Keramaian menyambut
deklarasi kemenangan atas keberhasilannya dalam mengalahkan ratusan peserta ujian
lainnya. Keramaian pula yang menyamarkan deruan air mata ratusan peserta ujian
yang tidak akan nampak kembali hingga satu kali perputaran bumi pada matahari.
Keramaian jua yang acuh dengan kobaran api yang membara membakar desa itu.
Keramaian menghanyutkan segala apa yang terbawa di dalamnya.
Kembali dengan jaya
atau hanya nama. Menusuk batin yang begitu rapuh berjilid-jilid. Adakah
seseorang yang menunggu akan kedatanganmu? Adakah yang berkenan mengutuhkan
kembali kaca pelindung linanganmu itu? Inilah dunia. Lembut kala kau
memanjakannya, dan begitu keras dan kasar kala kau tak sanggup memuaskannya.
Terimalah derita tersebut. Kehidupan suka menyombongkan diri atas penyiksaan
yang berulang terjadi.
Lembaran usang
bernoda terbuang seiring putaran roda yang terbawa aliran tapal kuda. Dibendung
pepohonan yang tumbuh subur merakyat di gundukan tanah. Ia telah kembali tiba
ingin melompati dinding setinggi dua puluh kaki. Menghuni persinggahan yang
baru bersama puluhan mantan lawannya. Tak menengok sapa berjalan lurus menuju
tempat yang telah dijanjikan. Berdiri di sana seorang gadis bertudung cokelat
memandang keluar dunia melalui jendela tua yang menyinari wajahnya penuh
kehangatan cahaya. Membasuh luka yang selama ini telah dipendamnya. Berbalik
punggung dan dadanya saling bertukar tempat. "Selamat Datang", semalu
tudung serekat topeng, tak saling tatap namun percaya, bahwa sosok yang ada di
hadapannya adalah angin pembawa badai tak berujung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar