BAB I
Petang Menjelang Tiba
Kuambil air dari kendi di belakang rumah tuk basuh wajah kusut ini. Semalam suntuk aku memikirkan tentangnya. Sebuah tulisan dalam lembaran misteri yang tak kunjung kupahami kejelasan dari tulisan tak dikenal ini. Kemungkinannya adalah huruf yang sudah termakan oleh peradaban atau ditinggalkan oleh peradaban.
Kuambil sebatang dua batang kayu bakar dan kumasak air di ruang kecil sebelah ruang penelanjang badan.
"Membaralah apiku !" Menyala kemudian sepercik letusan api menjadi kobaran semangat pagi membakar kayu dalam tungku itu. Kusiapkan periuk nasi dan kuisi dengan butiran putih harapan kami berdua. Tuangkan air hingga diatas seruas jari mungil lalu kuaduk penuh rasa berharap esok masih bisa seperti ini. Daun seledri diiris dengan cepat karena tahu sudah menunggu lama. Tak lupa daun santan kucelupkan pada periuk nasi ditengah proses menjadi tua nan lemah. Tidak butuh waktu lama bagi padi menjadi beras,beras menjadi nasi dan nasi menjadi bubur. Aroma khas yang tercium menyengat hidung membuat cacing melompat-lompat di dalam perutku "Maafkan aku cacing, tapi ini bukan untukmu sekalian".
Di dalam bilik kamar ada seorang ibu yang sedang melepas rasa sakitnya. Tidur terlelap ialah satu-satunya jalan baginya. Setelah berkelana menyusuri kota demi kota tak satu pun Orpin (Orang Pintar) dapat meredakannya. Waktu yang acuh terus berjalan menambah beban pada perempuan tua itu.
"Ibu bangunlah..."
Sekali lagi matanya harus melihat dunia yang pahit ini. Dengan kondisi yang sudah melemah beliau masih menyempatkan diri untuk melebarkan senyumnya padaku. Nampak jelas dari tulisan di wajahnya mengatakan bahwa beliau merasa sangat bersyukur karena memiliki berlian indah yang senantiasa merawatnya tiga tahun ini. Kusandarkan bahunya ke dinding bata putih berdebu dengan perlahan. Hari-hari berlalu tak jua ada perubahan dengan kesehatannya. Bubur yang telah terbuat kuhidangkan khusus untuk ibunda di setiap fajar menyapa setiap hari. Setiap hari ...
Untuk membuka mulut dengan bibir yang mengeriput pun sulit baginya, apalagi harus menggemgam sendok untuknya makan. Kusuapi benda yang nanti akan dirubah menjadi energi tuk kuat dalam menjalani hidup sehari semalam. Kami ini fakir yang lebih menyedihkan dari fakir lainnya.
Uhhuk ! uhuk !!
Bahkan sekarang tenaga untuk menelan pun tak ada. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak jika buah yang membusuk akan terus membusuk. Aku tak rela jika harus kehilangan sosok malaikat penyayang yang paling ingin kulindungi. Kuseduhkan air teko yang terjaga hangat ke dalam gelas dan meminumkan padanya. Aku adalah satu-satunya anak yang dilahirkannya, maka dari itu aku harus berusaha menguatkan baja dan selalu berpikir positif tentangnya.
Pagi yang menjadi semakin pagi membuatku harus melepas genggaman ini dari tangan lemasnya untuk pergi ke kota menjadi tulang punggung keluarga kecil ini, karena aku adalah puteri semata wayangnya. Keraguan menerpa tanpa henti setiap beranjak dari kursi ini. Berjalan keluar batas aman dari penjaga dengan perlahan menuju batas dunia luar.
"Ibu aku berangkat kerja dulu ya" Secercah harapan kan selalu ada ketika roda berputar setiap hari tanpa keluh dan kesah.
Langkah tegap penyangga tubuh saling bersalip menapak tilasi pijakan manusia ini. Dunia-dunia kulewati sembari kusapa pemiliknya. "Selamat pagi" begitu ucapku dengan terus melangkah maju. Pemandangan menyihir penglihatan siapa saja yang melintas di jalan ini. Dua kaki bumi nampak samar berwarna hijau dari kejauhan karena tertutupi keraguan kelabu. Anak malaikat bersenda gurau mencekram pada tangan alam. Penghasil padi kulihat berlalu lalang beserta rekan seperjuangannya dengan senjata khusus dipanggul menuju ladang uang mereka.
Telah tiba di suatu rumah masyarakat bernama Desa Gerabah. Di sini lah aku akan menumpangkan badan dan menidurkan kaki yang sudah merasa payah. Di desa kecil ini bisa dijumpai beragam bentuk karya cipta manusia yang terbuat dari tanah lembut nan keras sesudah penghapusan dosa. Mulai dari piring,gelas,guci,teko dan gentong bisa dibawa pulang dengan kesepakatan yang telah dibuat dan disetujui oleh kedua belah pihak. Sebagian kecil dari pemilik rumah disini menguraskan keringatnya dengan menjadi buruh di kota terdekat. Banyak bidadari kecil berlarian kesana kemari dengan kawannya sembari perawatnya yang berusaha menyuapi semangkuk nikmat. Aura yang terpancar dari mereka sangat menentramkan hati ini. Terdapat lapangan luas di jantung desa sebagai lokasi pertemuan jiwa yang ingin ke kota. Setiap dua ekor kuda ditugaskan untuk menarik gudang kecil beroda yang berisi barang jualan dari desa ini. Ada juga rumah kecil yang berisikan buruh beserta anggrek sepertiki yang turut serta.
Animal Wave "Wahai kereta hidup kami, paculah kakimu dan bawalah kami bersamamu !" teriak salah seorang kusir berambut tua. Beliau termasuk salah satu manusia langka di zaman sekarang ini. Tidak banyak orang yang menguasai teknik mendengar dan berbincang dengan hewan. Untuk menguasainya menurut tulisan yang termaktub dalam buku Ilmu Kejiwaan diharuskan memelajari dan memahami ilmu syaraf antara telinga dengan otak juga memelajari bahasa dari hewan tersebut, karena tiap jenis hewan yang berbeda ras maupun rumpun itu menggunakan bahasa yang berbeda pula. Cukup sulit tuk di makan tapi bukan berarti tidak bisa dicerna. Biasanya benda berharga dengan harga jual tinggi akan setuju bila ada yang mampu membawanya, tetapi lelaki berbadan dua itu menolak tawaran dari salah seorang petinggi tuk bekerja demi kerajaan dan memilih sebagai saudagar saja.
Dengan Kuda Lintar ini kecepatan laju kereta berada satu tingkat di bawah KertaJaya (Kereta Jaya). KertaJaya merupakan kereta yang ditunggangi khusus oleh Penguasa Negeri. Mereka terbang mengudara dengan bantuan kusir mereka yang seorang Orphin pengguna Flying Bird. Tak ada singa yang bisa menggapai burung dan kura-kura menyalip kelinci. Terbang melesat bagai bintang jatuh di malam hari.
"Sinar wajahmu nampak pudar di pagi yang ceria, apa gerangan terjadi ?" tanya seorang buruh dagang dengan muka khawatir.
Pertanyaan yang wajar karena dikegelapan dunia aku terjaga hingga purnama singgah diatas ubunku. Dingin yang menusuk membuatku tak kuasa menahan nafsu dan terjatuh dalam bunga tidur. Selain itu aku juga belum mengisi bahan bakar yang sudah diujung tanduk ini. Karena pertanyaan tersebut daku teringat kalau barang berhargaku belum kurapikan, pantas lah penghuni tiap dunia yang kusapa tadi melihatku dengan tatapan yang aneh. Hanya di saat-saat ini lah aku berdusta pada diriku dan ibuku agar cepat tiba di lautan manusia.
"Cahya ? Gunakan lah Ligth Star ! Sebentar lagi memasuki Dark Forest" Pinta pak kusir kepada puteranya yang merupakan pengguna elemen cahaya.
Setelah Water of Salam ditelan oleh makhluk bumi, banyak perubahan terjadi pada peminumnya. Salah satu makhluk selain manusia yang menelannya ialah Pohon Beringin. Dengan rambutnya yang lebar saja sudah mampu meneduhkan dua kereta kuda, terlebih pasca menyerap Water of Salam tubuh mereka meninggi lebih kurang sepuluh meter. Begitu juga dengan rambut keritingnya yang mampu menggapai dari dua menjadi tujuh kereta kuda setelahnya. Rambut yang saling terhubung satu sama lain membuat cahaya Tuhan tak bisa menembus kedalam hati yang tertutup dan gelap. Namun syukur tak ada hantu yang akan menerkam dari dalam bayang selama perjalanan. Hanya anakan pohon dan segerombol semak yang terlihat. Seringkali terlihat makhluk malam keluar masuk hutan ini karena di sini lah tempat mereka besar dan berada. Dua mulut yang saling berucap serasa membuat waktu berjalan lebih cepat. Cahaya putih telah nampak dari kejauhan mata bagai bayi akan segera terlahir ke dunia.
Bata-bata putih menjulang tinggi terlihat oleh kami, itulah Kota yang benama Kediri. Menurut kisah yang dipercaya bahwa beberapa orang yang tergabung dalam PPP mewakili Negara Indonesia (sekarang Kerajaan Yatmaka) dalam pertempuran di Gurun Sahara seabad yang lalu adalah orang kelahiran Kota Kediri. Dinamakan Kediri itu sendiri sebagai bentuk penghormatan kepada pahlawan negeri yang bermakna Kejayaan yang Berdiri. Meski bukan jantung negeri tetapi tempat ini sudah layaknya hati manusia yang tak kalah penting dari jantungnya.
"Sudikah bawaan punggung kalian kami periksa tuan buruh ?"
Kereta kami terpaksa terhenti di depan dinding pelindung kota yang berdiri kokoh puluhan tahun lamanya. Terdapat tiga ekor anjing kerajaan yang terlatih dengan kalung dipenyambung kepala mereka yang terhubung dengan hasta prajurit Sakolini (Satuan Komando Pelindung Negeri) untuk mencari benda terlarang di dalam kereta kuda dan memastikan kebenaran data barang. Benda terlarang yang dimaksud bukanlah sejenis zat kimia berbahaya melainkan Water of Salam yang peredarannya kini dibatasi sesuai peraturan penguasa. Bagai susu dengan gula kami sudah lama saling kenal dengan tiga prajurit kadet itu, terlebih pak kusir yang bahkan mengenal siapa yang berdiri menjaga gerbang jeruji itu jauh sebelum mereka bertugas.
Pemeriksaan usai kereta lanjut berjalan masuk ke dalam lautan manusia. Jiwa berkeliaran lepas dari dunianya membaur demi mencapai keinginan mereka.
"Nasi kuning ! Nasi Kuning... Masih hangat sebelum dingin..."
"Selagi baru dipetik dari induknya.. Masih manis dan berair penyejuk tubuh yang lelah"
Suara-suara saling beradu dengan kumpulan kata yang mampu menggaet hati pembawa berkah. Tak hentinya mereka lakukan hal yang sama setiap harinya dari fajar di timur hingga fajar di barat. Sampai lah kami di Pasar Bagus.
Kereta kuda yang memikulku telah terhenti di pasar tadi, dengan begitu kulanjut perjalanan ke tempat nomor dua yang paling kusukai menggunakan sepasang pemijak yang sudah beristirahat dengan cukup. Kiri kananku hanya lah ada rumah bertempatnya bunga segar dan beberapa tempat peralatan tulis-menulis. Toko buku pun juga ada meski hanya samudera dalam bumi. Menelusuri jalan demi jalan berbatu, sebuah tugu yang dibangun di depan istana kota terkunci oleh kornea pendatang baru atau pelancong yang baru kali pertama berkunjung ke sini. Sekali lagi tugu dibuat layaknya pengasihan nama kota sebagai bentuk dari rasa bangga dan penuh hormat warga kepada mereka yang telah gugur dalam medan pertempuran.
Sebuah bangunan besar tapi sederhana berada di sudut kota merupakan akhir dari perjalanan ini. Tempat dimana segala jenis ilmu pengetahuan berkumpul dalam tumpukan kertas dilapisi sampul tebal bergambar dengan posisi tertata rapi disetiap wilayahnya. Pintu berbahan tulang pohon dijaga oleh Golem yang diciptakan oleh Orphin yang ditugaskan untuk menjaga keamanan di perpustakaan ini. Tidak seperti Golem dalam cerita fiksi lainnya yang bertubuh besar, Golem di sini berukuran lebih kecil dengan tingginya kurang lebih sekitar satu meter saja. Saat memasuki perpustakaan tercium aroma khas semerbak dari buku-buku baru maupun tua yang tersebar darinya. Seolah-olah mereka mengucapkan selamat datang di dunia tanpa batas kepada insan yang masuk kedalamnya.
