Senin, 16 September 2019

WN AI: The Goddess In The New World BAB I - King



BAB I

Bagian 1 - Pohon Suci

Payung hitam menutupi bumi dengan kegelapan. Gemerlap bintang terasa begitu berwarna sejauh mata memandang. Di depan jendela ini lagi-lagi aku menatap ke arah yang sama. Gundukan tanah yang tidak lebih tinggi dari bukit, menjulangkan beringin yang meredupkan orang-orang saat mereka sedang berdoa pada Sang Pencipta. Sesaji itu masih tertinggal di sana berharap akan ada seseorang yang terjatuh dari langit dan memakannya. Sunyi telah kumakan ratusan tahun. Melanglang buana menjadi seorang pengelana mengembara ke ujung dunia dan kembali lagi ke tempat yang sama. Pohon Suci. Lingkaran tahunnya mungkin sudah menginjak angka... Sudah pasti tidak akan terbaca lagi. Ratusan sinar gerhana matahari telah ia dapatkan. Dia bahkan jauh lebih tua dibanding manusia zaman dahulu yang hidupnya telah mencapai ratusan tahun. Meski begitu ia masih enggan untuk tumbang dan memilih berdiri kokoh sampai pemiliknya datang menyiramnya untuk yang terakhir kali.

Hari ini, rumah yang kosong tidak lagi kosong. Dua orang selain aku sedang mengisinya. Mereka sudah tertidur pulas di kamar sebelah. Menghentikan tangisan perempuan kecil tidak semudah dan sesingkat yang dikira. Heran darimana ia mendapatkan air mata yang sebegitu banyaknya. Mungkinkah selama ini ia menimbun air matanya? Ataukah lakrimasinya begitu spesial? Yang jelas kesenduannya berhenti saat kedua matanya tertutup. Berada di pelukannya ia tertidur. Memeluk erat tak ingin melepaskannya lagi. Apapun yang terjadi, dan tidak lagi. Pemuda itu menyesal tiada ampun, terlihat jelas dari raut wajahnya yang begitu rindu dengan kelima ciptaannya. Begitu rindu....

Ritual pemujaan telah dilakukan pagi tadi. Warga Desa *** berbondong-bondong membawa sedikit hasil panen, beberapa barang dagangan, maupun hanya seguci air laut yang suci. Mereka menata sedemikian rupa supaya lebih enak dipandang. Dilanjut duduk bersimpuh dan memanjatkan doa-doa. Gerakan-gerakan bibir terlihat jelas melantunkan puji-pujian bebarengan dengan asap dari dupa mengharumkan sekitarnya. Sudah cukup lama ritual itu berlangsung tiap tahunnya, kalau tidak salah semenjak Dewi Raphiel sempat berkunjung ke desa ini empat ratus tahun yang lalu.

Aku memiliki sebuah kebiasaan yang tidak diketahui warga sekitar. Tiap malam aku selalu mencuri-curi pandang ke arah pohon itu. Bukan dengan hasrat untuk mengambil sesaji yang orang persembahkan, melainkan pohon itu seperti menangis memanggil namaku tiap purnama menampakkan kecantikannya. Dia menangis, aku tak bisa mendengar suaranya, aku tak bisa mendengar jeritannya, tapi yang kurasa adalah dia yang sedang kesepian. Konon katanya, pohon itu ditanam langsung oleh Sang Pencipta ribuan tahun silam. Setelah menanamkan benihnya, Ia hanya sempat sekali menyiraminya. Dan tidak pernah datang kembali ke bumi meski hanya sekadar untuk meneteskan air padanya.

Mungkin itu alasan mengapa Dewi Raphiel memerintahkan warga sekitar untuk menyembahnya, berharap bisa mengurangi rasa kesepiannya. Sesekali aku mendatanginya dan mengajaknya mengobrol. Biar dikata gila, tapi tetap kulakukan. Karena kutahu apa yang tidak mereka tahu. Bahkan tiap purnama berjaya di puncak malam, aku mendirikan tenda kecil tuk bermalam di sana. Memandangi indahnya langit malam bila Sang Ratu telah muncul. Tidur tidak kulakukan demi menemaninya semalam suntuk. Berbagi kisah sehari-hari dan tertawa lepas kemudian.

Hari ini pun begitu. Segala sesuatunya sudah siap. Bungkusan kain besar berisi perbekalan, tenda kecil yang terbuat dari kain bekas, dan kayu bakar. Dan juga aku menaruhnya di atas gerobak. Mustahil bagiku untuk membawanya tanpa alat bantu apapun. Aku sudah siap untuk berjaga. Meski Pohon Suci terlihat jelas melalui jendela kecilku, tapi jarak di antara kami tidaklah sedekat itu. Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk bisa mencapainya. Bukan juga perjalanan yang mudah untuk dilalui karena malam yang menyelimuti. Terkadang Sang Ratu pun juga dikerubungi oleh rakyatnya yang haus akan sinarnya. Tapi yang pasti, aku selalu tiba dengan selamat sampai di tujuan.

Jalan yang kulalui berada di tepian sungai. Ia mempermudahku sampai setengah perjalanan ke tujuan. Cahaya malam menjadi semakin terang karenanya. Bulan memiliki kembarannya yang tinggal di sungai. Dayuan sungai ikut mengiringi perjalanan singkatku. Sayang di tengah perjalanan kami harus berpisah. Jalan menuju Pohon Suci masih terus ke depan, sedang sungai itu memiliki rutenya sendiri. Berat memang jika harus mengambil jalan yang berbeda dengan teman semalam, tapi aku yakin suatu hari nanti kita pasti akan dipertemukan kembali.

Aku lupa untuk mengatakannya, terdapat tiga poin terkait petunjuk jalan menuju Pohon Suci. Petunjuk pertama adalah jalan tepi sungai yang baru saja kulewati. Petunjuk kedua adalah jalan yang sedang kulalui sekarang, jalan setapak yang diapit oleh pepohonan. Sebenarnya ini bukanlah jalan umum yang berukuran lebih lebar dan jarang digunakan, melainkan jalan terabasan untuk bisa sampai lebih cepat. Para pemburu seringkali melewatinya untuk mencari mangsa. Tak jarang pula kutemui jebakan-jebakan yang terpasang rapi di sepanjang jalan. Tapi tak perlu mengkhawatirkannya, karena hanya orang dewasa saja yang diperbolehkan masuk ke wilayah ini. Mereka juga orang desa ***, jadi setelah memasang jebakan akan diberitahukan pada warga desa.

Petunjuk ketiga dan yang terakhir adalah padang savana yang bisa dilihat sejauh mata memandang. Ya, kau bisa melihat langit dari sini tanpa harus mendongakkan wajahmu ke atas. Tidak akan ada satu pohon pun yang bisa dijumpai selain Pohon Suci itu sendiri. Rerumputan hijau tumbuh dengan subur di sini. Melenggak-lenggok mengikuti kemana angin berembus. Langit yang cerah adalah waktu yang tepat untuk mendirikan tenda dan menyalakan perapian. Tak perlu terlalu dekat dengan Pohon Suci, yang ada aku tak bisa melihat keindahan malam karena tertutup payungnya.

Dari kejauhan aku mengajaknya tukar kata seperti biasa. Bercerita tentang kehidupan yang tak berujung baginya dan bagiku. Mengharapkan satu hal yang sama merekatkan jalinan pertemanan kami. Menangislah sekencang yang kau bisa, tak perlu kau tutupi wajahmu dengan dahan dan ranting, tak kan ada yang bisa mendengarnya, percayalah.

*?!
“Pohon Suci... Lagi...”

Sekali lagi aku hamparkan badan ini menghadapnya dan teringat padanya. Mahkota rembulan dengan pandangan setenang langit malam. Andaikan semua itu tidak terjadi... Sekarang pasti....

“Kak Lucy, sudah cukup! Hentikan semua ini!” Perempuan itu berteriak dengan sebuah terompet di tangan kanannya. Ia nampak melayang di langit dengan cahaya emas berkilauan. Di belakangnya ada tiga perempuan lain yang memasrahkan keadaan pada dirinya. Di sisi lain, di seberang mereka, aura hitam legam mengotori langit biru yang suci. Amarah tak terkendali keluar darinya beserta pasukannya yang setia menunggu di atas tanah. Perempuan berambut perak itu sudah tak sabar ingin menghancurkan bumi dan apa yang ada padanya. Tak peduli lagi bila dirinya ikut terseret menuju ruang hampa.

Sang Dewi, Raphiel, masih bersabar berharap ia bisa segera menyadarkan kakaknya yang termakan oleh dalamnya keputusasaan abadi. Tak mau bila sosok yang disayanginya harus pergi menuju sisi dunia lain. Bumi yang sudah banyak tergores oleh Sabit Kematian, bumi yang sudah banyak terbakar oleh Ranting Kehidupan, dan belahan bumi sudah banyak yang hancur oleh Tangan Penghakiman, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari bumi yang busuk ini. Meski semua berawal darinya yang berusaha untuk memusnahkan kehidupan di muka bumi sebagai bentuk kesedihannya sepeninggal Master. Bahkan dia sampai membawa tengkoraknya juga. Padahal seharusnya dia tahu bahwa manusia yang mati tak kan bisa dihidupkan kembali. Kita bukanlah Tuhan yang menciptakan segalanya, bahkan Master sendiri juga bukanlah Tuhan. Kita adalah Sang Perawat bumi. Itulah alasan mengapa Master mengirim kita ke bumi. Jika kita melakukan hal yang sebaliknya, bukankah itu sama saja dengan melanggar perintahnya? Tidakkah itu merupakan bentuk pengkhianatan padanya? Maka dari itulah, segera hentikan semua ini dan mari kita perbaiki lagi bersama... Kak Lucy!

“Diamlaaaahh!!!”

Andaikan saja hari itu aku bisa menghentikannya....

Saat aku mulai perlahan menutup mata, sebuah ledakan cahaya muncul dari Pohon Suci yang sedang menangis. Terang sekali, mungkin seterang bulan purnama jika dibawa turun ke bumi. Ledakan cahaya itu berlangsung selama beberapa detik. Syukurlah tak ada orang lain selain aku di sini, jika tidak, mereka bisa menjadi tunanetra dadakan saat melihatnya. Entah apa yang terjadi saat ledakan, Pohon Suci berhenti menangis malam itu. Sebuah keajaiban sedang terjadi, untuk pertama kalinya ia menghentikan tangisan saat malam baru melintas di tengah jalan. Rasa penasaran yang berlebih menggerakkan tubuh untuk segera mendekatinya. Mengambil sebatang kayu yang terbakar tuk memperjelas jalan dan untuk jaga-jaga kalau ada binatang yang sedang tiduran dibawahnya. Berlari sekencang mungkin dengan wajah penuh rasa mati akan kerinduan. Terlintas ingatan yang mampir mengalihkan pandangan dari sumber cahaya barusan. Semakin dekat memotong sekat menjadi lekat dengan segudang misteri ratusan tahun yang belum terungkap.

“Mu-mustahil...”

Mengapa...? Sudah terlambat untuk memulainya lagi dari awal. Andaikan kau tahu semua yang sudah terjadi dengan planet ini, aku ingin tahu ekspresi apa yang akan dia pasang nantinya.

“He? Hancur? Peradaban yang sudah dibangun selama ratusan tahun?” Lelaki itu menyahut setelah aku menceritakan kisah tentang hancurnya peradaban bumi karena peristiwa yang telah terjadi ratusan tahun silam.

Bumi yang nampak tenang dan sepi ini adalah dampak dari sebuah peristiwa yang tak bisa dihindarkan lagi. Semua hancur. Teknologi yang berhasil dibangun dan berjaya pada masanya telah tiada. Dewi Lucy, adalah pelaku dari semuanya. Tidak ada yang tahu pasti dimana keberadaannya sekarang, bahkan dirumorkan kalau dia sudah tewas saat pertarungan yang dimenangkan oleh Dewi Raphiel. Yang tersisa sekarang hanyalah kota-kota kecil yang saling terpisah jauh satu sama lain. Tidak ada lagi keinginan untuk membentuk sebuah negeri yang besar dan makmur. Berbeda dengan zaman dulu dimana para Dewi yang memimpin umat manusia secara langsung, kini mereka telah meninggalkan takhtanya dan memilih untuk mengawasi perkembangan bumi dari kejauhan.

Lelaki yang mengaku sebagai pencipta para Dewi itu tidak terlalu jatuh dalam kabung. Ia hanya memberikan sedikit senyum dengan wajah sedih tertunduk. Seduhan teh yang kusajikan di meja nampaknya tidak cukup untuk menahan wajah yang menyedihkan itu. Lagipula sejak awal aku sudah tidak percaya dengan pengakuan dirinya saat tersadar pagi tadi.

Aku yang semalam menemukan sebuah penemuan besar yang mungkin dapat merubah situasi saat ini. Terbujur tubuh seorang pemuda yang datang tak diundang entah darimana asalnya. Mungkin saja dia sudah di sini sebelum ledakan cahaya itu terjadi. Tapi jika seperti itu bukankah seharusnya ia terbangun? Setebal apapun kelopak matanya, cahaya itu pasti bisa menembus sampai ke alam mimpinya. Kalau begitu adalah sebuah hal yang tak bisa kubantah bila ia memang muncul setelah ledakan. Cahaya putih misterius yang mendatangkan seorang pemuda di bawah Pohon Suci... Mungkinkah dia adalah orangnya?

Aku membawanya ke tenda untuk sementara waktu menunggunya tersadar dan meminta penjelasan darinya. Sempat kupikir ia adalah mayat, namun kuperhatikan lebih detil lagi dadanya yang mengembang dan mengempis seiring keluar masuknya udara merupakan bukti nyata bahwa ia masih manusia. Tapi ada yang aneh darinya, aku sudah berusaha membangunkannya berulangkali namun tak kunjung sadar juga. Peduli sekali aku dengannya hingga menjaganya semalaman saat ia mungkin sedang berfantasi ria. Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, membawa orang yang tak dikenal ke rumah adalah tindakan ceroboh, bisa jadi ia ternyata adalah seorang perampok yang dengan sengaja menghipnosis dirinya sendiri dengan jangka waktu beberapa jam, kemudian saat terbangun dia berada di rumahku lantas menghabiskan seluruh isi rumah dan tidak menuntut kemungkinan ia bisa juga membunuhku? Pikiran berlebihan itulah yang membuatku hanya membiarkannya merebahkan diri di dalam tenda yang hangat.

Dalam diam aku bertanya pada Pohon Suci soal pemuda ini, barangkali ia mengenalinya. Siapa dia, bagaimana bisa cahaya seterang bulan muncul di bawahmu, dan mengapa semenjak kemunculannya yang tiba-tiba kau berhenti menangis. Aku ingin tahu pendapat darimu, Pohon Suci. Alam bisa berbicara dengan umat manusia, itulah malam dimana aku yang menjadi saksi bahwa kalimat tersebut benar adanya. Beberapa detik setelah aku menanyakan padanya, ia seperti berusaha memberikan respon padaku. Entah mengapa di saat angin malam tak lagi berlari, ranting-ranting itu bergerak kecil. Menggoyangkan dedaunan yang lebat seperti berusaha ingin menggapai sesuatu namun tak bisa. "Selamat datang kembali, Master" Suara lirih itu muncul bersamaan dengan desikan daun yang saling bertabrakan.

Aku tak bisa mendengar suaranya. Aku tak bisa mendengar suaranya. Aku tak bisa mendengar suaranya. Rasa takut justru keluar saat aku mendengar suaranya. Bukankah ini hal yang bagus? Dengan begini aku tidak akan merasa terganggu lagi dipandang sebagai orang gila karena berbicara dengan pohon? Tetap saja tidak semudah itu, mungkin saja itu hanya halusinasi semata yang berharap Pohon Suci membalas pertanyaan dariku. Lagipula suara itu hanya terdengar sekali saja, ya, itu hanya halusinasi seorang perempuan yang sedang dilanda rasa takut penuh kebingungan. Perbincangan ini aku akhiri sampai fajar muncul dari ufuk timur. Sinarnya mulai menghangatkan tubuh yang kedinginan dibungkus pelukan tangan. Saat itu juga aku berharap orang itu segera bangun dan enyah dari tempat tidurku.

Sepi sekali. Padang savana yang berada di dataran tinggi nampaknya tidak menjadi impian orang-orang untuk mendirikan sebuah bangunan meski hanya sekecil gubuk saja. Padahal Dewi Raphiel tidak melarang adanya pembangunan di sekitar sini, huh....

Momen yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bersamaan dengan terbangunnya matahari, dia juga ikut membuka mata dan membangunkan diri dari pingsannya. Di mataku, dia terlihat seperti bayi yang ingin mengucapkan “Aku datang dunia”. Bukan, tidak ada bayi yang mengucek-ucek mata saat dirinya baru bangun tidur. 

“Hoaaammp! Sudah sampai, ya”

Saat itu juga aku langsung mencecarnya dengan segudang pertanyaan. Sesi interogasi berlangsung juga selama di perjalanan ke rumahku. Dan sekarang dia tertunduk lesu setelah mendengar semua cerita dariku. Heran tentunya, apa yang kuceritakan barusan tidaklah lebih dari sekadar dongeng yang akan dibacakan oleh ibu pada anaknya yang hendak tidur, tapi dia begitu mudahnya percaya. Seolah dia hidup di masa lalu dan terlahir kembali di masa sekarang dengan segala ingatan yang ikut bersama jiwanya.

Aku sama sekali tidak mengenalnya, kemungkinan besar warga desa juga begitu. Semua ada pada tangannya sendiri. Apa yang selanjutnya harus ia lakukan sama sekali bukan urusanku. Menyediakan tempat bersinggah dan memberikan informasi (menurutnya) itu sudah lebih dari cukup. Sebagai perempuan yang masih suci, aku tidak bisa membiarkan dia tinggal terlalu lama di sini. Meski tuduhan gila `kan segera dicabut, akan ada julukan lain lagi yang mereka sematkan padaku, Perempuan Liar?

“Segera habiskan tehnya dan pergilah” Waktunya sudah habis.

Lelaki itu berdiri setelah mendapatkan pengusiran secara halus dariku tanpa menyentuh cangkir lagi. “Maaf telah merepotkanmu, terima kasih” Wajah lesunya masih saja terpampang nyata. Bukan maksudku untuk semakin menambah kesedihannya, tapi memang tidak ada lagi yang bisa kulakukan untuknya. Aku harap─aku percaya kalau dia pasti bisa menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Hanya kalimat itu saja yang terucap darinya, tidak ada lagi. Terus berjalan menjauh dari pintu, semakin mengecil tubuhnya di kejauhan. Aku memberitahu padanya arah menuju desa, berharap dia bisa menemukan atau melakukan sesuatu di sana. Selamat tinggal.

“Apakah kau kembali untuk mengambil mainanmu yang tertinggal?”

Bagian 2 – Bar

Selepas orang-orang bekerja seharian, mereka akan berkumpul di tempat yang sama setiap harinya. Tak bisa lepas darinya, “Tidak minum, tubuh tidak senyum” adalah slogan dari bar tersebut. Lebih tepatnya, para pengunjung setianya yang membuat kalimat bodoh itu. Mereka tidak malu pulang menghadap istrinya dengan mulut bau alkohol tiap tengah malam. Dan lagi, meninggalkannya tanpa membelainya, menyosorkan diri ke ranjang lantas tertidur. Perlakuan yang sungguh keterlaluan mengacuhkan wanita yang tengah haus akan kasih sayang pasangan hidupnya.

“Oi! Satu gelas lagi!” Pria berjambang tengah duduk di deretan dekat Bartender 
Orang itu merespon pesanan pria yang terjatuh dalam asmara, wajahnya memerah, bicaranya kemana-mana seperti orang yang dimabuk cinta. Mengambilkan segelas… Kalau tidak salah, namanya Heavy American─Mug. Bukan hal yang aneh gelas yang besar untuk orang yang besar pula. Mereka adalah pekerja, butuh banyak tenaga yag dikeluarkan, maka begitu banyak bir yang diperlukan untuk mengganti tenaga yang hilang.

Pelanggan yang lain kurang lebih juga sama. Melihat daerah sekitar adalah hutan lebat, mungkin mereka adalah pemburu. Soal keakrabannya dalam satu meja yang sama, mereka pasti bekerja secara berkelompok. Bukan berarti mereka saling bermusuhan dengan pemburu yang lain, tapi juga bukan berarti tidak ada kemungkinan kalau mereka saling bersaing memperebutkan sepotong kaki atau sepenggal kepala hasil buruan.

“Tolong satu gelas!”

Dulu aku pernah membaca di buku-buku kalau bar adalah sarangnya informan. Memang benar malam ini bukanlah malam ribuan tahun lalu, tapi tidak ada salahnya kalau kucoba dulu. Aku pasti akan menemukan kalian dan kita bisa bersama seperti dulu lagi.

“Maaf menunggu lama, silahkan dinikmati” Pria berbaju putih menyodorkan segelas Pilsner.

Seumur hidup aku belum pernah meminum bir, bahkan merokok saja tidak. Hanya Ayah saja yang selalu minum bir kemasan kaleng ditemani rokoknya. Usiaku sudah tujuh puluh tahunan, atau mungkin seribu tahun lebih jika dihitung dari sudut pandang bumi. Bukan lagi saatnya untuk ragu-ragu meminumnya. “Shaahss” Keras sekali! Berapa kadar alkohol yang aku minum ini? Rasanya lebih dasyat dari soda gembira. Andaikan ini kedai biasa dan bukan bar, aku pasti akan memesan jus jeruk dan itu lebih sehat untuk tubuh. Apa mereka ingin mati perlahan dengan meminum ini? Sudah cukup berperan sebagai juri lomba masak! Masih ada misi yang jauh lebih penting dari mengkritik peracik bir itu.

“Yo, mas bro. Apa kau tahu soal Mi─Dewi Michelle?”

“Ha? Apa yang kau katakan?”

“He?” Pria botak yang kuhampiri sepertinya tidak mengerti apa yang kukatakan. Kucoba sekali lagi dan hasilnya tetap sama. Apa mungkin karena dia mabuk? Tidak menyerah sampai pada pria itu saja, aku mencoba berkomunikasi dengan orang yang kelihatannya tidak mabuk pun juga sama. Mereka tidak mengetahui apa yang kukatakan, atau mungkin lebih parah lagi, “Mereka tidak memahami bahasa yang kugunakan”. Aneh, padahal aku bisa mengerti apa yang mereka katakan, tapi kenapa tidak dengan bahasaku?

“Ai, analisa bahasa apa yang mereka gunakan dan bahasa apa yang kugunakan sekarang!”

“Dimengerti, meminta waktu beberapa menit untuk menganalisa semua kosakata yang pernah di dengar”

Kukira bahasa yang digunakan masih sama seperti dulu, tapi melihat reaksi mereka barusan, mungkin aku terlihat seperti orang gila atau alien yang terdampar di bumi. Sementara menunggu Ai selesai menganalisa, aku mencoba untuk menghabiskan bir yang sudah menunggu.
Semakin malam semakin ramai. Pelanggan satu per satu datang memenuhi kursi-kursi yang kosong. Ada sesuatu yang kurasa sedikit mengganjal, tidak ada pemuda sama sekali di sini. Dari tadi hanya bapak-bapak saja yang keluar masuk bar. Apa mungkin pemuda di zaman sekarang tidak suka mabuk-mabukan? Perasaan sewaktu berkeliling desa tadi ada pemuda yang berseliweran di jalanan meski tidak sebanyak pemabuk ini.

“Analisa selesai. Perlu saya bacakan atau ditampilkan dalam bentuk dokumen?”
“Bacakan saja” Sembari mendengar hasil analisanya Ai, memejamkan mata untuk berfokus pada ucapannya sangat diperlukan untuk mengatur rencana selanjutnya dalam menggali informasi setelah ini.

“Campuran?”

Ai menjelaskan kalau bahasa yang mereka gunakan merupakan campuran atau gabungan dari berbagai bahasa yang dulunya pernah digunakan oleh sebuah negara. Indonesia, Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, Perancis, India, Spanyol bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana bisa hal ini terjadi? Tapi mereka tidak bisa disebut dwilingual karena sekalipun kosakatanya diambil dari berbagai bahasa, mereka tidak menguasai secara utuh salah satu bahasa yang disebutkan oleh Ai. Satu-satunya penyebab yang terpikirkan olehku hanyalah migrasi besar-besaran. Sehingga orang dari berbagai negara berkumpul di suatu tempat yang sama lalu hidup bersama sampai beberapa generasi berikutnya.

Bicara soal migrasi, mengapa mereka melakukannya? Oh, iya. “Ai, bagaimana dengan bahasa yang kugunakan?”

“Menjawab. Bahasa yang Master gunakan adalah bahasa Indonesia dan Inggris”

Pantas saja mereka tidak memahami bahasaku, aku hanya menggunakan dua dari delapan bahasa yang tercampur dan terciptalah bahasa baru yang mereka gunakan sekarang. Tunggu dulu! Mengapa kau bisa mengerti dengan apa yang mereka katakan? 

“Menjawab. Kedelapan bahasa tersebut terdapat dalam database. Ai mengartikan ucapan mereka perkata sesuai bahasa yang ada pada database” Jadi begitu, kalau seperti itu Ai, apakah kau bisa menerjemahkan perkataanku ke bahasa yang mereka mengerti?

“Menjawab. Diperlukan analisa lebih lanjut. Ai masih belum memahami sepenuhnya kosakata tertentu yang digunakan diambil dari bahasa yang mana, juga struktur kalimat yang digunakan. Jika dipaksakan, mungkin seperti orang luar yang berusaha berbicara dengan bahasa asing”

Bukan masalah besar. Asalkan aku bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan itu sudah cukup. Pertama, yang akan kucari terlebih dulu adalah bidadari kecilku. Sekali lagi, setelah beberapa menit berlalu, aku mendekatinya dan menanyakan hal yang sama.

“Dewi Michelle? Maksudmu penyihir kecil dari selatan itu?!” Pria itu menunjukkan ekspresi sedikit kesal.

Aku sedikit mengerti mengapa dia dijuluki penyihir kecil. Itu karena… Tapi apa-apaan ekspresi kesalnya itu? Apa Michelle melakukan sesuatu yang membuat orang ini marah? “Memangnya, apa yang telah ia perbuat?”

“Dia telah membuat situasi ketimpangan sosial yang begitu tinggi” Orang itu melanjutkan lagi, selama ratusan tahun, Michelle memimpin sebuah kerajaan di daerah selatan. Dia dianggap Dewi karena telah memakmurkan kerajaan tersebut. Akan tetapi, di luar kerajaan, kemiskinan merajalela. Bahkan di dalam kerajaan pun, mereka yang miskin akan di tempatkan di pinggiran kerajaan dekat dengan tembok besar yang mengelilingi kerajaan. Michelle hanya mempedulikan penduduk yang ada di dalam kerajaan dan membuang siapapun yang hidup melarat.

Saat itu juga aku merasa ada yang tidak beres dengan Michelle. Tidak mungkin bidadariku yang selalu manja akan memberlakukan kebijakan seperti itu. Hal semacam itu jelas bertentangan dengan perintahku. Sampai di sini aku masih bisa meredam emosi yang mulai meluap, sebelum orang itu menambahkan kalimat terakhir sebagai penutup. 

“Penyihir berengsek itu akan membunuh orang-orang yang tidak tunduk dan menyembah kepadanya” Pria itu menatapku dengan mata melotot dan menghentakkan gelasnya ke meja.

“He?” Mustahil. Tidak mungkin. Bohong. Michelle tidak mungkin melakukannya. Dia pasti bukan Michelle. Yang membuat kebijakan itu pasti bukan dia. Tidak! Tidak mungkin!

Untuk beberapa saat, aku hanya bisa tertunduk diam dibuatnya. Diri yang tidak bisa menerima ucapan dari narasumber benar-benar membuat shock. Sebenarnya belum cukup informasi yang sedikit itu untuk menjawab semua keingintahuanku, tapi entah mengapa… Aku merasa puas dengan jawaban darinya. Atau mungkin diriku yang tidak ingin mendengar lebih banyak lagi keburukan yang telah dilakukan oleh bidadari kecilku, Michelle.
Aku hanya bisa meninggalkan bar dengan kebisuan. Suara pegawai bar yang meminta bayaran juga kuacuhkan. Pukulan dan tendangan juga tidak kuhiraukan. Aku telah tenggelam dalam ketidakberdayaanku yang telah lalai sampai membuat semua ini terjadi. Semua ini salahku. Jika saja waktu itu aku memutuskan untuk mati dengan tenang, maka….

Malam begitu gelap meski lampu-lampu dari kedai dan teras rumah warga menyala. Rintikan hujan mulai turun menyerang punggung yang membungkuk. Duduk di pinggiran jalan tanpa peduli langkah kaki orang-orang yang berlarian. Berharap ada seseorang yang rela meminjamkan bahunya untukku bersandar dan wadah bagi tangisan bayi yang ingin digendong ibunya. Begitu deras air mata ini, sampai suaranya menyamai air mata langit, Dan menyamarkan suara genangan air yang terpercik oleh hantaman kaki.

“Sedang apa kau di sini?”

“Sedang apa aku di sini?”

Bagian 3 – Kedudukan

Kerajaan Kidul terletak di wilayah selatan. Kerajaan ini telah berdiri selama ratusan tahun lamanya hingga sekarang. Sesuai dengan perintahnya, dia juga mendirikan sebuah kerajaan. Akan tetapi, delapan ratus tahun lalu, dalam peperangan melawan Dewi Lucy beserta boneka buatannya, kerajaan ini hancur. Oleh karena itu, Dewi Michelle membangun ulang dan memberikan nama baru yang telah dikenal sebagai kerajaan termakmur yang ada. Sekaligus kerajaan beringas karena menerapkan pemerintahan yang diktator. Semua keputusan ada di tangan Dewi Michelle, semua harus sesuai perintahnya. Jika tidak….

“Matilah!”

Bumi mengelilingi matahari yang berputar pada porosnya. Menerima kehangatan cahaya demi berlangsungnya kehidupan yang menumpang tinggal di permukaannya. Air melimpah ruah di lautan, sungai, pegunungan bahkan terkubur jauh di dalam perutnya. Begitulah seharusnya bumi yang kita tinggali. Tapi pada pagi itu, cairan kental mengucur dari mata airnya. Merah segar seperti apel yang telah masak. Siap untuk dipetik saat itu juga sebelum membusuk dan mengering. 

Keditaktoran yang berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi. Mulai dari raja pertama sampai raja sekarang. Mereka tidak pernah sekalipun merubaha cara memerintah sebuah kerajaan. Dan mereka juga tidak pernah merasa bersalah sedikitpun, sekalipun. Batu bukanlah es batu. Hati yang sudah sekeras batu tidak akan bisa mencair kembali. Sama halnya dengan perilaku mereka.

Istana yang megah, putih menyucikan. Di teras lantai dua, duduklah seorang Dewi di singgasananya. Mengenakan gaun putih sangat kontras dengan rambut hitam polosnya yang berkilau. Ia memegang sebatang ranting, seseorang memberinya nama Ranting Kehidupan. Ada salah satu kisah yang menceritakan kalau ranting tersebut terkena hujan, maka akan berubah menjadi sebatang kayu, dan jika kayu tersebut tertanam menyatu dengan bumi, tumbuhlah sebuah pohon yang menjulang tinggi hingga menembus awan. Tak satupun orang yang pernah melihatnya, itu karena pemakainya, Dewi Michelle tidak pernah menanamkan ranting yang dalam wujud batang ke dalam tanah. Dari buku yang pernah kubaca, ia hanya pernah merubah wujud ranting tersebut pada waktu yang berbeda. Yang pertama saat saat melawan Dewi Lucy dan yang kedua saat melawan Dewi Riel.

Orang biasa ketakutan kala itu dan memutuskan untuk bersembunyi di dalam rumah masing-masing. Tak ada yang berani mengintip sedikitpun dari balik jendela. Sampai Dewi Raphiel tiba dan melerai mereka. Sejak saat itu, Dewi Michelle selalu mengurung diri di dalam istana, tak pernah lagi keluar dari kerajaannya. Sedang untuk Dewi Riel, dia menghilang. Entah dimana dia sekarang berada.

“Jadi begitu”

***
Nasib pedagang itu tengah di ujung tanduk. Sebilah pedang sudah berada di puncaknya, siap untuk jatuh dan mendarat di bagian penghubung kepala manusia. Algojo senantiasa menunggu perintah dari salah satu Sang Penguasa bumi yang sedang duduk menatap hina tersangka kasus kemiskinan. Ya, setelah usahanya terjun bebas ke jurang, sekarang nyawanya juga akan ikut menjemput.

Peraturan Kerajaan Kidul Bab IV alinea ketiga berbunyi “Barangsiapa yang rezekinya telah tertutup, akan dikeluarkan dari kerajaan”. Kemudian di bab yang sama alenia kelima berbunyi “Bilamana tersangka menolak akan pengusirannya, maka pergilah bersama rezekimu”.

Orang itu tertunduk pasrah akan nasibnya. Sudah tidak harapan lagi baginya. Kematian adalah satu-satunya teman yang menunggunya selama ini. Keputusan yang dibuatnya beberapa hari yang lalu tidaklah berasal dari paksaan, melainkan keinginannya sendiri dengan penuh kesadaran diri. Dia lahir di kerajaan ini, dia juga besar di kerajaan ini, maka dia harus mati juga di kerajaan ini. Itulah takdir yang ia percayai.

Dewi kecil tidak menunjukkan ekspresi sedih karena akan kehilangan salah satu warganya. Ia justru senang mengetahui orang yang tervonis hukuman mati itu lebih memilih menyerah tanpa perlawanan. 

“Hari ini, kerajaan akan mengeksekusi tervonis atas perintah Dewi Michelle Sang Penguasa. Orang ini telah melanggar Peraturan Kerajaan Kidul Bab IV alinea ketiga dan kelima. Berbahagialah karena bukan kalian yang duduk dengan tangan terikat ini. Berusahalah sekeras mungkin untuk memakmurkan kerajaan ini demi Sang Dewi” Perwakilan kerajaan membacakan surat vonis di depan warga yang sedang berkumpul untuk menyaksikan hiburan.

Tak lama kemudian, sebilah pedang sudah bersimbah darah. Warga ada yang bersorak gembira, tertawa ceria, dan menutup mata tak ingin menerima nasib yang sama seperti orang yang dieksekusi. Matahari semakin naik, tidak ada lagi tervonis yang akan dipertontonkan. Warga telah meninggalkan tempat bersiap menjemput pekerjaan yang telah menunggu.

***
Apa yang dia dengar dari pria di bar bukanlah suatu kebohongan. Begitulah sisi gelap dari kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Dewi Michelle, sosok yang ingin kau cari. 

“Wahai Sang Dewi, tujuh hari dari sekarang akan ada tervonis hukuman mati yang akan dieksekusi. Sekiranya kami meminta akan kehadiran Sang Dewi saat prosesi eksekusi dilangsungkan” Kakek tua berjubah putih menghadap Sang Dewi di ruangannya.

“Baiklah, lagipula aku juga tidak ada kerjaan”

Orang-orang menganggap Dewinya jarang keluar karena sibuk mengurus permasalahan kerajaan, atau sedang bersemedi. Padahal kenyataannya dia tidaklah lebih dari seorang pengangguran yang selalu berkata “Ya, tidak, diizinkan” dan beberapa kata sederhana lainnya. Dia tidak benar-benar memimpin sebuah kerajaan, hanya sebuah sosok yang diagungkan dan disembah oleh warganya saja. Sejatinya yang mengurusi kerajaan masihlah raja dan para menterinya.

Setiap hari selalu diterpa kebosanan, itulah alasan mengapa dia sangat menyukai adegan sadis tersebut. Dia bahkan memiliki budaknya sendiri untuk disiksa setiap hari untuk melampiaskan rasa bosannya. Atau kala dia bosan dengan budaknya, dia akan bermain video game buatannya sendiri. Gim masak-masakan. Akan tetapi gim buatannya bukanlah gim pada normalnya, kesadisan dimasukkan dalam gim tersebut. Bahan-bahan masaknya menjadi sasaran kekejian seorang sadistic akut. Bukan lagi daging hewan, melainkan daging manusia. Terlebih cara “Penyembelihan”-nya pun dengan cara dimutilasi. Sekalipun lelaki itu menganggap tingkah laku Dewi Michelle tidaklah benar bahkan sesat, tapi itulah fakta yang jarang diketahui orang lain.

“Aku ingin mati”

Sang Dewi tidaklah bodoh, dia hanya membiarkan orang-orang kerajaan bertindak sesukanya. Dia sudah tidak peduli lagi alasan keberadaannya di bumi. Berulangkali percobaan bunuh diri dilakukannya, tapi nihil hasilnya. Setiap kali ia berniat melukai dirinya sendiri, maka sistem yang bekerja akan segera menghentikannya dengan cara membuatnya tertidur. Tubuhnya keras, jauh lebih keras dibanding baja. Algojo yang ditugaskan untuk membunuhnya tak pernah meniggalkan satu gores sedikitpun pada kulit putihnya.

Akibat kepasrahan pada nasibnya, selama ini ia hanya tidur, bermain, dan menyiksa budak. Tidak ada yang lain lagi. Hal itu bisa terjadi karena diperparah kondisi yang tidak memungkinkannya untuk keluar dari kerajaan. Mungkin itulah salah satu penyebab daerah di luar kerajaan menjadi tidak terurus dan terbengkalai.

“Mengapa seperti itu?”

“Aku juga kurang tahu, mungkin kau akan mengetahuinya kalau berada di sana”

Akan tetapi saat diminta oleh Perdana Menteri untuk menemaninya berkeliling kota, ia mengiyakan dan benar-benar menikmati perjalanannya. Sebuah kebahagiaan tersendiri baginya mungkin. Mampu mengusir kebosanan yang melanda dirinya selama ratusan tahun.

“Bunga yang indah” Sang Dewi berhenti sejenak di depan toko bunga.

Kecintaannya pada video game hanya sebagai penghilang bosan semata, sedangkan seikat bunga mampu menghilangkan stresnya. Dia mampir sebentar untuk melihat-lihat. Berbagai jenis bunga dijual di sana. Saat menyusuri bunga-bunga tersebut, ia mendapati satu jenis bunga yang aneh. Bunga tersebut tidak pernah ada sebelumnya di kerajaannya. Begitu memikat dan menusuk jauh ke dalam memori Sang Dewi.

“Master, apa nama bunga ini?”

“Ah, namanya adalah Lily. Ada apa?”

“Indah”

Persis seperti saat Dewi Raphiel sedang menggendongnya yang sedang bertengkar dengan Dewi Riel. Putih kecil menghadap ke bawah. Itu adalah saat pertama kalinya dia tertarik dengan bunga. Sebelum-sebelumnya dia hanya minta dibuatkan boneka oleh seseorang. Karena ketertarikan baru itulah, seseorang tersebut membuatkannya sebuah mahkota dari bunga Lily tersebut. Dia terlihat senang sekali. Mengembangkan senyuman yang menenangkan hati si pembuatnya. Sejak saat itu ia mulai merengek pada penciptanya meminta dibuatkan mahkota lagi setiap tiga hari sekali. Mungkin kurasa itu sangat merepotkan, tapi orang itu bersedia melakukannya dengan wajah puas tatkala bidadarinya berlarian menebar benih kebahagiaan. Akan tetapi, itu semua berakhir saat orang itu meninggalkannya selamanya.

“Wahai Dewiku, apakah ada suatu masalah?”

Dia hanya diam dan mengabaikan Perdana Menteri. Tempat selanjutnya sudah menunggu untuk dikunjungi, perjalanan bunga pun berakhir. Itulah hidup Sang Dewi kecil di sebuah kerajaan yang terletak di wilayah selatan. Abu-abu menyelimutinya. Tak lagi warna-warni seperti seribu tahun yang lalu.

Bagian 4 – Di bawah Payung
“Tuhan, ikutlah denganku”

“Sudah cukup” Lelaki itu nampak sedang berputus asa.

Dia merasa terkejut mendengar kabar akan kelakuan Dewi Michelle yang katanya adalah ciptaannya tersebut. Jika dia adalah Tuhan, bukan alasan yang tepat dengan membekukan tubuh di jalanan seperti ini sebagai bentuk frustasi. Dimana martabatnya sebagai Tuhan Sang Pencipta. Seharusnya begitu mendengar kabar tersebut dia marah, tapi mengapa sebaliknya? Sedangkan dia memiliki hak penuh pada ciptaannya.

“Berhentilah memanggilku seperti itu” Lelaki itu benar-benar kukuh enggan untuk mengangkat kepalanya, apalagi beranjak dari jalan brebatu ini. Syukur-syukur dia sudah mau merespon ajakanku setelah dijatuhi ratusan ribu tetesan hujan. Meski berujung pada penolakan. Aku meninggalkannya kemudian. Membiarkannya sendiri di malam yang ramai akan suara air yang bergantian menubruk bumi.

Seorang perempuan berbaju cokelat-putih berdiri di depanku. Aku mengabaikan pertanyaan yang ia lontarkan. Masih setia dengan kedua lutut yang saling merapat menekuk kaki. Tak perlu mengintip pun sudah bisa kutebak, dialah perempuan yang memberitahuku jalan menuju desa ini. Entah untuk apa ia sekarang di bawah payung bermandikan hujan untuk meladeni seseorang yang telah gagal sebagai manusia… Bukan, aku sudah bukan manusia lagi. Rasa penyesalan semakin memakan emosi.

Suasana semakin sepi, tentulah orang-orang akan lebih memilih berteduh di dalam atap masing-masing. Ada juga yang terjebak di kedai atau bar. Sambil menunggu reda, mereka masih asik dengan makanan dan minumannya. Dan masih menggelandang seorang laki-laki di pinggir jalan ditemani perempuan gila dengan payung hitamnya. Tidak ada pergerakan sama sekali di antara mereka meski sudah belasan menit berlalu. Sungguh, perempuan itu sudah gila. Dia menghabiskan waktu berharganya untuk lelaki yang baru saja ditemuinya. Mungkinkah dia jatuh hati kepada lelaki tersebut? Kurasa perempuan itu tidaklah sebodoh itu. Lantas mengapa….

Dia meninggalkanku saat mulut ini terasa berat untuk dibuka. Tanpa sepatah kata ia menjauh dariku hingga berbelok di pertigaan dan tak terlihat lagi sosoknya. Aku meneruskan sikap labil ala remaja puber yang salah dalam mengambil keputusan. Haha… Umur hanyalah angka. Tidak dapat merubah kenyataan kalau sebenarnya aku masih terjebak di masa lima puluh tiga tahun yang lalu, atau mungkin ribuan tahun yang lalu. Masa-masa tidak adanya tempat untuk melampiaskan kekesalan hati yang terpendam dalam waktu yang lama. “Dasar payah”

“Berapa waktu yang kubuang merana di sini, Ai?”

“Menjawab, lima puluh dua menit dua puluh tujuh detik delapan puluh mili detik”
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat saat digunakan untuk tidak melakukan apa-apa. Hujan pun telah berhenti, sudah waktunya untuk per-

Eh?

Lagi-lagi, perempuan itu lagi. Lagi dan lagi. Mengapa dia begitu keras kepala memintaku tuk ikut bersamanya. Pikiranku sedang kacau, janganlah tambah kacau lagi dengan kehadiran dan tindakan tidak masuk akal itu. Bahkan, Ai sendiri sampai harus menganalisa semua bahasa tubuh yang dilakukannya sedari kita berjumpa di pagi itu sampai detik ini. Ku kira sikap dinginku tadi sudah seperti penolakan keras pada dirinya, tapi mengapa…

“Aku belikan baju ganti untukmu. Oh ya, di bar yang kau datangi tadi juga menyewakan kamar. Tidurlah di sana” Perempuan itu datang dengan tas kantung lalu memberikannya padaku beserta kunci kamar. Setelah itu dia langsung melewatiku begitu saja tanpa basa-basi atau sejenisnya. Aku tidak mengerti apa maksud dari semua ini. “Padahal dia bukanlah Lucy”

“Tunggu! Siapa namamu?”

Padahal hujan telah reda, tapi begitu dingin sekali saat aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh tanpa berbalik sebelumnya. Padahal dia begitu baik padaku, tapi begitu dingin sekali saat ia melewati tubuh ini tanpa sepatah kata. Aneh… Seperti ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Perempuan memang aneh. Puluhan tahun hidup bersama mereka rupanya tidak membuatku menjadi ahli dalam memahami pikiran perempuan. Eh? Perempuan atau wanita? Dia terlihat masih muda─mungkin hampir dua puluhan atau dua puluh dua? 

Sementara aku sibuk memikirkan nama dan umurnya, aku menghangatkan tubuh di kamar mandi dengan berendam air hangat. Ribuan tahun berlalu rupanya tidak merubah cara manusia membersihkan diri di malam hari. Begitu juga kenikmatan yang dirasakan oleh tubuh bukan main enaknya. Merelaksasikan badan dan melemaskan o-

“Master, anda tidak memiliki hal semacam itu lagi” Sistem yang bernama Ai memotong monolog santai seorang lelaki yang tengah gundah gulana berusaha berpikir santai sambil menikmati salah satu dari keajaiban kamar mandi yang pernah ada.

Sanggahan dari Ai memang benar. Aku sudah tidak memiliki lagi apa yang diesbut sebagai otot. Dalam artian otot asli, bukan buatan. Aku benar-benar tidak dapat menampik perkataannya barusan. Kalau sejak awal aku hanya menyalin ingatan saja tanpa mentransplantasikan otak beserta batang otakku, semua ini tidak akan terjadi.

“Master, ini tehnya” Seorang perempuan berambut perak datang dari belakang.

“Ah, terima kasih”

Perempuan itu seperti biasanya menyajikan teh untukku setiap saat. Mau bagaimana lagi, itu memang keinginannya. Padahal sudah kubilang untuk tidak melakukannya lagi, tapi selama empat puluh tahun ini dia selalu melakukannya. Dan mungkin akan terus seperti itu sampai aku tiada.

Pagi yang begitu sejuk adalah waktu yang tepat untuk duduk di depan layar. Mengetik ini-itu demi terselesaikannya produk-produk baru. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan oleh kakek-kakek ini. Menyusun berbagai macam program rumit adalah satu-satunya keahlian yang kudapat dari darah ayahku 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar