarinya. Jalanan yang ia lewati tergolong
sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang lewat dan salah seorang pengrajin
sedang mengukir seni di kursi yang ada di depannya. Laksha melihat sekeliling
berupa bangunan dengan tiga sampai empat lantai. Benar apa yang dikatakan oleh
Pak Kusir itu.Laksha menyempatkan diri untuk berhenti dan bertanya kepada orang
yang sedang melintas apakah mereka melihat sosok gadis dengan ciri-ciri
mengenakan tudung berwarna cokelat, tinggi badannya sebahunya. Namun, nampaknya
tak satupun dari mereka yang melihatnya. Silih kaki berganti ia mulai menyerah,
pikiran pesimis mulai memasuki kepala. Tidak mungkin baginya bisa menemukan
gadis itu di tempat yang seperti ini. Selain itu, Laksha sendiri juga tidak
mengenali wajahnya apalagi namanya. Sungguh merepotkan. Itu semua gegara Si
Wanita Resepsionis yang sedang tidak berada di meja kerjanya saat dirinya
sedang membutuhkannya.
Terus masuk jauh lebih dalam
ke perkampungan, nyatanya Laksha malah menjumpai keramaian yang tak seharusnya
ada di dalam perkampungan. Ada banyak kios-kios, toko, dan orang-orang yang
berteriak menyebut suatu benda beserta harganya.“Ini, 'kan... Pasar?”Laksha
terkejut mendapati adanya sebuah pasar yang ada di dalam sebuah perkampungan.
Kalau di pinggiran jalan utama mungkin masih bisa dimengerti. Keterjutannya
yang masih belum selesai membuat rasa penasaran itu justru semakin bertambah.
Layaknya siput berlari, ia mulai ikut melebur dalam padatnya keramaian. Padahal
hari sudah siang, tapi pasar itu masih saja ramai akan pembeli.
“Sate sate~”
“Tahu bulat, digoreng, dibuat, satu koin perunggu dapat lima, ueennaak”.
“Tahu bulat, digoreng, dibuat, satu koin perunggu dapat lima, ueennaak”.
“Yang golok yang golok yang
golok”.
Terdengar gelombang suara
yang tertangkap oleh daun telinga dikirim menuju gendang telinga. Suara para
pedagang sedang menjajakan barang dagangannya. Kiri-kanan dilihatnya saja,
orang-orang berkerumun di depan kios-kios. Ada yang memang sudah berencana
untuk membeli sesuatu, ada yang awalnya hanya melihat-lihat berujung pada
transaksi, dan ada juga yang hanya berkunjung lantas pergi begitu saja.
Pandangannya terpaku pada mereka. “Aa!! Aku hampir lupa dengan tujuanku”.
Laksha mempercepat langkahnya mencari Gadis Bertudung yang hilang. Sampai
akhirnya ia menjumpai gadis bertudung sedang berjalan tidak jauh darinya. Tentu
saja Laksha langsung berlari menghampirinya. Laksha pun memanggilnya“Hei, Gadis
Bertudung!”, ia pun berhenti dan menoleh ke belakang saat Laksha mendekat ke
arahnya.
“Ya?”
*Eh?
Saat berpikir sudah
menemukannya, ternyata itu salah besar. Gadis yang barusan dipanggil dan
sekarang ada dihadapannya bukanlah gadis yang dia cari. “Maaf, saya salah
orang”. Malu rasanya, ia tak pernah mengalami kejadian seperti itu
sebelumnya.Mondar-mandir bolak-balik timur ke barat telah dilakukan, tapi gadis
itu tak kunjung ditemukan. “Oh, Dewa... Inikah cobaan?”
“Permisi, Nona”.
Suara yang tak dikenal seperti
berusaha memanggil Laksha dari belakang, sontak ia berbalik untuk menjawab
panggilannya. “Whoaa!! Ketemuu!” Sosok gadis bertudung cokelat sedang berdiri
dengan menundukkan pandangannya.
Mendengar jeritan Laksha ia
mencondongkan badannya ke belakang, memundurkan kaki kanannya dan kedua tangannya
yang mengepal di dada pertanda ia sedang ketakutan. Tubuh Laksha yang lebih
tinggi dan jeritan kerasnya jelas akan membuat dia takut atau setidaknya
terkejut. Laksha bertanya padanya secara langsung untuk memastikan apakah dia
adalah orang yang menabraknya di penginapan atau tidak. Suaranya tidaklah
keluar dari mulutnya, sebagai gantinya anggukan kepala ia lakukan untuk sinyal
"Iya".
Melanjutkan dari pertanyaan sebelumnya,
Laksha bertanya lagi bagaimana gadis itu bisa menemukan dirinya. Wajar saja ia
menanyakannya, Laksha yang sejak tadi mencarinya justru nihil hasilnya. “Sa-saya
barusan me-melihat anda berjalan ke arah sini”.Suaranya begitu pelan sampai
Laksha tak mengerti apa yang ia ucapkan. Masih dalam interogasi, Laksha
memintanya untuk mempertegas ucapannya itu. Laksha tidak peduli gadis itu takut
atau malu atau bagaimana, yang jelas ia merasa kesal atas kegagalannya itu.