"Ah... Kau sudah datang ya, selamat pagi Nova, tidak biasanya kau datang dengan cahaya gerhana matahari seperti itu" Sapa pria tua bertubuh bungkuk yang sudah uzur tapi tak kunjung tidur di dalam tanah.Aku memang balas menyapa tapi tanpa menjawab pertanyaan yang menusuk perut untuk kedua kalinya.
Meminta restu keluar dari rumahnya untuk membeli sebungkus remahan roti ialah resolusi paling tepat mengatasi problematika hidupku ini. Ada seorang penjual olahan gandum di lapak kecil yang kuanggap sebagai penyelamat hidupku setiap hari di dunia yang berat ini. Pemilik lapak tersebut bernama Pak Paijo yang merupakan warga asli kelahiran kota Kediri. Duduk di kursi kecil dengan baju cokelat kumuh ialah keseharian baginya menjaga lapak.
"Pagi Pak Paijo" sapaku dengan bibir merapat dan pipi terangkat karena garis pemisah.
"Pagi dek Nova, a.... ada apa dengan wajah lesu tak terukurmu itu ?"
Haruskah aku pindah mencari kota lain beserta pelapak lainnya ? Sudah ketiga kalinya aku didorong dari tebing yang tinggi hinggga terjatuh ke dasar sungai dan mengikuti arusnya tanpa melawan. Seperti biasa aku membeli hadiah untuk cacing dalam perutku yang sudah sekarat menahan lapar. Aku mengeluarkan tiga keping koin perunggu dari saku baju cokelatku sebagai tebusan untuk sebungkus kulit roti yang jelas tak akan bisa memenuhi tangki bahan bakarku.
Mata uang di zama ini kembali menjadi kepingan emas,perak, dan perunggu. Dengan begitu nilai jualnya sama dipenjuru bumi. Semuanya berawal semenjak tragedi The Devil Strike. Bangsa barat yang menjadi pusat perputaran uang kertas se-dunia mendadak merubah mata uang mereka menjadi uang koin dan hal tersebut berimbas pada kondisi nilai mata uang lainnya. Nasi sudah menjadi bubur semua negara mau tak mau harus mengikutinya. Sungguh ironis sekali orang zaman dahulu yang menolak cahaya dengan menipu diri dalam abu.
Untuk sepiring bahan bakar nasi dibutuhkan satu koin perak untuk yang paling murah, sedangkan rerata tubuh berjas menghabiskan lima sampai sepuluh koin perak untuk sekali sajian hidangan. Dimana sepuluh keping perunggu setara dengan satu keping perak dan sepuluh keping perak setara dengan satu keping emas.
Sembari kumangsa tepian roti kami saling berkicau sampai menggonggong membahas bintang di langit biru. Beliau seringkali menceritakan pasangan hidupnya yang bekerja sebagai ikan sapu-sapu di sebuah rumah milik bangsawan. Pergi pagi pulang malam ialah jadwal keberangkatan dan kepulangannya. Tetapi ia bersyukur bulan masih bisa menemani bintang di malam hari. Dia tak bisa bayangkan andai kata cinta sejatinya pergi pagi pulang pagi layaknya kisah Bang Toyib dalam legenda. Meski kami sering berselisih beliau tergolong jiwa yang pemurah dan penyayang. Menanyakan kondisi Ibuku termasuk salah satunya. Menanyakannya setiap kali ku datang tak ada bosannya sedang ia bukan lah Orphin pengguna Healing Clay maupun Healing Spirit. Hanya bisa masuk tanpa bisa keluar, waktu takkan pernah berhenti terlebih mundur. Sudah waktunya seekor anjing kembali ke tuannya dan bekerja sekuat badan.
Sampai jumpa esok ! Kulambaikan tangan terberkati pada pak tua itu ditambah senyuman pagi yang menenangkan hati. Berjalan lagi sepasang kekasih yang selalu bersama menopang berat tubuh ini.
Gubrak ! Gludung gludung..
"Pencurii !!!" teriak seorang ibu yang mendapati buah bulat hijaunya diambil orang tanpa surat izin.
Demi jiwa dalam raga, ikatan kami dengan bumi takkan pernah sirna !!
Seketika muncul dua tangan dari dalam tanah memegangi roda penguntil itu. Ia berusaha untuk melawan layaknya ia adalah korban di sini.
"Dengarkan perintahku, butiran angin hampa menerpa. Swirl !" Angin bersatu dari empat penjuru mata angin berusaha menghempaskanku dan melemparkan dirinya ke langit, tetapi kelolosannya berhasil dicegah oleh salah satu warga yang kebetulan sedang melintas. "Alam yang kuasa mewujudkan impian makhluk. Iron Creat !" Jangkar hitam tercipta dengan rantai yang memutari kedua tangan dan menahan pergerakan si pencuri. Andai petugas dari Sakolini tak kunjung tiba pasti sabit kematian telah mengambil jiwanya. Sang korban berterimakasih padaku dan orang lintas yang menolongnya tadi. Ia memberiku sebuah pepaya tuk dibawa pulang nantinya. Meski tangan tak berpangku, tapi dermawan itu memaksaku untuk menerimanya. Tak bisa mengelak lagi lantas kuucap terima kasih padanya. Senyuman lebar merupakan balasannya padaku. Setelah itu dua petugas membawanya ke rumah besar Sakolini untuk ditindaklanjuti lebih mendalam beserta seorang mangsa yang menjadi korban sekaligus mata pengintai. Aku melanjutkan petualangan yang penuh misteri pagi ini.
***
Seorang pemuda menginjakkan kakinya ke dalam dunia yang sesak dengan kertas dimana-mana. Berjalan lamban langkah demi langkah matanya terlihat seperti baru kali pertama berkunjung. Kakek uzur yang sedang berjaga kala daku masih dalam jalan panjang kembali ke markas. Ia membacakan dongeng padaku kalau alasan manusia hitam itu datang hanya karena ingin melihat-lihat saja. Dengan jubah hitam, sepatu hitam, dan tas selempang cokelat melekat di tubuhnya ia menyusuri tiap rak buku yang ada. Pemuda itu hanya bertanya sekali pada si kakek apakah ada sebuah buku lama yang berjudul Zoí. Dikala kakek uzur menjawab keingintahuannya bersamaan dengan suaraku yang mengucap "Aku kembali" sehingga jawaban si kakek tak terdengar olehnya. Hanya pola mulut yang ia dapatkan darinya. Setelah itu ia berjalan menuju pintu keramat bagi kutu buku di kota ini. Hanya satu detik saja kami bersanding dengan beda arah dan tujuan. Mata tajamku melihat sebuah buku bewarna biru tua kehitaman berada dalam penjaranya. Tapi pita suaraku enggan untuk berguncang dan mulut membatu.
***
Awal dari takdirku telah dimulai. Menyaksikan berbagai pasang kaki keluar masuk markasku setiap waktu. Mereka berasal dari berbagai golongan, mulai dari penimba ilmu, pemburu harta, hingga tak jarang pula putera maupun puteri bangsawan turut berkunjung untuk meminjam gundukan kertas. Berkat pekerjaan ini lah aku mengenal macam-macam orang dari berbagai kasta. Salah seorang yang mengulurkan tangannya padaku untuk mengantarkan ibuku mencari kesembuhan juga pengunjung setia di sini. Tak ayal kata terima kasih selalu kuucap ketika bertemu dengannya.
"Nova, bisa kau carikan The End For Human Life untukku ?" pinta seorang puteri berambut pirang dari keluarga bangsawan Sudjiptoe.
Tanpa perlu menggali ingatan terlebih menerka satu persatu aku lagsung menuju ke tempat buku tersebut tertidur. Tentu saja itu bukanlah hal yang sulit bagi anjing yang mencari kuburan tulang mangsanya sendiri. Berjalan dengan anggun menuju puteri yang kesepian, menemaninya menelaah buku yang ia baca merupakan kebiasaan kami berdua dikala aku sedang menganggur. Namanya adalah Virani Adana Soedjiptoe. Aku biasa memanggilanya Viran sebagai simbol bahwa rambutnya yang berwarna pirang itu. Ia salah satu keturunan unggulan dari rasnya. Baik, ramah, lemah lembut, sopan santun, perhatian dan masih banyak lagi keunggulan darinya dibanding dengan kelopak bunga lain yang mekar dengan penuh keangkuhan dan kebanggaan diri yang tinggi. Meski aku sudah tidak mengenyam bangku pendidikan sejak ibu jatuh sakit, ia selalu meminta opini hingga resolusi dengan konflik yang sedang terjadi di wilayah kerajaan sebagai topik diskusi. Sebagai contoh singkatnya saat kami membahas Dark Forest, ia meminta tanggapanku seandainya hutan tersebut ditiadakan. Aku hanya bisa menjawab bahwa keberadaan hutan itu sangatlah penting jika suatu hari nanti akan terjadi perang antar wilayah kerajaan bahkan perang sipil sekalipun sebagai benteng bagi kota ini. Karena jika bukan orang kita yang memasukinya maka mereka sudah pasti akan disesatkan oleh pohon beringin dalam kegelapan siang.
"Mungkin sudah saatnya, maaf ya Nova aku harus berangkat ke akademi" ucapnya padaku seraya menutup ilmu di pangkuan tangannya.
Apakah karena ia turunan bangsawan sehingga bisa datang sesukanya ke akademi atau memang ditugaskan kemari aku pun tak tahu dan tak mau tahu, karena aku bukanlah seorang pelajar di akademi. Daku hanyalah hamba ilmu yang terikat takdir dengan rumah ilmu.
Dirasa gerombolan nyamuk yang usai menghisap banyak darah telah pergi, tubuh ini menjadi kosong tanpa hati yang meramaikannya. Aku mengarahkan kakiku ke luar perpustakaan menuju sebuah tempat yang dikuasai kegelapan. Melangkahkan kaki yang terasa berpegang kepada ibunya tak mau pergi tapi harus pergi. Sekali lagi aku kembali padamu Sang Misteri !
Jegrek !! Kubuka pintu dengan perlahan
Ngeeeeee.... Suara reotan pintu tua sungguh mengiris pendengaran
Grek !!
Kuambil lentera kecil di samping pintu tergantung pada kulit tebal berlapis semen. Sebuah gudang kecil berbentuk silinder dengan lima lantai diatasnya yang makin mengerucut ke puncaknya. Kumenyusuri lautan buku yang sudah kutata rapi di tiap rak kayu setinggi dua meter. Naik dengan cobaan hidup yang terlalu berat membuat nafas tak kuasa terengah kesepian. Hingga sampailah pada puncak tertinggi dunia yang hanya selebar lima meter ini. Terdapat ruang rahasia kecil dibalik kumpulan buku yang berjajar ini. Kurampas satu persatu buku dan terlihat lah pintu kecil persegi berwarna hitam pekat.
***
Pada mulanya saat kali pertama kutemukan tanpa kesengajaan terdapat kertas yang menyegel pintu ini. Segel tingkat tinggi yang hanya bisa dibuat oleh Orphin sekelas Bishop pengguna teknik penguncian yang bernama Seal The World. Saat ku berusaha membukanya tetiba terdengar dari bawah suara pintu terbuka. Aku terkejut setengah mati, yang ada di pikiranku hanya lah tuk segera menutupinya kembali dengan barisan buku. Bersembunyi di balik tumpukan buku yang masih berserakan di lantai. Ternyata Ibu Rosalina yang masuk kedalam gudang. Nampaknya ia sedang mencari anakan ayam yang tak kunjung kembali ke kandangnya. Saat bu Rosa keluar aku dibuat jantungan lagi karena segel yang tadi ada sekarang sudah tiada.
Apakah bu Rosa yang membuka segelnya ? Tak ada pertanda kerusakan secara paksa di bagian pintu. Akan tetapi bu Rosa tak menyentuh sedikitpun buku yang menutupinya meskia ia sempat naik hingga ke lantai teratas. Ada kejanggalan disini !
Kubulatkan tekad membuka pintu kecil itu perlahan-lahan. Saat pintu terbuka tiga puluh persen terlihat benda tebal berwarna hitam kebiruan di dalamnya. Lima puluh persen terbuka dan aku yakin itu adalah buku. Seratus persen terbuka kuambil buku yang entah terlarang atau tidak itu. Kumpulkan keberanian membuka sampul depan yang hanya bertulis huruf tak dikenal. Saat kulihat dalamnya lebih aneh lagi karena huruf dan bahasa yang digunakan sangatlah tak dikenal. Aku tidak pernah melihatnya di buku mana pun bahkan buku sejarah sekali pun. "Apakah ini justru huruf baru yang belum pernah ada ?" kalimat itu terus berputar dikepalaku selama kubolak-balik lembaran lusuh itu. Karena tak kupahami isinya aku memutuskan untuk meletakkannya kembali dan meninggalkannya sendiri.
***
Siang ini aku buka lembaran putih kekuningan itu lagi dengan mengaharap keajaiban datang padaku. Huruf yang unik membuatku terpanah selalu saat melihatnya. Kuraba lembut tiap aksara yang melekat pada dinding rapuh. Pernah sekali aku bertanya kepada kakek uzur mengenai huruf yang tertulis di sampul depan, tapi ia hanya terdiam sejenak dan mengalihkan pembicaraan.Ingin sekali kubawa ia keluar penjara yang mengurungnya selama ini ke dunia lepas. Nyali yang ciut rupanya hambatan terbesar yang menimpa. Aku bahkan tak berani menanyakannya pada Robin Hood meski ia sudah berjasa pada kami. Sungguhlah sangat disayang akan kecilnya nyaliku ini.
***
Hari-hari menjenuhkan ini kulalui. Diakhiri oleh Raja Api yang telah sampai di bagian barat bumi. Langit jingga telah mengikis perlahan birunya laut di angkasa. Aku menyelesaikan kewajibanku dan bergegas menuju keramaian orang yang telah sunyi.
Aku pulang dulu ya kakek uzur !!
"Ah.. Hati-hati ya saat pulang !"
"Tugu putih dalam tubuh, kuatkan bagai baja tak berkarat !" Kukuatkan tulang dan otot kaki agar berlari sekencang mungkin tak kenal lelah. Melawan derasnya angin menghantam raga hingga rambut terangkat menari. Dari kejauhan terlihat sekumpulan rumah berjalan telah bersiap lepas landas dari landasan pacuan. Kuteriak sekencang mungkin tunggu aku pak tua !!! Dikala sampai memegang pembatas kayu di bagian belakang rumah, angin berhembus kencang untuk menyusul tubuhku yang sudah sampai tiga detik yang lalu.
"Tak perlu repot-repot bagi semut mengejar gula" ucap pak tua bersiap menjadi pengendali kuda. Kujejakkan telapak kaki ke dalam rumah kayu berjalan ini dan begitu juga orang yang menumpang di sini. Petualangan sore hari dimulai dengan ditemani bola api yang seakan menangis karena dikejar oleh kegelapan yang semakin menguasai angkasa langit.
***
Setiba kami di lapangan desa aku langsung berpamitan dan meminta bantuannya untuk esok hari lagi. Ketika kuhendak menancap tombol pada kakiku, isteri dari si pak kusir yang telah setia menunggu ketibaan kami menghampiriku dan meletakkan pada tanganku sekotak makanan yang dibungkus kain tipis. Aku tak tahu harus berterimakasih dengan cara apa karena setiap senja pasti terjadi seperti ini semenjak ia mengetahui bahwa ibuku yang tak bisa beranjak dari gravitasinya sendiri. Meski pada ujungnya berterimakasih ialah satu-satunya jawaban yang keluar dari rongga mulut ini.
Tak seperti fajar menjelang, di waktu menjelang petang ini aku memacu kaki ku tuk bergerak lebih cepat dari angin. Sinar cahaya matahari kecil menerangi di sekujur jalan pulangku. Penghuninya bersiap untuk membuat hidangan rumahan yang akan menggoyang lidah. Aromanya saja sudah mengguncang perutku ketika melintas.
Duk duk duk duk
Jegrek !
Ibu aku pulang !! Kutaruh tas selempangku di kursi tua dan bersegera menuju ruang aman nan nyaman tuk memeluk erat malaikat pelindungku. Kupeluk erat tubuh rentannya yang tak lagi muda dan segar itu. Sebuah momen yang paling indah dalam satu putaran bumi ialah mendengar ibuku mengucapkan,
"Selamat datang kembali puteriku"
Itulah alasan mengapa aku menyukai warna ungu pada rambut pendekku karena seperti sebuah momen yang hanya terjadi di saat Petang Menjelang Tiba.
Selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar