BAB III - Penentuan
Bagian 1
Kedok
• 11 Telu 680 Danindra - Penginapan
Pagi-pagi sekali sudah terdengar suara berisik
dari luar kamar. Biang keladinya adalah Si Wanita Resepsionis yang berkeliling
sembari mendentumkan lonceng mengitari penginapan. Tak ayal boneka yang masih
mendapatkan sedikit kesadaran terbangun dan berjalan ke luar kamar menuju kamar
mandi. Begitu pula Laksha yang terbangun mengharuskan baginya untuk segera
menampakkan batang hidungnya atau wanita itu akan memarahinya.
“Ngga di rumah ngga di
penginapan sama saja! Selalu saja ada orang yang mengganggu tidurku. Selain itu
aku ini masih lelah karena kejadian kemarin”.
Piyama biru yang ia kenakan
saat tidur sama dengan warna langit siang. Ia bersandar pada pagar kayu
setinggi satu meter yang berada di depan kamarnya, hanya berdiam memandangi
penghuni kamar lain yang berjalan dengan mata setengah-setengah. Tak ada
bedanya dengan kejadian semalam saat harus mengantri untuk mendapatkan jatah
makan malam. Laksha lagi-lagi menunggu agar yang lain selesai terlebih dahulu
agar ia bisa menyegarkan diri dengan nyaman dan tenang tanpa terburu-buru.
Kamar mandi yang dimaksud di sini adalah kamar mandi umum, maka dari itu
letaknya tidak berada di dalam kamar. Daripada kamar mandi mungkin lebih pantas
disebut dengan pemandian umum. Terdapat kolam besar di dalamnya dan sebelum
masuk ke dalam kolam tersebut diharuskan bagi sesiapa saja untuk membersihkan
badannya terlebih dahulu. Jadi kurang lebih fungsi dari kolam tersebut hanya untuk
relaksasi saja karena menggunakan air hangat. Tidak diwajibkan untuk berendam
di kolam setelah membersihkan diri, bagi mereka yang sudah selesai mandi ada
juga yang langsung berganti pakaian dan tidak ikut berendam. Laksha masuk dalam
kategori yang langsung berganti pakaian setelah mandi, ia merasa kurang puas
apabila di pagi hari yang segar malah menghangat badan yang justru akan
melemaskan tubuh dan mengurangi semangat pagi.
Saat Laksha memutuskan untuk
pergi ke kamar mandi, ia mendapati berbagai bentuk tubuh yang berbeda. Ada yang
bertubuh ramping dan ada juga yang tubuhnya berotot, meski tidak sampai
bertubuh kekar. Seperti yang sudah diketahui bahwasannya kamar mandi ialah
tempatnya bagi orang membuka segala hal yang tidak pernah diperlihatkan kepada
orang lain. Beberapa dari mereka ada yang sudah akrab karena sepertinya sudah
saling kenal sejak lama dan ada juga yang baru bertemu di penginapan sudah
saling cakap satu sama lain dengan membentuk sebuah kelompok sendiri. Mereka
terlihat santai sekali saat berendam di kolam, tak Nampak wajah ketegangan di
antara mereka. Padahal mereka semua akan saling menjadi musuh saat seleksi
nanti. Ia meragukan kalau keakraban ini akan berakhir nanti sore setelah
seleksi tahap pertama selesai, terlebih saat tahap kedua tengah berlangsung.
“Hei hei, bagaimana menurut
kalian soal mereka yang bertarung semalam?” Salah satu gadis yang sedang
berendam bertanya pada kelompok percakapan.
“Ahh itu ya, menurutku mereka
tidaklah sebanding denganku, kecuali si gadis bertopeng yang menyerang
sendirian”. Balas gadis di sampingnya.
Mereka berlima nampaknya
sedang asyik menggunjingkan mereka yang bertarung semalam. Siapa lagi kalau
bukan Laksha, Si Lakon, dan dua bawahannya nona bangsawan. Setelah kalimat
pembuka tersebut, percakapan terus dilanjutkan. Laksha yang sedang duduk
menyirami tubuhnya diam-diam tanpa disengaja mendengarkan perbincangan mereka.
Gadis lainnya menambahkan kalau hanya satu lawan satu rasanya terbilang sangat
mudah untuk mengalahkan duo cecunguk milik nona bangsawan. Tetapi, mereka semua
satu suara jika membicarakan soal Lakon misterius yang berhasil mengalahakannya
sendirian tanpa bantuan dari Laksha. Salah satu dari mereka ada yang berharap
bisa bertanding melawan Si Lakon saat seleksi tahap kedua nantinya. Dengan
santai Laksha mengguyur badannya, ia dibuat sedikit terkejut mendengar
percakapan yang menjurus padanya dibahas.
“Lalu bagaimana dengan Lakon
satunya?”
“Aa, maksudmu yang kawan
setim yang hanya berdiam diri kemarin?”
“Betul betul, dia!”
“Entahlah, tapi yang perlu
diingat adalah dia juga seorang Lakon, meski tidak ikut andil semalam, kita
jangan sampai meremehkannya juga. Siapa yang meremehkan lawannya, dia yang kalah”.
Tak sadar dengan kalimat
terakhir yang baru saja ia ucapkan, tindakan mereka dari tadi yang berulangkali
meremehkan bawahan si nona bangsawan apakah tidak terhitung juga? Bisa ditebak
mereka berlima tidak akan lulus seleksi jika nasib yang menimpa mereka sama
dengan kalimat yang barusan salah satu dari mereka ucapkan. Setelah
perbincangan sampah selesai, Laksha pun juga ikut mengakhiri acara mandinya
saat itu juga. Segera memakai piyama birunya lagi dan kembali ke kamar
untuk berganti pakaian dan bersiap untuk sarapan di ruang makan nanti.
“Kenapa semua bangsawan itu
bodoh?” Laksha bergumam saat pulang ke kamarnya.
Tak ada yang perlu dirisaukan
menghadapi orang seperti mereka, cukup dengan menunjukkan kekuatanmu maka
mereka akan terdiam. Semua seperti itu, kecuali orang-orang yang keras kepala
dan tidak sadar diri.
“Sarapannya sudah siap sarapannya
sudah siap” Panggilan alam telah tiba.
Penghuni kamar
berbondong-bondong melakukan hal yang sama dengan semalam. Berpikir tidak akan
kehabisan makanan ternyata itu pikiran yang bodoh. Akan tetapi, disaat yang
lain turun ke lantai dasar, Laksha masih berada di dalam kamar. Ia disibukkan
dengan masalah pakaiannya yang kotor. Seragam putih-putih yang telah dibuat
susah payah oleh Lise sebenarnya digunakan untuk hari ini, tapi karena Laksha
yang tidak sabaran untuk mengenakannya kemarin justru berakhir seperti ini.
Lusuh dan berdebu adalah nasib seragamnya saat ini. Seragam yang ia bawa ada
tiga untuk dikenakan saat masa ujian, yang pertama adalah seragam putih-putih
untuk ujian tahap pertama yang berupa ujian tulis, kedua adalah hitam-hitam
untuk seleksi tahap kedua berupa duel satu lawan satu, dan terakhir pakaian ala
putri bangsawan beserta identitasnya untuk ujian tahap ketiga berupa tes
wawancara.
“Bagaimana ini? Apa aku harus
memakai seragam hitam-hitam atau yang pakaian bangsawan?
Menilai dari sifat ujian
tahap pertama yang berupa ujian tulis saja, akhirnya Laksha memutuskan untuk
memakai seragam putih-putih kemarin meski sedikit kotor dan bau keringat. Untuk
mengatasinya, ia menyemprotkan pewangi yang lebih banyak dari biasanya dan
ditambah memakai jubah untuk menutupi seragam kotornya. Meski ia ragu apakah
dengan memakai jubah panjangnya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian atau
tidak, tapi mungkin asalkan tetap memakai seragam akademi (Akademi Dasar) itu
bukanlah suatu masalah. Daripada memakai seragam hitam-hitam yang dibuat untuk
berlatih atau bertarung, apalagi mengenakan pakaian non lembaga.
Setelah masalah soal seragam
selesai, ia keluar dari kamar dan bergegas menuju ruang makan. Memang benar
kalau seleksinya dibagi menjadi beberapa gelombang, tapi kalau soal perut Tak
satupun orang yang akan menduakannya atau mendahulukan mereka yang mendapatkan
jadwal tes gelombang pertama yang akan dimulai pagi ini. Tak ingin mengulangi
kesalah yang sama untuk kedua kalinya, Laksha ikut terjun dalam kerumunan semut
yang sedang mengantri gilirannya mengangkut gula.
Satu persatu orang yang
berada di urutan depan mulai berbalik membawa sepiring nasi dan menuju meja
makan. Laksha yang masih berdiri di sana menunggu dengan rasa bosan, lapar, dan
cemas. Cemas bagaimana kalau orang-orang di sampingnya mencium bau tak sedap
darinya. Tatapan risih mulai dirasakannya, tapi tak satupun yang berusaha untuk
menutupi hidung mereka, itu menandakan kalau mereka menatap Laksha dengan
persoalan yang berbeda. Tak disadari olehnya, telah berdiri seseorang yang
menggunakan penutup wajah di samping kirinya memanggil “Hei, kau”.
*Eh?
Sosok yang sama dengan orang
yang tiba-tiba membantu Laksha untuk mengalahkan dua bawahan Si Nona bangsawan
semalam. Ia tampil dengan pakaian biasa, gelombang pertama bukanlah jatahnya
untuk terjun ke medan pertempuran. Laksha hanya memandanginya tanpa menjawab
sapaannya barusan.
“Hei, apa kau tunawicara?” Ia
berusaha membuka pembicaraan.
Laksha yang awalnya diam saja
tak mau terlibat dengan masalah lagi pun menyerah dan membalas pertanyaan buruk
itu “Ada perlu apa?”
“Kenapa semalam kau tidak
ikut menyerang juga?”
Sudah jelas apa alasan Laksha
memutuskan untuk tidak ikut bagian dalam penyerangan, itu semua karena gadis
tersebut mengacuhkan Laksha yang ingin membahas perihal strategi untuk melakukan
penyerangan. Bahkan untuk memutuskan siapa melawan siapa saja ia
mengabaikannya. Tentu itu membuat Laksha kesal dan memasrahkan semuanya kepada
gadis Lakon tersebut seorang diri. Gadis di sebelahnya itu nampaknya tak
mengerti akan hal tersebut. Jadi, Laksha tetap berfokus pada antriannya dengan
harapan Si Gadis Lakon menyadari akan kesalahan yang telah ia perbuat.
Detik demi detik terus
berjalan sampai giliran Laksha mendapatkan jatah makanan. Gadis tersebut masih
saja menatapi Laksha dan mengikutinya sampai ia duduk di meja yang sama saling
berhadap-hadapan. Berulangkali ia memanggil dengan kata "Hei",
"Kau", bahkan "Lakon" tapi tetap tak dihiraukan oleh
Laksha. Makan adalah sebuah nikmat yang luar biasa sama halnya bernapas dan
tidur, maka dari itu ia masih tetap fokus untuk menikmati sarapannya. Barulah
saat makanannya habis tak tersisa, Laksha akhirnya menanggapi ocehan tidak
jelas dari orang yang ada di depannya.
“Apa perlu apa?” Laksha
mengulangi pertanyaan yang sama dengan sebelumnya.
“Apa kau adalah seorang
Lakon?” Tanyanya dengan meletakkan sendoknya.
Merasa heran dengan
pertanyaan remeh seperti itu, Laksha dengan spontan menjawab “Umn”. Tak
berhenti sampai di situ, ia nampaknya masih memiliki segudang pertanyaan untuk
dijawab oleh Laksha. Rasa-rasanya ia meragukan bahwa Laksha adalah seorang
Lakon asli, dengan kata lain ia berpikiran kalau orang yang ada di depannya
saat ini adalah Lakon gadungan. Banyak kasus yang terjadi dimana seorang Sakti
yang mengaku-ngaku sebagai Lakon hanya bermodalkan memakai topeng saja. Mereka
yang gadungan melakukan itu untuk melakukan pemalakan pada rakyat jelata atau
pedagang dan/atau pemilik kedai di pasar dengan alasan untuk uang keamanan.
Padahal mereka tidaklah lebih dari sekadar berandalan yang ingin mendapatkan
uang melimpah dengan usaha melintah. Ternyata hal ini lah yang sedari malam
merisaukan pikiran gadis tersebut sampai tidak tidur semalaman. Terlebih ia
juga bertanya-tanya siapa Lakon semalam yang muncul entah dari mana tiba-tiba
memintanya untuk.
“Kenapa berhenti?”
“Tidak, bukan apa-apa.
Lupakan saja”
“Intinya adalah, jika kau
adalah seorang Lakon sungguhan seharusnya kau ikut menyerang bersamaku”.
“Apa maksudmu?Kau sendiri
yang tiba-tiba maju dan menyerang sendirian, 'kan?!”
Gadis tersebut dibuat
terkejut dengan jawaban yang dilontarkan oleh Laksha, tapi dengan begitu
kecurigaannya terkait dengan Laksha bukanlah seorang Lakon sungguhan semakin
kuat. Rasa penasarannya tak kunjung reda, semakin haus ingin menguak identitas
asli Laksha.
*Set set set set
Gadis tersebut memperlihatkan
sebuah gerakan tangan yang tidak biasa. “Apa kau tahu apa yang baru saja aku
tunjukkan padamu ?” Dengan percaya diri Laksha menyahut kalau itu adalah kode
rahasia yang digunakan untuk berkomunikasi. Hal seperti itu saja semua Sakti
pasti mengetahuinya.
“Ya, kau benar. Semua Sakti
pasti tahu, tapi Bagaimana dengan arti dari kode tangan tersebut?”
“Tentu saja hanya La-”
*Ka!!?
“Kena kau!”
Bagian 2 -
Berangkat
• 11 Telu 680 Danindra - Rumah Kecil Tama
Pinggiran kota adalah tempat yang cocok untuk
ditinggali oleh orang sepertiku, sepi akan hiruk pikuk khas sebuah kota yang
ramainya bukan main. Aku tidak suka jika harus tinggal di tengah-tengah kota,
maka dari itu aku lebih memilih membeli sebuah rumah kecil di pinggiran,
tepatnya di bagian kanan kota di dekat dinding setinggi 10 meter itu. Di rumah
kecil ini hanya terdapat dua kamar, ruang makan termasuk dapur, kamar mandi dan
ruang tamu, di tempat yang kecil ini aku tidak tinggal sendirian. Ada seorang
lagi yang menetap di sini dan seorang lagi yang suka keluar masuk rumah tanpa
perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Tamaaaa!!!”
Baru saja aku membicarakannya
dan kini ia telah menunjukkan keberadaannya. Memang tidak sedikit orang yang
sudah lama mengenalku kemudian memanggilku Tama, akan tetapi hanya ada satu
orang saja yang memanggilku dengan huruf ma yang panjang setiap harinya. Vani
lah orangnya. Aku yang baru saja membuka mata dan menikmati hari libur
tambahanku sudah dikacaukan olehnya.
*Duk duk duk
*Jebrek !
Selalu seperti ini. Pintu
kamar yang secara kasar terbuka tanpa mempedulikan orang yang dibalik pintu
tersebut sedang melakukan apa. Untung saja aku selalu molor di tiap paginya
sehingga tidak ada kejadian pasaran seperti seseorang yang membuka pintu tanpa
salam sedangkan si pemilik kamar sedang berganti pakaian. Sudah tiga tahun kami
tinggal satu atap dan tak pernah sekalipun peristiwa tersebut terjadi. Ditambah
lagi gelagat-gelagat hidung belang yang dimiliki oleh semua lelaki, tapi
sayangnya aku tidaklah tertarik dengan hal semacam itu kepada Vani dan satu hal
lagi, setiap pagi hingga malam ada seseorang yang tadi aku sebutkan sebagai
orang yang bisa keluar masuk rumah ini tanpa izin dari kami. Orang itu adalah
tetangga sebelah kami. Beliau bertugas untuk mengawasi kami berdua selama
tinggal di sini. Tuan Trika lah yang mengutusnya kemari sesaat Vani memutuskan
untuk tinggal denganku. Tentu saja Vani mengetahuinya sejak dulu, tapi ia
memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan mengacuhkannya malah.
“Kenapa kamu tidak
membangunkanku?”
“Bagaimana mungkin aku bisa
membangunkamu sedang aku sendiri tukan molor??”
“Mau bagaimana lagi, hanya
kamu seorang yang ada di sini, bukan!? Kamu tahu sendiri kalau semalam suntuk
aku harus mengurus beberapa berkas untuk seleksi hari ini”. Seperti yang sudah
kukatakan sebelumnya, ia pasti mengacuhkannya bahkan tidak menganggapnya ada.
Kejadian pagi ini dimulai karena
semalam saat Vani sedang memasak untuk makan malam ada seseorang yang mengetuk
pintu depan. Seorang kurir berdiri di sana memberikan paket dengan alamat yang
tertulis padanya adalah alamat rumah ini. Penerimanya seharusnya Vani, tapi
karena ia sedang sibuk di dapur aku lah yang bertandatangan dan menerimanya.
Kurasa itu bukanlah masalah yang besar karena pengirim paket tersebut dari
pihak akademi dan kami berdua sama-sama menjadi pengajar di sana. Aku membawa
masuk paket yang sepertinya birisi gundukan kertas itu dan membukanya. Begitu
banyak kertas soal untuk seleksi tahap pertama nantinya. Terdapat kertas kecil
yang berbeda dari lainnya yang berada di dalam paket, di sana tertulis sebuah
perintah yang ditujukan kepada Vani untuk memeriksa apakah soal-soal yang
tertera sudah benar atau tidak. Itu dilakukan sebagai tahap akhir pengecekan
naskah soal yang ada. Hal ini memang terlalu mendadak karena sempat terjadi
kesalahan teknis saat pencetakan naskah sehingga contoh soalnya baru bisa tiba
malam hari.
Saat makan malam berlangsung
aku memberitahukannya soal paket tersebut beserta pesan di kertas kecil
tersebut. Tak heran juga bagiku mendengar gerutuan Vani waktu itu yang sudah
berniat ingin tidur cantik seusai makan malam. Awalnya ia sempat menyuruhku untuk
melakukan pengecekan naskah, tapi tak beberapa lama kemudian ia menarik lagi
ucapannya karena sadar betul kalau aku ini bukanlah jenius atau setidaknya
pintar seperti dia. Dia adalah orang yang rajin, berusaha bekerja sebaik
mungkin adalah mottonya. Bahkan sampai mata naik turun pun ia masih berusaha
untuk memegangi kertasnya dan mulutnya masih terus berucap pelan tak bergeming.
Mencemaskan Vani adalah keseharianku, ceroboh sudah seperti mendarah daging
dari Ibunya. Maka dari itu Ibunya bahkan sampai memintaku untuk menjaganya,
begitu pula dengan Ayahnya dengan menugaskan tetangga sebelah.
Mungkin dia pikir aku sudah
tidur lelap di kamar, faktanya aku terus terjaga mengawasinya dari meja makan
ditemani oleh Pak Bani. Ia baru akan pulang ke rumahnya setelah kami semua
tertidur pulas di kamar masing-masing, tapi malam itu berbeda dari biasanya dan
sesuai tugasnya dirinya mengawasi Vani semalam bersamaku. Sampai tiba waktunya
kepala Vani bersandar di meja dengan mata tertutup, aku mengambil selimut dari
kamarnya dan memelukkan ke tubuhnya. Itulah cerita singkat mengapa ia harus
terjaga semalaman dan hanya tidur selama tiga jam saja sampai akhirnya ia pun
terbangun pagi ini dengan wajah suram. Rambut berantakan, mata berkantung dan
bekas liur masih jelas mengecap di pipinya yang tembem.
Bukannya bergegas ke kamar
mandi, ia malah mendatangi kamarku hanya untuk merajuk sambil memukuliku dengan
bantalnya.
“Kau akan terlambat, loh”
*A-
Ternyata adegan layaknya
seorang Ibu yang membangunkan anaknya hanya terjadi sebentar saja. Ia langsung
sadar dan berlari menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur. Aku yang sedang
bebas kerja selama seminggu kedepan menarik selimut lagi dan memejamkan mata
dengan harapan liburan ini akan berlangsung selamanya.
*Belasan menit kemudian
“Tamaa!!! Kau belum membuat
sarapan, ya?!”
Demi Dewa Matahari yang telah
menunjukkan kejayaannya, aku juga lupa untuk membuatkannya sarapan. “Kau juga
tidak membuatkanku bekal makan siang!!” Demi Dewi Kesuburan kumohon sediakanlah
makanan di meja makan segera. “Aduuhhh aku langsung berangkat saja! Tama!?
Cepat bangun dan segera buatkan sarapan dan taruh di dua kotak makanan yang ada
di meja makan! Jangan lupa untuk segera mengirimkannya ke akademi!!”
“Aku berangkat dulu”
*Jebrek!!
Jadi maksudnya sekarang aku
harus rela meninggalkan ranjang ini dan menuju dapur untuk memasak sesuatu lalu
mandi kemudian berganti pakaian dan pergi mengantarkan bekal kepada Vani di
akademi? “Yang benar saja!" Merupakan sebuah keajaiban aku yang masih bisa
tiduran seperti ini di hari kerja dan aku masih harus membuang waktuku demi
Vani? Di akademi terdapat kantin untuk memenuhi kebutuhan perut para murid,
seharusnya hari ini pun mereka juga buka karena adanya seleksi yang
dilaksanakan bakal berlangsung sampai sore hari. Dengan begitu ia bisa membeli
sarapan di sana dan aku tak perlu repot-repot melakukan apa yang diminta
olehnya barusan.
“Sepertinya istriku memasak
terlalu banyak, jadi tolong antarkan ini kepada Nona Vani”.
*Ha!!?
Terkejut aku dibuatnya. Pak
Bani, orang yang ditugaskan untuk mengawasi kami Mengawasi Vani tiba-tiba saja
masuk ke dalam kamarku dengan membawa dua kotak bekal yang biasa kami gunakan.
Sepertinya tepat setelah Vani meninggalkan rumah, ia masuk untuk mengambil
kotak bekal tersebut lalu membawanya pulang dan mengisinya dengan masakan
istrinya yang dikata kebanyakan itu. Orang ini adalah ahlinya soal
mengendap-endap ataupun bersembunyi dengan cara menyamarkan hawa keberadaan
dengan lingkungan di sekitarnya. Kejadian seperti ini sudah banyak kali kualami
selama tinggal di sini.
“Aku tidak mau. Antarkan saja
sendiri ke akademi”. Seharusnya rencana tidurku sudah akan berjalan lancar saat
Vani berangkat, tapi aku lupa dengan yang satu ini. “Tuan Adyatama, mohon
mengertilah”. Dia mengatakan itu dengan sedikit membungkukkan badan.
“Baiklah baiklah, aku hanya
tinggal mengantarkannya saja, `kan?”
“Ya”
Kalau dia sudah menundukkan
kepala seperti itu mana mungkin aku bisa menolaknya. Dia sudah tua, anak
pertamanya saja bahkan lebih tua dariku, sedang anak keduanya dua tahun lebih
muda dari umurku. Pak Bani juga sudah lama bekerja untuk bangsawan Trika, maka
dari itu ia lah yang dipercaya oleh tuan Trika untuk mengawasi Vani. Istrinya
juga orang yang baik, tak jarang pula ia memasak lebih untuk diberikan pada
kami, seperti yang terjadi hari ini juga. Mereka sudah menganggap Vani sebagai
bagian dari keluarga mereka, atau mungkin juga aku yang sudah mengenalnya
selama tujuh tahun.
Tanpa banyak kata aku beranjak dari surgaku dan
mengambil kotak yang dibawanya itu untuk diantarkan ke akademi.
“Kalau begitu aku-”
“Tunggu dulu!”
Di saat aku sudah memutuskan
untuk menuruti permintaannya, apa Pak Bani juga ingin menyia-nyiakan waktu
emasku ini? “Apa kau bermaksud pergi dengan pakaian seperti itu?”
“Tentu saja, apakah kerajaan sekarang
melarang rakyatnya memakai kaos putih dan celana pendek hitam?” Ia menghela
napas sekali dihadapanku, aku heran mengapa dia melakukan itu. Cara berpikir
orang dewasa memang begitu rumit untuk dimengerti oleh anak muda sepertiku.
Ujung-ujungnya ia memaksaku untuk berganti pakaian yang katanya lebih sopan
meski bukan seragam pengajar akademi.
“Kau lupa topengmu”. Dia
melemparkan topengku yang ada di meja sebelah ranjang.
Topeng. Aku hampir lupa bahwa
diriku ini adalah seorang Lakon. Sebenarnya tidak harus setiap saat bagi
seorang Lakon memakai topeng, tak ada aturan pasti yang mengharuskannya,
ataupun kapan dan dimana seorang Lakon mengenakannya. Hanya saja kebanyakan
Lakon selalu menggunakannya di tempat-tempat umum bertujuan agar tidak
sembarang orang bisa mengetahui identitasnya melalui tampilan wajah. Padahal
menurutku dengan memakai topeng justru menunjukkan kepada umum bahwa aku adalah
orang penting atau orang yang memiliki kepentingan rahasia. Hal tersebut malah
semakin memperkuat keinginan orang yang memiliki niatan buruk untuk melakukan
penyerangan pada mereka para Lakon. Akan tetapi bagi orang Sakti yang terbilang
kuat hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar.
“Aku pergi dulu”
Jarak yang tidak dekat
mengharuskanku untuk naik kereta kuda karena terburu-buru. Meski masih ada
banyak waktu sebelum ujian dimulai, tapi para pengajar yang ditugaskan untuk
menjadi pengawas ujian diharuskan untuk berangkat lebih awal sebelum para
peserta berdatangan. Jika aku sampai sebelum ujian dimulai, masih ada waktu
bagi Vani untuk sarapan terlebih dulu. Akan sangat memalukan jika saat peserta
sedang fokus mengerjakan soal ujian kemudian terdengar suara rengekan cacing
dari perut salah seorang pengawas berparas cantik. Belum lagi aku yang nantinya
akan menyaksikan rengekan penuh amarah dari wajahnya jika itu sampai terjadi.
“Murid baru, ya… Aku jadi
penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang”.
Berusaha untuk melupakan
kenangan masa lalu tapi sebaliknya, semakin kuat rasa untuk melupakan semakin
kuat pula ingatan yang sudi untuk lenyap dari memori. Maka cara terbaik adalah
dengan tidak berusaha melupakan apapun dan menyibukkan diri dengan melakukan
sebuah aktivitas rutin, kalau sudah begitu sebuah ingatan pasti akan pergi
dengan sendirinya dan tak pernah kembali lagi.
Hari-hari untuk bersantai
bagi para pekerja dan pelajar telah usai. Mereka mulai menjalani rutinitas
seperti biasanya. Kota Aryasetya yang terkenal ini mulai hidup kembali setelah
sekian minggu tertidur.
Bagian 3 – Putus
Asa
• 11 Telu 680 Danindra - Penginapan
Situasi yang terasa tegang membuat kulit
mengeras dan bulu kuduk berdiri. Setetes keringat mulai mengucur di pagi yang
sejuk tanpa melakukan aktivitas yang berat. Di sana sedang duduk dua orang
Lakon saling berseberangan. Topeng saling beradu tatap dengan topeng di
depannya, tak ada salah satu dari mereka yang bergerak sedikitpun. Dikala
penghuni yang lain sibuk dengan sarapannya, dua orang itu masih saja terkunci
dalam hening. Sampai-sampai beberapa penghuni lainnya sempat memperhatikan
kelakukan mereka berdua. Lakon dengan lengkungan garis di topengnya sedang
menunggu respon dari Lakon dengan tiga goresan di topengnya pasca dirinya
menuduh bahwa Laksha adalah Lakon jadi-jadian. Tuduhan tersebut diperkuat
dengan ketidaktahuan Laksha soal arti dari kode tangan yang dilakukan oleh
gadis Lakon tersebut saat pertarungan semalam, yang kemudian dicontohkan ulang
saat akhirnya Laksha sudi untuk berbincang dengannya.
“Sial, bagaimana ini? Kedokku
pasti akan segera terbongkar kalau seperti ini terus”. Harap-harap cemas dengan
situasi yang menimpanya, Laksha masih terus mencari cara supaya terbebas dari
jeratan tersebut.
“Anu…”
*Wha!!
Dewi Keberuntungan sepertinya
masih memihak kepada Laksha, dikala mereka berdua fokus tatap menatap,
tiba-tiba sudah berdiri seseorang di samping meja dengan membawa piring yang
isinya masih utuh belum tersentuh. Ia mengenakan tudung yang biasa dipakai
untuk menutupi wajahnya. Sontak kehadiran sosok aneh tersebut mengagetkan
mereka berdua.Raiya Ayara Rhea. Gadis itu merupakan sepupu dari salah satu
pengurus penginapan, si wanita resepsionis. Sosoknya yang pemalu
mengharuskannya memakai tudung satu-satunya itu kemanapun ia pergi dan
dimanapun ia berada. Tak tahu lagi jika sedang membersihkan diri. Laksha yang
memanggilnya dengan julukan gadis kikuk ini sudah berulangkali membawa Laksha
larut dalam masalah. Baik itu insiden pencurian dengan berujung diiterogasi di
kantor penjaga kota maupun insiden semalam. Malam setelah makan malam di kedai,
Laksha sudah bertekad agar tidak lagi berurusan dengan gadis itu lagi. Tapi
sepertinya itu adalah hal yang mustahil, karena pagi ini ia tanpa diundang
menghampiri Laksha yang sedang dalam kondisi hampir melarikan diri.
“Bolehkah a-aku duduk di
sini?” Meski sempat tersenyum semalam, nampaknya bicaranya yang kikuk masih
belum hilang.
Berhubung memang masih kosong
kosong, tentu saja ia bisa duduk sesukanya di sana. Terlihat nasi pecel yang
menjadi menu sarapannya pagi ini. Sudah menjadi menu favorit rakyat di kerajaan
ini dengan sarapan nasi pecel. Laksha tidak merasa heran dengan menu yang dipilihnya
karena ia tahu kalau Si Gadis Bertudung itu bukanlah seorang bangsawan yang
seharusnya memilih menu makanan yang sedikit berkelas, padahal makanan yang
disediakan tidak perlu membayar lagi karena sudah diakomodasikan beserta biaya
sewa kamar saat awal pemesanan.Adanya kesempatan dalam kesempitan membuat
Laksha berpikiran untuk melarikan diri dengan menyudahi makannya “Kalau begitu,
aku sudah selesai makann-”
“Mau pergi kemana kau?!”
*E!!
Kesigapan gadis Lakon
tersebut benar-benar patut diperhitungkan. Tidak bisa diremehkan, namanya juga
seorang Lakon. Merasa kalau memang makannya sudah selesai, Laksha melanjutkan
langkahnya untuk mengembalikan piring.
“Mau melarikan diri?”
Rhea yang tidak tahu apa-apa
merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia masih memilih untuk diam
karena kekikukannya dalam mencampuri suatu urusan. Meski begitu bisa dilihat
dari cara makannya yang sudah mulai tidak tenang, ia penasaran dengan apa yang
sudah terjadi saat ia belum bergabung.
“Ya, apa yang kau katakan?
Aku sudah selesai makan jadi aku harus mengembalikan piring ini, bukan?” Laksha
adalah ahlinya jika soal melarikan diri, bukan soal kegesitannya dalam berlari
saja, tapi juga pandai dalam membuat seribu satu alasan.
“He Benarkah?”
“Apa yang kau katakan? Tentu
saja itu benar. Mana mungkin aku berbohong, bukan? “
“He…”
Berhenti menanggapi gadis
Lakon, Laksha tetap bersikukuh memberanikan diri untuk berjalan tegap.
“Tunggu!!”
*Brek!!
Suara khas gebrakan sebuah
tangan ke meja yang tak bersalah. Suara itu dibuat oleh Rhea yang ternyata
sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi. Gebrakan tersebut membuat banyak
pasang mata meliriknya dengan terkejut.
“Apa yang sedang kalian
lakukan?? Kelakuan kalian mengganggu orang yang sedang makan saja!” Teriakan
yang baru saja terjadi tidak pernah didengar oleh para penghuni penginapan,
bahkan Laksha saja hanya pernah diberi perkataan sebal saat mengajaknya keluar
untuk makan malam. Kali ini lebih parah lagi, sebuah teriakan keluar dari mulut
kikuk itu.
“Kamu, berhentilah bertanya tentang hal yang
tidak jelas!! Laksha, kembalilah duduk dan habiskan makananmu!!” Kalimat
perintah yang terlontar layaknya seorang ibu yang sedang memarahi anaknya yang
tidak menghabiskan makanannya.
Setelah melakukan sebuah
pertunjukan yang belum pernah terjadi itu, gadis tersebut kemudian tersadar dan
mukanya langsung memerah. Gadis Lakon di seberangnya menjadi diam tak bertanya
lagi dan Laksha yang kembali duduk untuk benar-benar menghabiskan makanannya.
Perasaan tegang Laksha soal kedoknya yang hampir saja terbongkar memang telah
hilang, tapi rasa takut yang baru muncul terkait singa betina yang duduk
sebelahnya itu. Akan tetapi ia tetap bersyukur atas tindakan asal-asalan Rhea
yang akhirnya melepaskan jeratan Si Gadis Lakon.Tak ada percakapan sama sekali
setelah teriakan terjadi. Sendok demi sendok bergiliran keluar masuk mulut
pemakainya. Dengan begitu makanan yang telah disajikan oleh juru masak telah
berhasil dilahap habis tak tersisa.
Selepas sarapan Laksha segera
kembali ke kamar untuk mengambil tas dan bersiap untuk berangkat. Dalam ujian
tahap pertama yang berupa ujian tulis ia mendapat gelombang pertama yang akan
dilangsungkan pagi ini. Tak ada pikiran soal apa yang terjadi barusan di ruang
makan, ia hanya menatap lurus ke depan. Jalan panjang akan ditempuh olehnya
jika berhasil lolos seleksi dan menjadi murid di Akademi Aryasetya. Berlari
adalah keahlian yang ia gunakan menuju akademi. Ia memang tidak tahu dimana
lokasi pastinya, tapi dengan bertanya kepada penduduk sekitar jalan pasti akan
terbuka lebar. “Malu bertanya sesat di jalan” adalah pribahasa yang tepat dalam
menghadapi situasi seperti itu.
Jalan utama sangatlah lebar
dibanding dengan jalan yang ada di perkampungan. Laksha menggunakan kesempatan
itu untuk lebih memacu kecepatan larinya. Namun, hal yang tak diduga menimpanya
*Gredek gredek gredek
Dari sebuah jalan
perkampungan di kanan jalan, keluarlah kereta kuda yang tengah menyebrang.
“Minggiiiirrr!!”
Bukanlah sebuah masalah
kereta kuda yang tengah menyebrang, tapi Laksha yang berlari terlalu kencang
tidak bisa mengerem kakinya hingga berakhir nahas dengan menabrak kereta kuda
tersebut. Kereta tersebut sampai oleng ke kanan dan terjatuh. Saking cepatnya
dan kejadian yang terasa sekilas, sampai-sampai kuda penariknyapun tidak diberi
waktu untuk berteriak. Orang-orang yang awalnya berjalan dengan tenang
menjadi panik dan segera menghampiri kecelakaan tersebut. Pak Kusir yang berada
di depan selamat dengan luka lecet saja di beberapa bagian tubuh, itu karena
Laksha menabrak bagian tengah tepat penumpang berada di dalamnya.
“Aa!! Aku sedang mengantarkan
seorang pemuda!”
Mendengar kalimat barusan
membuat salah satu warga segera membuka pintu ruangan kecil tempat penumpang
duduk. Orang yang membukanya terkejut dan berkata kalau tidak ada siapapun di
dalamnya. Pak Kusir itu tentunya menyangkal pernyataan barusan dan
memastikannya sendiri.
“Hilang!”
Laksha yang telah menabrak
terpental beberapa meter dari tempat kejadian. Salah seorang pedangang lekas
membawanya ke tepian, ia tidak sadarkan diri. Pedagang yang menolongnya mencoba
untuk menyadarkannya dengan memberikan wewangian yang menyengat dan menekankan
jempol dan jari telunjuknya ke sela antara jempol dan jari telunjuknya Laksha.
Hal itu dilakukan karena dipercaya dapat segera menyadarkan orang yang pingsan.
Ternyata cara tersebut memang benar-benar manjur, Laksha kemudian tersadar
setelahnya. Ia langsung memegangi kepalanya yang mungkin terasa pusing atau
sakit pasca menabrak kereta kuda. Orang yang berada di sampingnya berusaha
menanyai apakah ia baik-baik saja atau tidak.Terlepas dari itu, warga yang
merasa telah dibohongi merasa tidak empati lagi kepada Pak Kusir. Tidak
ditemukan seorang pemuda yang dikata penumpangnya itu berada di dalam kereta
kuda saat tabrakan terjadi.
“Apa yang sedang kalian
perdebatkan? Bisakah kalian membantuku untuk mendirikannya?” Seorang pemuda
bertopeng berjalan mendekat ke kereta kuda.
“Aa, itu dia orangnya! Apa
kau baik-baik saja tuan?” Pak Kusir itu mengarahkan telunjuknya kepadaku dengan
ekspresi terkejut.Aku dengan santai mengangguk mengisyaratkan kalau aku
baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun yang kuterima dari insiden barusan.
Itu bisa terjadi karena tepat sebelum gadis itu menabrak keretanya, aku sudah
lebih dahulu melompat keluar dengan menjebol atap kereta yang hanya terbuat
dari kayu. Tidak akan sempat bagiku jika harus keluar melalui pintu yang telah
disediakan di samping tempatku duduk. Percaya dengan apa yang aku sampaikan,
warga mulai membantu untuk mendirikan keretanya lagi.
“Ngomong-omong, dimana orang
yang menabrak keretanya?” Seseorang menunjuk ke arah sebuah toko kelontong. Aku
menghampirinya untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatannya yang sembarangan
berlari dengan kecepatan angin di jalan utama. Aku melihatnya memakai jubah
cokelat tua dan sebuah topeng melekat menutupi wajahnya. “Jadi, dia adalah
seorang Lakon, pantas saja”.
Meski begitu, hanya karena
dia seorang Lakon tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran sepihak. Dia
bersalah, maka dia harus bertanggungjawab. “Hei, gadis muda” Berjalan mendekat
dan kami saling bertatap.
.
.
.
.
Aku dan dia sama-sama terdiam
untuk sejenak, sebelum akhirnya aku memberikan dua pilihan padanya. Pilihan
pertama adalah meminta dia segera mengganti rugi dan masalah akan selesai,
pilihan kedua adalah membawanya ke kantor penjaga kota. Aku memang tidak bisa
melihat wajahnya yang tertutup, tapi aku bisa merasakan auranya memancarkan
warna ketakutan dan rasa bersalah sedang menyelimutinya. Sudah beberapa detik
berlalu namun ia tak kunjung memberikan jawaban. Seketika aku meilhatnya
memakai seragam akademi yang bukan berasal dari kota ini, aku menanyakan untuk
apa murid dari akademi lain berada di kota ini. Untuk pertanyaan ini dia baru
menjawabnya.
"Saya datang ke kota ini
untuk mengikuti ujian masuk Akademi Aryasetya”. Jawabnya dengan nada putus asa.
Aku memperhatikan mulai dari
ujung rambut hingga ujung kaki, dia adalah salah satu pendaftar ujian di
akademi. Mengetahui hal itu aku menyarankan padanya untuk segera mengganti rugi
atas kerusakan kereta kuda yang rusak. “Apa, kau punya uang yang cukup?”
"Saya hanya membawa
sedikit uang, sisanya saya tinggal di penginapan”. Dia masih menjawab dengan
menundukkan kepalanya.
Merasa iba dengan seorang
gadis yang jauh-jauh datang kemari untuk mengikuti ujian masuk akademi, untuk
sementara aku yang mengganti rugi atas kerusakannya. Pak Kusir itu untungnya
orang yang baik dengan menuruti pilihanku agar tidak memperpanjang masalah ini
ke kantor penjaga kota. Setelah menerima ganti rugi, ia menitipkan kereta
kudanya karena kudanya stres akibat kejadian tadi. Selanjutnya aku meminta
alamat penginapan gadis ini agar uangku bisa kembali lagi tentunya. Untuk saat
ini urusanku telah selesai, aku harus segera ke akademi dan mengantarkan bekal
ini pada Vani. Masalah selesai, warga mulai kembali ke aktivitas mereka.
Posisiku sekarang sudah dekat
dengan akademi, kurasa tak perlu lagi untuk naik kereta kuda lagi. Kalau begitu
aku jalan kaki saja lewat jalan perkampungan bagian kiri. Tiga langkah kaki
yang sudah berjalan mendadak berhenti melihat gadis itu masih saja duduk
termenung di sana. Mungkinkah semangatnya sudah hilang bersamaan dengan
terpentalnya ia tadi? Bahunya sedikit membungkuk, sepertinya ia benar-benar
merasa putus asa. Aku mengajaknya untuk ikut bersamaku ke akademi, melalui
jalan perkampungan akan jauh lebih menghemat waktu daripada melewati jalan
utama. Selain itu, duduk termangu di situ tidak akan membuat hutangnya padaku
lunas. “Berdirilah! Apa kau jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjadi
pengemis di pinggir jalan?!”
*Huh!?
Tubuhnya bergetar sebentar
saat aku mengatakannya barusan, apakah dia akan marah karena aku mengejeknya
seperti itu, atau dia akan tetap muram dan memilih untuk batal mengikuti ujian
dan kembali ke penginapannya? Syukurlah, ternyata ia justru kembali bersemangat
setelah mendapat ejekan dariku. “Saya ikut dengan anda. Tolong antarkan saya!” Aura
ketakutan dan penyesalan berubah menjadi semangat yang menggebu gebu dari dalam
jiwanya.
“Bagaimana dengan lukamu?”
Melihatnya seperti itu sama seperti melihat murid sendiri yang terluka.
“Sudah lebih baik”. Dia
menjawab dengan suara yang lugas.
“Apa kau sanggup untuk
berlari secepat tadi?”
“Sepertinya bisa”
“Kalau begitu, lakukan sekali
lagi dan ikuti aku!” Aku mendahuluinya dengan berlari dalam bayangan bangunan
yang ada di kanan dan kiriku.
Bagian 4
Terempas
• 11 Telu 680 Danindra Akademi Aryasetya
Banyak sekali para pendaftar yang sudah
berdatangan. Beberapa pengajar yang sudah selesai rapat mulai melakukan tugas
mereka selaku panita pelaksana ujian masuk akademi. Ada yang berjaga di depan
sebagai penerima peserta, ada juga yang bertugas untuk memberikan arahan kepada
peserta mengenai ruang ujian, dan sisanya masih berada di ruang pengajar
mempersiapkan lembaran soal ujian. Aku dan gadis itu berhasil datang sebelum
ujian dilaksanakan.
“Kalau begitu, sampai bertemu
nanti malam”.
“Terimakasih banyak atas
bantuannya. Saya berhutang budi pada anda”.
Kami berpisah di pintu masuk
akademi, aku meminta tolong kepada salah satu pengajar untuk memberikannya
arahan terkait ruang ujiannya. Sesuai tujuan utamaku berkunjung kemari disaat
menikmati hari liburku yang tenang, aku langsung menuju ruang pengajar untuk
mengantarkan bekal yang kubawa ini untuk Vani.
*Jegrek
“Taammmaaaaa!!” Mak Lampir
memasang wajah yang mengerikan.Dia sendiri yang menuyuruhku untuk membawakan
dua kotak bekal ini dan tidak ada batasan waktu kapan aku harus
mengantarkannya. Mengalah bukan berarti salah, aku meminta maaf karena datang
sedikit lama karena ada kecelakaan tadi.
“Apa?? Kecelakaan???”
*Uhm!
“Siapa?”
“Orang yang sedang berdiri di
depanmu ini”
.
.
.
.
*Ehhh???
Dengan kecepatan kilat Vani
meraba-raba tubuhku mencari bagian yang lecet atau memar. Meski kemudian aku
berkata kalau tidak ada luka sama sekali, ia tetap saja tak menggubrisku dan
itu sedikit mengganggu. Puas mendapati tubuhku yang bebas luka, ia masih
sempatnya menjahiliku dengan berteriak kalau dia sedang digoda olehku.
*Krrruukkk
Mesin penggiling sudah
benar-benar pada batasnya. Mau tidak mau ia harus berhenti menggodaku dan
segera menghabiskan bekal sarapan ini sebelum ujiannya dimulai. Vani mengajak
ke tempat kesukaanku di akademi untuk meluangkan waktu berdua, tapi aku
menolaknya. Dia sudah dikejar oleh waktu, tak ada alasan yang dibenarkan jika
dia sampai terlambat bertugas nantinya, yang ada dia akan kena semprot dan aku
pasti akan terkena imbasnya. Pada akhirnya, kami duduk santai di kursi
masing-masing di ruang pengajar untuk memuaskan nafsu duniawi.
*Teng tong teng tong
Bunyi tanda ujian dimulai
telah bergema di penjuru akademi. Untunglah Vani berhasil menghabiskan
sarapannya sebelum lonceng bergoyang. Ia segera mengambil lembaran bagiannya
dan berlari menuju ruang ujian yang telah ditentukan. Tugasku di sini telah
usai, waktunya untuk kembali ke tempatku yang seharusnya. Tidur dan bersantai
di rumah tanpa ada gangguan dari siapapun.
• Ruang Ujian
Salah satu ruangan yang
digunakan untuk ujian tahap pertama sudah penuh oleh peserta di tiap kursinya.
Peserta ujian yang berada di kelas yang akan dijaga oleh Vani sudah dipastikan
hadir seluruhnya. Masing-masing kelas diisi oleh dua puluh peserta saja agar
pengawas ujian seperti Vani tidak akan kesulitan untuk memantau peserta saat
ujian sedang berlangsung. Ketika Vani memasuki ruangan mereka mendadak terdiam
dan memandang lurus ke depan.
“Saya pengawas ruangan ini.
Nama saya Lavani Kaneishia Trika, mohon kerjasamanya”. Dia tersenyum bukan
ditujukan pada peserta ujian, melainkan ia masih terbayang-bayang dengan
kesempatan dimana kami bisa makan berdua disaksikan oleh pengajar yang lain.
Lembaran soal mulai dibagikan
satu persatu dari sisi kanan dekat dengan pintu masuk. Peserta menerimanya
dengan mempersiapkan nyali terlebih dulu sebelum memutarbalikkan lembaran soal.
Tatapan serius penuh ambisi hingga menelan ludah pun terasa berat. Sampai
ketika lembaran terakhir selesai dibagikan, dentingan lonceng mengguncang jiwa
raga dan pikiran peserta yang bersemangat dengan pensil di tangan kanan dan
lembar soal di tangan kiri.
“Ujian tahap pertama, dimulai!”
Ketegangan di antara peserta
hanya berjarak satu meter dengan lainnya. Mereka fokus mengerjakan
mempertaruhkan hidup-mati, harga diri dan waktu yang telah mereka habiskan demi
mencapai tahap ini. Bukan sembarang orang bisa mendaftar di akademi ini, bukan
masalah materi atau kekuatan, melainkan kepercayaan diri seseorang yang sudah
diuji sebelum pendaftaran dilakukan. Bukti bahwa akademi ini benar-benar ketat
dalam melakukan seleksi menghasilkan para murid baru yang berkualitas, bukan
kaleng-kaleng. Itulah mengapa mereka yang merasa dirinya bodoh, lemah, dan
pesimis memilih untuk lari sebelum berperang. Hal itulah yang menjadikan tiap
seleksi dilaksanakan dijadikan sebagai tolak ukur kualitas murid-murid yang ada
di wilayah Kerajaan Ardiya ini. Sekaligus sebagai tontonan rakyat ketika ujian
tahap kedua dilaksanakan.
Beberapa menit berlalu
semenjak lonceng menggelorakan suara jiwa yang membara. Goresan-goresan pensil
memenuhi lembar jawaban. Tangan kanan peserta menari di atas panggung putih
meleak-leok dengan anggun. Satu persatu huruf ditulis, bergabung menjadi
kata-kata dan terbentuklah kalimat yang padu. Gambaran masa depan akan belajar
di akademi menjadi penyemangat individu dalam pengerjaannya. Vani yang bertugas
sebagai pengawas ujian mulai berkeliling dari depan ke belakang melalui jalur
kanan dan diakhiri melalui jalur kiri. Sesekali ia berhenti dan duduk di
kursinya sendiri.
Pada lembar soal terdapat
salah satu soal yang memiliki jawaban amat mendasar. Tertera di soal nomor
pembuka bertuliskan “Apakah Tenaga Dalam itu?”. Sebuah pertanyaan pasaran
dengan jawaban pasaran akan tertuang pada lembar jawaban, tapi bukan itu yang
dicari oleh akademi. Mencoba tuk mencari murid dengan pola pikir yang berbeda
bisa menambah atau merubah persepsi seseorang mengenai salah satu keajaiban
dunia yang diberikan oleh alam kepada umat manusia. Terdapat variasi jawaban
yang pada intinya sama, sekali lagi bukan itu yang dicari. Tentunya semua pihak
pasti mengetahui tentang pengertian dasar persoalan tersebut. Mereka pasti akan
menganggap remeh akannya dan justru itulah yang akan menjadi jawaban penentu
tiap peserta dalam mendapatkan poin yang maksimal di ujian tahap pertama ini.
Terdapat dua puluh lima soal uraian yang harus dikerjakan dan hanya beberapa
soal saja yang sebenarnya jika dijawab sesuai yang diinginkan oleh akademi
terkait sebuah jawaban baru yang tidak melulu terpaku pada ajaran dasar lah
yang akan dengan mudah mendapat poin banyak pada ujian tahap pertama.
“Energi yang dapat digunakan
untuk melarikan diri dari kejaran babi hutan dan mengejar jambret di pasar”. Sebuah
kalimat yang tidak biasa tertulis pada lembar jawaban milik salah satu peserta
ujian. Ia memakai topeng dan jubah. Jawabannya tidak berfokus pada teori
dasarnya melainkan kepada pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Meski
di soal lainnya ada yang meminta penjelasan apa saja yang telah dilakukan oleh
peserta selama menggunakan tenaga dalamnya, tapi ia tetap pada jawaban
pertamanya dan tak berpikiran untuk mengubahnya.
*Teng teng teng
“Waktu pengerjaan selesai!"
Peserta ujian yang telah
selesai mengerjakan lebih awal tidak diperkenankan untuk meninggalkan ruang
ujian sampai lonceng berikutnya berbunyi dengan harapan mereka bisa memeriksa
jawabannya berulangkali apakah ada yang dirasa salah atau tidak. Lembar soal
beserta jawabannya dibalik dan diletakkan di mejanya masing-masing. Peserta
keluar ruangan secara bergiliran, ada yang berada di lorong membahas tentang
ujian barusan dan ada juga yang langsung pulang karena tak satupun yang dikenalnya
untuk sekadar berbagi kelu kesah saat ujian. Laksha adalah salah satu dari
mereka yang langsung pulang.
Vani yang menjadi pengawas
mengambil satu persatu lembar soal dan jawaban peserta. Gelombang kedua baru
akan dimulai sekitar dua jam lagi. Dalam rentang waktu tersebut para pengawas
menggunakannya untuk mengoreksi jawaban peserta. Mereka melakukannya di ruang
pengajar. Wakil Kepala Akademi mengawasi langsung saat pengoreksian dilakukan
untuk menghindari adanya kecurangan yang dilakukan oleh pengawas agar tidak
membenarkan jawaban yang salah supaya peserta mendapat poin yang tinggi.
•Penginapan
Bulan siang kini telah
bergulir di atas kepala. Pasca menyelesaikan misi tahap pertama pada gelombang
satu sukses dilaksanakan, dengan riangnya ia kembali ke penginapan serasa tanpa
beban di dipundaknya. Dijumpai tak sedikit muda-mudi berseragam lengkap
berjalan menuju satu arah yang sama, ada yang sendiri ada juga yang berempat
kaki. 'pun begitu Laksha tak begitu terpaku pada kesendiriannya dengan terus
melangkah acuh. Dua pintu kayu ternganga mempersilahkan sesiapa masuk ke
dalamnya, seorang pemuda dengan topeng yang tak asing duduk di ruang tamu
penginapan. Seolah memaksa lupa, ia memilih untuk mengambil tangga lain yang
tidak biasa Laksha lewati. Itu karena aku bisa memergokinya saat ia lewat tanpa
suara.
“Oi, gadis bertopeng!” Jika
dia kira rencana murahan seperti itu bekerja untukku, aku akan melepas topeng
ini dan menunjukkan wajahku pada rakyat.
Berhenti membeku menyadari
dirinya telah tertangkap basah hendak menghindari penagih hutang. Mengusap-usap
kepala belakang dengan tawa yang setengah jadi membuat alasan seolah ia tak
tahu keberadaanku yang sudah sejak tadi duduk santai di sini. Hanya kami berdua
yang ada di beranda penginapan berhadap-hadapan selama beberapa detik sebelum
Laksha memutuskan untuk benar-benar pergi ke kamarnya mengambil kepingan emas
untukku. Tangan putihnya terlihat saat menyerahkan sekantong kecil berisikan
emas padaku. “Dia mungkin putri orang tajir, atau bahkan seorang bangsawan”.
Dengan begini urusan hutang piutang beres, tak ada lagi alasan aku harus
berlama-lama berada di sini.Berjejer tegak kaki menopang tubuh beranjak pergi
meninggalkan persinggahan musafir. Terik yang menggila melepuhkan jiwa muda
yang biasa orang seumuranku miliki. Selagi aku baru saja mendapat uangku
kembali, mungkin lebih afdol kalau pulang naik kereta kuda saja. Meski akan
menguras kantong kecil ini, itu lebih baik daripada menguras tenagaku.
“A-anuu...” Seorang gadis
muncul dari tangga.Mengenakan tudung kesukaannya, turun dari tangga sebelah
kiri penginapan dengan seragam layaknya orang akan berangkat ke akademi. Tapi
sebenarnya dia juga peserta seleksi masuk Akademi Aryasetya sama seperti
Laksha. Perlahan menuruni tangga bak putri raja, satu per satu kaki menurun
anggun, tangan kiri yang memegang kayu pembatas, pandangannya yang tertunduk
penuh kemaluan memancarkan aura yang tak biasa disandang oleh kalangan rakyat
biasa.
Gelombang satu selesai,
gelombang dua pun datang. Rhea dengan gilirannya setelah ini rupanya sudah
bersiap menuju akademi. Saling sapa dan lewat begitu saja tanpa obrolan
panjang. Waktu yang tak bisa memanjang namun bisa memendek memaksanya harus
bergegas. Aku sedikit meragukan apakah ia sanggup untuk meluluskan diri atau
menggugurkan diri nantinya. Hasil ujian akan keluar satu minggu lagi, masih
menyisakan banyak waktu untuk mendebarkan jantung para peserta.
Terlintas gambaran gadis
resek yang hampir menguak sosok dibalik topeng Laksha tadi pagi saat sarapan. “Mungkinkah
dia kebagian gelombang dua? Atau tiga?” Gadis itu tidak menampakkan wujudnya
bahkan sampai Rhea pulang dan gadis-gadis lain dengan jatah sore mulai berlari.
Bisa jadi ia berbohong soal keikutsertaannya, bisa jadi pula ia berangkat
mengendap-endap seperti tikus yang menelusuri celah-celah rumah untuk dimasuki.
Gadis itu serius menerapkan keteguhan hati sebagai seorang Lakon.
Mereka yang telah usai
mengikuti tes berganti pakaian dan saling membaur satu sama lain di luar kamar.
Bersandar pada pembatas kayu tawa-tawa kecil bertukar pengalaman apa yang
baru saja mereka lalui. Beberapa penghuni lain ada yang memilih menghabiskan
sore dengan menjelajah labirin kota bak mencari harta karun di sebuah goa
terpencil. Sudah satu hari setengah Laksha berdiri di sana tak satupun gadis yang
mendekatinya. Tak satupun. “Anu...” Tak satupun ada yang mendekat padanya.
“Anu!”
“Berisik, tahu!” Gadis itu
mendapat semprotan mentah dari gadis yang sedang berharap pada langit untuk
bersenang-senang namun tak ada yang mengajaknya. Ada Rhea di sana yang bersiap
selama puluhan menit hanya untuk berkata “Anu”. Begitulah Laksha, kadang ia
perhatian padanya kadang juga tidak. Menganggap bahwa Rhea adalah sebuah
eksistensi yang tidak pernah ada di dunia. Dalam kurun waktu yang lama, lama
sekali, Rhea hanya berdiri di sana memandang kaki Laksha. Satu menit serasa
satu jam. Semut yang mencari gula, ia tak lagi bisa menahan rasa risih yang
menyerbak dari kulit dinginnya.
“Apa maumu, Gadis Kikuk?”
Laksha menoleh dengan mata setengah mati. Seolah menguji keberanian Rhea untuk
buka mulut menghadapi sang penguasa angin yang menatap mukanya. Bukan suatu
bentuk kesopanan ketika berbicara tapi tak saling pandang, Laksha bukanlah
majikan atau atasannya, tak ada alasan jika ia harus terus menerus bersikap
seperti bawahan yang berhormat. Semakin malu semakin menurun tudung yang
menutupinya. Sedikit namun terasa banyak hal yang telah mereka berdua lalui
baik kemarin maupun hari ini. Tidak etis lagi jika Rhea memperlakukannya
seperti itu, meski kurasa Laksha tidak akan banyak protes melihat situasi
hatinya yang sedang berombang ambing. Lelah menunggu balasan yang tak kunjung
tiba, ia menghadapkan kembali pandangannya ke langit jingga.
“Apa-aakah kau ma-ma-mau
berkeli-ling kota bersamaku?” Ciri khas jeleknya masih belum hilang, tapi itu
melambangkan betapa kuatnya keinginannya untuk mengajak Laksha jalan keluar.
Mata Laksha tersengat mendengar ajakan yang demikian frontal, bisa disaksikan
kini giliran Laksha yang dibuat gundah olehnya. Iya 'kah tidak, setuju 'kah
menolak, yang pasti pilihan yang akan ia tentukan menjadi keputusan penting
terkait nasib malangnya yang begitu akut melebur bersama jeruk. Awan berlalu
mengacuhkan dirinya, dua burung sedang asik bermesraan di atas genting, mereka
menikmati hidup yang singkat di sore hari. "Terserahmu". Keluar
sudah, jawaban pasrah namun penuh hasrat dari mukanya yang malu-malu kucing.
Rhea mengangkat wajahnya tanpa dketahui olehnya dan menampakkan mata yang
sedang berbinar, tersenyum lalu kembali menundukkannya. Sekali lagi sebuah hubungan
benang merah mulai terjahit lagi, seutas-seuntai saling berimpitan tak membuat
celah sedikitpun diantara mereka.
• 14 Telu 680 Danindra - Akademi Aryasetya
Ujian tahap kedua
dilaksanakan di arena milik akademi yang terletak tepat di sebelahnya. Melingkar
membungkus orang-orang yang mulai berdatangan duduk di tribun penonton. Untuk
ujian tahap kedua ini tidak ada yang namanya gelombang-gelombangan. Semuanya
campur menjadi satu di bangku peserta menunggu giliran mereka untuk unjuk gigi
di hadapan penonton. Kebanyakan dari mereka adalah wali murid yang menyaksikan
langsung putra dan putrinya beraksi demi memperebutkan kursi di akademi yang
terpandang ini. Sebelum ujian dimulai, pihak akademi meminta peserta untuk apel
terlebih dulu dengan Kepala Akademi sebagai pembicara dan sekaligus ia yang
akan menyatakan ujian tahap kedua ini dimulai.
Tidak sedikit juga
murid-murid akademi yang sedang menganggur ikut membaur sebagai penonton.
Tentunya mereka tidak memakai seragam akademi, itu sebabnya banyak yang tidak
menyadarinya. Mengamati antusiasme dan potensi yang akan peserta tampilkan
mengeluarkan hasrat keingintahuan mereka yang haus akan ilmu dan teknik
bertarung. Selain itu hadir juga tujuh orang perwakilan murid akademi yang
menyandang julukan Pujangga Barat. Kemungkinan mereka ditugaskan oleh kepala
atau wakil kepala untuk ikut serta memberikan nilai pada peserta ujian.
Sayangnya, aku tidak ikut serta di dalamnya. Bermalas-malasan di rumah sudah
menjadi tugasku yang ditawarkan langsung oleh Kepala Akademi beberapa waktu
yang lalu.
Apel dimulai, lembaran bagan
diberikan kepada para peserta. 450 peserta yang ada dibagi menjadi 9 kelompok
A-I. Laksha kebagian kelompok B, Rhea berada di kelompok D, gadis Lakon masuk
ke dalam kelompok C, dan gadis bangsawan itu masuk ke kelompok A. Mereka saling
beda kelompok, apakah tangan Dewa bertindak? Dengan sistem pembagian kelompok
seperti ini, mereka tidak akan bisa saling bertemu nantinya. Tidak akan ada
cerita mereka akan saling adu tenaga dalam maupun adu jotos. Beruntunglah
mereka. Setelah apel selesai mereka bersegera untuk berkumpul dengan kelompok
masing-masing. Belasan orang yang akan bertanding dipersilahkan duduk di bangku
peserta yang ada di bawah tribun, sedang sisanya ikut bercampuraduk di tribun
penonton.
Pertandingan pertama dimulai
dari kelompok A dan kelompok B. Untuk mempersingkat waktu ujian, arena yang
digunakan dibagi menjadi dua. Ujian ini bukan soal siapa yang menang dan
memiliki nafsu membunuh paling tinggi, melainkan dinilai dari teknik bertarung sederhana
yang digunakan selama pertandingan. Itulah sebabnya tidak perlu menggunakan
arena secara penuh demi pertarungan penghabisan. 10 orang dari kelompok A dan
10 orang dari kelompok B, akan ada 5 pertandingan yang akan berlangsung untuk 3
menit ke depan. Ya, 3 menit! Hanya 3 menit waktu yang disediakan oleh akademi.
Mungkin ini terdengar remeh, tapi sekali lagi pihak akademi tidak peduli siapa
pemenangnya di tiap kelompok, melainkan poin yang didapat dari teknik yang
digunakan peserta. Satu hal lagi, ini bukan pertandingan antar kelompok.
Maksudnya, anggota kelompok A hanya akan melawan sesama anggota kelompok A
sesuai bagan yang telah dibuat. Jadi bukan pertandingan antara anggota kelompok
A melawan anggota kelompok B. Inilah mengapa tadi aku mengatakan kalau mereka
berempat tidak akan pernah bertemu dan bertanding.
Pertandingan pertama pun
sudah berlangsung. Empat peserta saling adu kekuatan tenaga dalam mereka.
Cahaya melawan listrik dan tanah melawan angin. Berbagai serangan diluncurkan
ke masing-masing lawan. Jaring listrik, tombak tanah terlempar sana sini.
Pengguna kekuatan cahaya hanya bisa bertahan dengan terus menghindar. Sedang
untuk pengguna angin juga enggan untuk takluk di tangan tanah yang selalu
diinjak-injak oleh manusia. Masing-masing dari mereka tahu bagaimana cara untuk
memberikan perlawanan pada musuh yang ada di depannya. “Tidak ada kawan dalam
arena” adalah kalimat yang selalu digunakan dalam situasi seperti ini. Tidak
peduli seerat apa jalinan pertemanan seseorang, tapi saat beradu di arena,
mereka adalah musuh. Pertandingan pertama untuk kelompok A dimenangkan oleh
pengguna kekuatan listrik, sedang untuk kelompok B diraih oleh pengguna angin.
Sekali kutegaskan kembali bahwa penilaian pada ujian tahap kedua ini berdasar
pada penggunaan teknik, bukan siapa yang menang dan yang kalah.
Pertandingan selanjutnya
berjalan dengan lancar. Soal cedera sudah biasa, tapi tidak sampai menimbulkan
luka berat, karena beberapa hari setelah ini akan diadakan ujian tahap ketiga
berupa wawancara yang harus dihadiri tiap peserta dan tidak boleh diwakilkan.
Tiba sudah giliran Si Gadis Bangsawan
yang sempat berkonflik dengan Rhea dan Laksha. Lawannya adalah perempuan
pengguna kekuatan listrik. Dari awal sudah bisa ditebak bahwa posisi gadis
tersebut sangat diuntungkan. Asal ia berhasil membuat tubuh lawannya
bermandikan air, maka tidak akan sulit lagi baginya untuk mengakhiri
pertandingan. Itulah tujuan yang gadis tersebut pikirkan. Kini mereka telah
bersiap saling berhadapan di arena. “Pertandingan dimulai!”
Serangan pertama diluncurkan
oleh pengguna listrik terlebih dulu. “Panah Sagitarius” Sebiji anak anak panah
melesat dari busurnya dengan kecepatan tinggi mengarah ke gadis bangsawan
tersebut. Bukan hanya kecepatan lesatan anak panahnya saja yang membuat penonton
ternganga tak bisa mengikutinya, tapi juga gerakan tubuh gadis tersebut juga
tidak kalah cepat. Tepat setelah huruf "i" terucap dari mulut wasit,
ia dengan sigap membuat busur dari listrik beserta anak panahnya begitu saja.
Hanya segelintir orang saja yang sanggup melihat pergerakannya dengan jelas.
Sayangnya, serangan pembuka
itu mampu dihindari oleh gadis bangsawan. Hampir sekali listrik yang padat
tersebut mengenai jantungnya. Andaikan ia terlambat menghindar sepersekian
detik saja, pastilah tubuhnya telah tergeletak di arena. Gadis listrik itu
benar-benar berniat ingin menyiderai lawannya, bahkan mungkin berniat untuk
menghabisi si gadis bangsawan dengan sekali serang. Sungguh keterlaluan sekali
padahal dalam peraturan yang berlaku tidak diperkenankan untuk saling
bunuh-membunuh. Gadis bangsawan hanya mengerenyitkan matanya dan segera
memberikan perlawanan. “Kurungan Gelembung!” Bermunculan butiran-butiran air
dengan cepat mengumpul dan melingkar membentuk seperti bola air yang setinggi
dua meter. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, ia berniat untuk
mengunci pergerakannya agar lawannya enggan untuk menggunakan listriknya lagi.
Namun, apa dikata serangannya yang lamban dengan mudahnya dihindari oleh gadis
listrik. Sebelum kurungan air terbentuk dengan sempurna, terdapat celah di
bagian atas dan ia melompat keluar melaluinya.
“Cih!” Lawannya cukup tangguh
juga, tidak bisa jika tidak melawannya dengan serius. Waktunya hanya 3 menit,
kini sudah berlalu 35 detik. “Pergerakanku cukup lambat, aku tidak bisa
mengandalkan kecepatan dalam pertarungan ini”. Gadis bangsawan itu mencoba
bertaruh dengan pertarungan jarak dekat. Tujuannya masih tetap sama, dan untuk
mencapainya dibutuhkan kecepatan yang setidaknya setara dengan lawannya.
Gadis bangsawan itu lantas
berlari mendekat dengan pergerakan zig zag. Itu dapat mengantisipasi adanya
serangan panahnya. Secara fisik gadis itu memiliki tubuh yang tidak lemah.
Semangat juangnya tercermin jelas dari raut wajahnya. Dalam hitungan detik dia
sudah berhasil mendekati lawannya. “Aliran listriknya bersumber dari telapak
tangannya, kalau begitu...” Gadis bangsawan itu menjalarkan tangannya berusaha
menggenggam tangan lawannya. “Bantalan Gelembung!” Bulatan air menyelimuti
tangan kiri si gadis listrik. “Dengan begini, satu tangan sudah kuatas-”
“Kena, kau!”
*Eh?
“Lilitan Rantai!” Gadis itu
tersenyum jahat. Sebuah rantai bertegangan tinggi muncul dari telapak tangannya
dan segera melilit ke tangan kanan Si Gadis Bangsawan. “Aaaaaaaaaaaaa!!!”
Percikan listrik berwarna keunguan mencoba mengakar ke udara lepas disertai
jeritan ganas yang dililitnya. Tak bisa lepas. Saat tubuh terkena listrik
bertegangan tinggi, maka semakin sulit bagi otak untuk mengendalikan syaraf
pada tubuh. Sebuah kesalahan besar telah dibuatnya, inilah yang dimaksud dengan
resiko. Memilih pertarungan jarak dekat dengan seorang Sakti pengguna listrik
adalah kesalahan besar. Gadis bangsawan tersebut pasti tidak mengira kalau
tubuh dari lawannya tersebut kebal terhadap listrik.
Ia masuk ke dalam lubang yang
telah dibuat lawannya. Serangan pembuka tadi sebenarnya hanyalah uji coba
semata untuk memastikan seberapa cepat pergerakan lawannya. Selain itu juga ia
menunggu serangan balasan dari panahnya tersebut, sehingga si gadis bangsawan
pun terpancing dan melakukan serangan balasan. Pada awalnya, ia tak tahu elemen
jenis apa kekuatannya si gadis bangsawan, tapi dengan adanya serangan “Kurungan
Gelembung” ia bisa memastikan kalau lawannya adalah pengguna air. Dari situ
pula ia menyadari kalau serangan si gadis bangsawan cukuplah lamban, kemudian
dia berasumsi kalau si gadis bangsawan pasti memiliki rencana selanjutnya. Dia
juga berpikiran seandainya Si Gadis Bangsawan menyadari akan kelemahan
dirinya, maka ia akan mengganti cara bertarungnya dan terjadilah serangan jarak
dekat. Si Gadis Listrik sudah memikirkan semua perkiraan yang akan terjadi
berikutnya, ia sudah bersiap diri. Hingga akhirnya serangan si gadis bangsawan
datang dan berhasil dimanfaatkan olehnya untuk melumpuhkan sekujur tubuhnya.
“Cukup!” Wasit yang mengawasi jalannya pertandingan memberikan tanda
berakhirnya pertandingan ini. Gadis bangsawan sudah terbujur kaku jatuh
telungkup di depannya. Dengan begini, pertandingan berakhir, dimana si gadis
listrik yang keluar sebagai pemenangnya. Tak lama setelah itu, tim medis datang
dari tepian menuju tengah arena untuk mengamankan si gadis bangsawan dan
dibawanya ke ruang pemulihan.
Pertandingan terus berlanjut.
Matahari yang semakin meninggi diikuti oleh teriakan yang tinggi pula. Satu
persatu peserta turun dari tribun penonton menuju tempat duduk peserta sebelum
akhirnya mereka saling beradu di arena. Pertandingan yang selang-seling membuat
jalannya pertandingan terbagi rata. Sebelum istirahat siang, Rhea lah yang
menjadi pertandingan penutupnya. Sejak awal tadi, Rhea duduk di samping Laksha,
dan kini ia sudah berdiri di arena. Lawannya adalah seorang lelaki berambut
hijau sebahu. Masih belum diketahui jenis kekuatan apa yang lawannya miliki.
Jangankan lawannya yang tak pernah berjumpa sekalipun, Laksha sendiri tidak
mengetahui jenis kekuatan Rhea, padahal beberapa hari ini mereka sering
terlibat dalam masalah, dan tak pernah sekalipun Rhea menampakkan kekuatannya.
Dengan adanya pertandingan ini, rasa penasaran akan hal tersebut akan lenyap
saat wasit mengeluarkan aba-abanya.
“Mulai!”
Langkah mundur dilakukan oleh
Rhea, memasang kuda-kuda seperti orang yang tidak akan maju dan lebih memilih
tuk bertahan. Lawannya masih belum memberikan perlawanan, tapi sedikit langkah
ke depan dilakukannya perlahan. Beberapa detik berlalu masih belum ada serangan
pembuka. Rhea seperti biasa, bukannya memperhatikan gerak-gerik musuh melainkan
menundukkan kepalanya, sedang lawannya sejak tadi terus dengan fokus tertinggi
menganalisa musuh yang ada di depannya. Setelah dirasa yakin, akhirnya pertandingan
yang sebenarnya dimulai. “Retakan Bumi!” Lelaki itu ternyata tidaklah bodoh.
Menggunakan serangan jarak jauh untuk mendapatkan data terlebih dulu soal
karakteristik lawannya. Hal ini sama persis dengan apa yang dilakukan oleh Si
Gadis Listrik yang melawan gadis bangsawan tadi. Dalam pengamatan, ada tiga hal
penting yang harus dipahami. Pertama adalah bagaimana ia menghindari serangan,
itu yang baru saja lelaki itu ingin ketahui. Kedua adalah bagaimana cara
lawannya bertahan, lelaki itu berusaha mendekat setelah Rhea menyingkir
beberapa meter dari serangan yang dilancarkan, dan yang ketiga adalah bagaimana
pola penyerangan lawannya. Lelaki itu ternyata ahli dalam beladiri.
Pukulan-pukulan tak berjeda berusaha disarangkan ke wajah Rhea. Tak disangka
Rhea berhasil menghindari semua serangan yang ditujukan padanya. Ia hanya
menghindarinya saja, bahkan kedua tangannya pun hanya memegangi tudung yang
dikenakannya. Terkejut Laksha melihat kejadian tersebut, dengan santainya Rhea
bisa melakukan hal seperti itu.
Data kedua terkait bagaimana
seseorang bertahan memang belum didapatkan karena Rhea hanya menghindar saja.
Lelaki itu dikejar oleh waktu, bagaimanapun ia berambisi untuk mengalahkan
perempuan yang sudah meremehkan kekuatannya hanya dengan menghindar saja tanpa
ada satu pukulan yang berhasil mengenainya. Kepala yang dimakan oleh teriknya
matahari, kesabaran lelaki itu sudah habis. Tidak ada artinya jika pertandingan
berakhir tanpa ada yang kalah tak berkutik. Ia mengambil langkah terakhir
dengan menjaga jarak dengan Rhea. Mengambil napas dalam-dalam lalu memukul
tanah tak berdosa. Tanah yang semula tertidur mendadak berguncang dan dengan
cepatnya tanah yang dipijak Rhea memukul ke atas mementalkan Rhea begitu
tinggi sampai keluar arena. Pertandingan berakhir dengan lelaki itu sebagai
pemenangnya. Beberapa penonton yang dijatuhi Rhea dengan kesadaran diri membawa
Rhea menuju ruang pemulihan. Pertandingan untuk kelompok D ditutup oleh
kekalahan Rhea. Seseorang memberikan sinyal bahwa pertandingan akan rehat
selama 30 menit untuk istirahat siang. Penonton mulai berhamburan beserta
peserta ujian pula. Hari ini adalah hari spesial, banyak orang sudah mengetahui
kapan ujian dilaksanakan. Alhasil banyak warung dadakan beralaskan tikar digelar
di depan akademi. Meski kantin akademi dibuka, itu tidak akan mencukupi
banyaknya orang yang sedang meraung kelaparan.
Bagian 5 - Pulang
• 17 Telu 680 Danindra – Akademi Aryasetya
“Peserta selanjutnya!”
Ujian tahap ketiga sudah berlangsung dua jam
lebih. Terdapat tiga ruangan yang digunakan untuk sesi wawancara. Tiap ruangan
berisi tiga pengajar akademi yang siap mencecar peserta dengan banyak
pertanyaan. Lagi-lagi mereka berempat berada di ruang yang berbeda, kecuali
Laksha dan Rhea yang mendapatkan ruang yang sama, hanya waktu saja yang
membedakan kapan giliran mereka akan tiba. Sepintas, Laksha teringat dengan
sebuah kejadian yang membuatnya harus memasuki ruang interogasi penjaga kota.
Sudah seminggu berlalu, tapi rasa kesal menghampiri sesaat. Mereka yang juga
sama-sama mennnggu giliran asik berbincang dengan kawan mereka. Ya, mereka
tidaklah sendiri, tidak seperti Laksha yang merantau tanpa satupun yang
dikenalinya. “Hei, apa yang ditanyakan oleh mereka?” Salah satu dari kawannya
baru saja keluar dari ruang interogasi dan langsung diapit kawannya yang
menunggu di luar. Tidaklah lama tiap peserta mendekam di ruang tersebut,
sekitar satu sampai tiga menitan saja. Itu pertanda kalau pertanyaan yang
diberikan mungkin tidak terlalu banyak, satu atau dua pertanyaan sepertinya.
Meski begitu jika dihitung secara keseluruhan bisa memakan waktu hingga tujuh
jam setengah. Beruntunglah mereka yang memiliki huruf "A" sebagai
pembuka nama mereka. Laksha berawalan "L" dan Rhea "R",
sudah bisa dipastikan kalau mereka akan mendapatkan giliran setelah istirahat
siang. Berbeda dengan ujian tahap kedua sebelumnya yang diacak, sesi wawancara
ini diurutkan sesuai huruf pertama pada nama peserta setelah dibagi menjadi
tiga bagian. Mereka berdua sampai menyesal datang ke akademi dengan penuh
semangat. “Candra Putra Dwika silahkan masuk!”. Masih dari huruf "C",
masih lama. Laksha kemudian berinisiatif untuk jalan-jalan menelusuri akademi,
siapa tahu dia akan lolos ujian... Tidak, tapi dia memang harus lolos ujian.
Akademi ini berbentuk persegi
panjang dengan bagian tengahnya adalah taman, mirip seperti penginapan yang
mereka tinggali saat ini. Sungguh indah rupawan taman tersebut, terlihat sangat
terawat dengan baik. Terdapat dua pohon yang menjulang tinggi dengan dahan yang
merebak memakan lahan di udara. Bayangannya meneduhkan mereka yang sedang
duduk-duduk bahkan ada yang tiduran di bawahnya menikmati udara segar selagi
bisa. Taman ini pun tak kalah ramainya dengan kantin yang sudah mulai diserbu
peserta. Laksha dan Rhea yang sudah mengisi perutnya disaat yang lain masih
sibuk berkerumun di dekat ruangan memilih untuk menyandarkan punggung mereka ke
dada kursi yang terbuat dari kayu. “Humm... Ahhhh...” Laksha mengeluarkan beban
dari tubuhnya dengan sekali tarikan napas yang dalam. Semakin panas cuaca yang
ada, maka semakin segar pula udara yang dihasilkan oleh pepohonan. Dia dengan
pasrahnya memejamkan mata tanpa rasa cemas sedikitpun. Istirahat berlangsung
selama tiga puluh menit, mungkin tidak ada salahnya membiarkan Laksha tertidur
sejenak. Rhea yang berpikiran seperti dengan sukarela menunggunya sampai ia
terbangun dengan sendirinya, atau ia yang akan membangunkannya sekiranya
istirahat sudah selesai namun ia tak kunjung bangun. Pada saat itu, dunia
terasa begtu tentram sekali. Mungkin saja selama beberapa hari ini Laksha sudah
tidak memikirkan tujuan hidupnya selama ini. Alasan mengapa ia bersedia untuk
menerima keputusan Ayahnya untuk belajar di Akademi Aryasetya.
“Laksha Kara Catura silahkan
masuk!” Akhirnya setelah penantian berjam-jam terbayar lunas. Namanya dipanggil
untuk ikut serta ke dalam ruang antah barantah. Tak diketahui siapa tiga sosok
misterius penjaga ruang tersebut. Singa 'kah? Gagak 'kah? Atau kucing? Semua
akan terjawab saat pintu tersebut dibuka.
*Ngeeekk (Pintu terbuka)
Cahaya bersinar terang
menghasilkan tiga siluet yang nampak sedang duduk berjejer di depan jendela.
Laksha yang mengerenyitkan mata berusaha menghalau sinar Dewa itu masuk
membutakan penglihatannya. Berjalan masuk ke dalam ruangan, silauannya mulai
meredup. Sedang duduk di sana tiga pengajar akademi yang siap menguji Laksha
dengan beberapa pertanyaan. Untuk sesaat ia hanya berdiri terdiam sebelum salah
seorang dari mereka memintanya untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
Canggung, atau mungkin lebih tepatnya ia khawatir dengan pertanyaan yang akan
diajukan. “Apa yang harus kujawab nanti?” Matahari belum tenggelam, namun
seekor ayam sudah gelisah dibuatnya. Salah satu pengajar berkacamata yang
berada di kiri Laksha memulai dialog ringan dengan memastikan identitas
peserta. Nama, usia, tempat tanggal lahir, alamat rumah, nama orang tua, status
(bangsawan atau rakyat biasa) bahkan pendidikan yang ditempuh sebelumnya juga
tidak luput dari sepaket identitas yang ditanyakan.
“Nama saya adalah Laksha Kara
Catura. Saya berusia 15 tahun. Saya lahir pada tanggal 28 Papat 665 Danindra di
Kota Maja. Saya tinggal di kediaman bangsawan Catura bersama orang tua dan
beberapa pelayan. Pendidikan terakhir saya... Akademi Dasar kota Maja”. Tak
seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, rupanya ia bisa menjawab dengan lancar.
“Bangsawan Catura?” Pengajar
itu mulai melakukan aksinya. Ia membuat segala sesuatu yang mudah menjadi
sulit. Memastikan seolah peserta yang ada di depannya bukanlah seorang
pendusta. Dia tahu soal Bangsawan Catura yang ahli dalam bidang medis.
Persoalan tersebut lanjut ditanyakan pada Laksha, apakah ia ahli di bidang
tersebut atau tidak. Jawaban singkat langsung keluar dari mulutnya.
Ketidakbisaan seorang bangsawan mempelajari apa yang sudah menjadi keahlian
marganya adalah sebuah poin minus baginya. Memang terdengar konyol jika menilai
kemampuan seseorang hanya berdasarkan pada keahlian marganya, tapi tradisi
tersebut nampaknya masih berlaku hingga sekarang. Pengajar tersebut tidak
menindaklanjuti jawaban dari Laksha dan beralih ke pertanyaan selanjutnya, dan
inilah yang paling dikhawatirkan oleh Laksha. Pengajar tersebut mempertanyakan
perihal akademi dasar dimana Laksha adalah lulusan dari sana. Setiap lulusan
dari akademi pasti akan mendapatkan ijazah sebagai tanda kalau orang tersebut
telah belajar dan lulus dari akademi tersebut. Orang itu mencurigai kalau
ijazah yang sedang dipegangnya itu adalah palsu. Tanpa bertele-tele Laksha
langsung membantah kecurigaan pengajar tersebut. “Ijazah yang sedang anda
pegang dan anda pertanyakan keabsahannya itu adalah asli”. Pengajar itu
mengakhiri dialog sampai di situ lekas berganti ke pengajar wanita di kanan
Laksha.
Wanita berambut hitam itu
sudah terlihat tua, mungkin berkepala empat. Sedikit garis-garis keriput
menjadi retakan di wajahnya. Setelah persoalan identitas selesai, kali ini
pengajar tersebut mempertanyakan soal kemampuan Laksha. Pengguna kekuatan apa,
teknik apa yang dikuasai, dan perkembangan saat berlatih. Bagi seorang Laksha
yang tiap malam selalu berlatih tanpa absen, pertanyaan itu sangatlah dengan
mudah dijawabnya. Dengan lancar ia menjawab satu persatu persoalannya. “Saya
adalah pengguna kekuatan angin. Teknik yang paling saya kuasai adalah melarikan
diri. Soal perkembangan latihan saya, memang tidak langsung naik signifikan,
hari demi hari saya terus berlatih dan merasa hari ini lebih baik daripada
kemarin”. Penjelasan yang singkat, padat, jelas, dan positif. Menumbuhkan
kembali kepercayaan diri yang sesaat sempat luntur. Wanita itu membalas jawaban
Laksha dengan rasa heran “Melarikan diri?” Laksha segera menceritakan sedikit
kisah soal dirinya yang sering diburu oleh pelayannya untuk makan siang di
rumah. Itulah sebabnya mengapa ia sangat ahli dalam melakukan pelarian.
Dibanding dengan jawaban peserta lain, mungkin jawaban yang dilontarkan oleh
Laksha adalah jawaban yang paling menyepelekan sesi wawancara ini. Tiap orang
pasti akan memberikan jawaban sebagus mungkin seolah dirinya adalah yang
terhebat dari peserta lain, tapi sayangnya tidak dengan Laksha yang lebih
memilih menjawabnya dengan jujur terkait teknik yang paling dikuasai dan sering
digunakannya tersebut. Hanya itu yang ditanyakan olehnya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Tak terasa hari penentuan yang mendebarkan datang begitu saja. Meski kemarin
Laksha mampu menjawab pertanyaan dengan baik, mampu memenangkan pertandingan,
dan menjawab semua soal di lembar jawaban. Dalam benaknya ia masih ragu
mungkinkah semua yang dilalui berjalan begitu mulus tanpa hambatan yang
berarti? Akademi sudah ramai akan sekumpulan orang yang penasaran apakah
namanya ada pada daftar orang yang selamat atau celaka. Gadis bangsawan juga
sudah ikut berkerumun di sana beserta dua bawahannya. Si Gadis Lakon dengan
menyamarkan hawa keberadaannya dia diam-diam menyelinap menuju bagian terdepan.
Mereka mengerumuni dua buah papan yang terletak di halaman depan akademi. “Oi,
namaku tertulis di sana!” “Namaku juga, uhuy!” Berbagai sorakan kemenangan dan
jeritan kemalangan campur aduk menjadi satu mewarnai indahnya pagi di bawah
langit biru. Segukan tangis para gadis yang tidak lolos menjadi lagu kesedihan
yang meratap. Laksha yang mulai ditarik magnet haus akan sebaris nama ikut
menyelami lautan manusia. “343... 343... 343... Ah, ketemu”. Nomor peserta
ujian milik Laksha tertulis dengan jelas di papan pengumuman yang berada di
urutan 89. Dari 450 pendaftar, 100 peserta yang lolos, ia berada sedikit di
atas dari jumlah peserta yang diterima. Itu sangat bagus, ia berhasil
mengalahkan 356 peserta yang juga telah berjuang dengan penuh semangat.
Akhirnya, ia bisa pulang membawa kabar gembira. Si Gadis Bangsawan berhasil lolos
dan berada di peringkat 90, tanpa diundang Si Gadis Lakon memberitahu pada
Laksha yang sedang berdiri di sana bahwa dirinya juga berhasil lolos dengan menduduki
peringkat 82, dan sebuah keajaiban Rhea juga berhasil lolos dengan mengambil
jatah peringkat 87. Rhea berhasil membuat sebuah kejutan dengan mendapatkan
skor yang lebih tinggi dari Laksha dan Si Gadis Bangsawan. Kabar lebih mengejutkan
datang dari dua bawahan Si Gadis Bangsawan. Mereka berhasil menduduki kursi
nomor 75 untuk si pengguna bayangan dan nomor 79 untuk si pengguna tanah. Sebuah
kejutan sebelum awal semester dimulai.
Para mantan peserta ujian masuk
Akademi Aryasetya dengan menelan gula dan kopi membubarkan diri tak lama
setelah itu. Bagi mereka yang datang jauh-jauh ke kota ini segera kembali ke
penginapan mereka dan segera mengemasi barang bawaan mereka. Laksha juga turut
melakukan hal yang sama dengan yang lainnya. Setelah berkemas dan akan keluar
penginapan, tiba-tiba kereta kuda yang tidak asing di matanya muncul begitu
saja. Kereta yang sama dengan yang mengantarkannya satu minggu yang lalu untuk
datang ke kota ini, bahkan kusirnya pun juga tidak berubah. “Silahkan masuk
Nona Laksha”. Dengan penuh sopan santun ia melayani penumpangnya dengan
profesional. Meski Laksha sendiri masih kebingungan, tahu darimana kalau hari
ini dan pada pukul ini ia akan berkemas untuk pulang. Wanita Resepsionis hanya
bisa mengantarkannya sampai di depan penginapan saja. “Anu... Apa Si Gadis
Kikuk tidak pulang ke rumahnya?” Aneh, Rhea yang sudah lumayan dekat dengan
Laksha tidak menampakkan batang tudungnya yang lusuh itu saat kepergian Laksha.
Wanita Resepsionis mengatakan kalau Rhea sejak awal memang sudah berencana
tinggal di sini jika ia gagal dalam ujian. Jadi, semua barang-barangnya sudah
dibawanya sejak kali pertama datang kemari. “Kalau begitu tolong sampaikan
padanya, sampai bertemu di asrama perempuan akademi satu minggu lagi”. Tali
melecut kuda pun berjalan. Meninggalkan mereka dengan sedikit senyuman adalah
hal yang pantas dilakukan. Sebuah misi yang telah diberikan oleh ayahnya
padanya telah berhasil diselesaikan dengan baik. “Ayah, Ibu, aku pulang”.
Bersambung


Tidak ada komentar:
Posting Komentar