“Maafkan sa-saya karena telah
me-meng-ngikuti anda sejak dari penginapan!”
*Eh ?
“Tunggu dulu! Apa maksudmu
mengikutiku sejak dari penginapan?”
“Seper-perti yang sudah saya
katakan”.
"Eh, eh, heeeeeeee??!”
Mendengar jawaban tak terduga
darinya, Laksha justru semakin dibuat bingung dan kesal. Sejak awal dia
dibelakang membuntuti Laksha. Lantas untuk apa Laksha ke sana kemari mencari
orang yang sebenarnya ada di belakangnya? Laksha tidak bisa menahan gejolak
emosi yang mendidih di kepalanya. “Kalau memang kau membuntutiku, kenapa kau
tidak segera memanggilku dari tadi?” Rasa ketidakpuasan itu masih berlanjut.
Ternyata gadis itu menyadari
dompetnya telah terjatuh, maka dari itu ia berpikiran untuk segera kembali ke
penginapan. Saat itulah ia melihat Laksha yang sedang memegang dompetnya,
karena tidak berani menemuinya gadis itu hanya bersembunyi dibalik gundukan
tong yang berada di sisi kiri jalan utama. Dari sana ia mengamati Laksha.
Melihat Laksha yang mendadak berlari menuju ke arahnya, ia justru semakin
membungkukkan bandannya agar tidak terlihat oleh Laksha yang sedang lewat. Ia
yang membutuhkan dompetnya memutuskan untuk membuntuti Laksha diam-diam.
Ia sempat berpikiran jika Laksha
menggunakan uangnya untuk membeli sesuatu, maka ia berencana akan meneriakinya
pencuri. Laksha tak habis pikir dengan apa yang ada di kepala gadis itu. Tentu
saja pemikiran seperti itu justru sangat berbahaya dan akan sangat merugikan
orang lain. Inilah alasan mengapa Laksha sangat tidak menyukai orang pemalu
yang tak bisa apalagi tidak mau mengeluarkan suaranya. Berurusan dengan orang
seperti Gadis Bertudung memang sangat merepotkan. Laksha berharap tidak akan
pernah berurusan dengannya lagi di lain waktu.
“Anuu... Bisakah anda se-segera-a
menge-em-balikan dompetku?”
Gadis itu sungguh sungguh sungguh
menyebalkan. Laksha bersegera mengembalikannya daripada harus berlama-lama
berurusan dengannya. “Ini ambil saja, jangan pernah muncul di hadapanku lagi”. Gadis
itu menjulurkan tangan kanannya untuk mengambilnya dari Laksha dan...
*Srek!!
Dengan cepat dompet yang baru
saja ada pada tangan kanan Laksha raib begitu saja tanpa ia sempat melihatnya.
Wajah mereka berdua terlihat kebingungan, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Satu kata yang ingin gadis itu ucapkan padanya tapi tak kesampaian,
“Ja-Jambreeeeet!!!”
Laksha tidak menduga kalau
istilah yang lebih kasar dari kata pencuri bisa keluar dari mulutnya yang sejak
tadi serasa enggan untuk bersuara. Dia rupanya tanpa rasa takut berlari untuk
mengejarnya, tapi beberapa detik kemudian langkahnya terhenti. Berbalik menatap
Laksha ”Apa kau tidak ingin mengejarnya?”
*Ha!?
Dengan nada sedikit takut ia
menanyakan hal bodoh itu pada Laksha. Untuk apa Laksha harus mengejarnya,
pikirku. Laksha sama sekali tidak ada urusan dengan pencuri itu. Lagipula, yang
dicuri itu adalah dompetnya dan bukan dompet Laksha. Dia sudah dibuat kesal
oleh gadis itu sejak tadi, mana mungkin Laksha masih harus memperlelah tubuhnya
dengan menjadi sukarelawan untuknya.
“A-apa yang anda ka-katakan?
Apa a-anda tidak mera-rasa kehilangan ses-susuatu?”
*Eh ?
Merespon ucapan gadis itu
Laksha merogoh-rogoh saku. “Hilang… Dompetku hilaaaang!!” Tanpa disadari
pencuri itu juga ikut mengambil sumber makanannya. Aura akan kemarahan
mengelilingi tubuhnya.
“Awas kau pencuri sialaan!!”
Tak perlu basa-basi lagi,
dengan segera Laksha berlari sekuat tenaga mengejar pencuri yang sudah tidak
sayang akan nyawanya sendiri. Ia sudah salah dalam memilih korbannya. Orang itu
pasti tidak akan dihabisi dan tidak diberi ampun oleh Laksha
“Tu-tunggu saya!”
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar