#ReviewWinter2020AU
================================================
Apabila tulisan ini dirasa
panjang, disarankan untuk membacanya
di link berikut agar terhindar
dari sakit mata karena layout facebook.
================================================
[Runway de
Waratte: Spirit Fesyen Sebagai Identitas Diri]
⸭Informasi Umum⸭
Judul: Runway de Waratte / Smile at The Runway
Serial: Tv (12 Episode)
Produser: Mainichi Broadcasting System, Kodansha, dan DMM
pictures
Studio: EzÏŒla
Adaptasi: Manga
Aliran: Drama, School, Shounen, dan Slice
of Life
Tingkat: 13+ R-BO
Staf Produksi: Nagayama
Nobuyoshi Sutradara
Machida Touko Penulis Skenario
Misaki
Kaneko Desain
Karakter
Shuji Katayama Musik
Akinari Suzuki
Inoya Kotoba Komikus/Author
Pengisi Suara: Hanamori Yumiri >< Fujito
Chiyuki (Tokoh Utama)
Hanae
Natsuki >< Tsumura Ikuto (Tokoh Utama)
Kimura
Ryouhei >< Ayano Too (Sampingan)
Kayano
Ai >< Hasegawa Kokoro (Sampingan)
Sinopsis:
Mengisahkan sepasang muda-mudi yang ingin mewujudkan impian masing-masing.
Berpusat pada Chiyuki sebagai tokoh utama sekaligus pembuka cerita yang
bermimpi untuk ikut andil sebagai model dalam acara peragaan busana terbesar
dunia di Paris, Prancis. Akan tetapi, impiannya terhalang oleh tinggi badannya
yang di bawah standarisasi model profesional. Meski demikian, Chiyuki tetap
bersikukuh agar dirinya dapat menjadi seorang model papan atas. Dalam proses
upayanya itu lah ia bertemu dan mengenal Ikuto, seorang lelaki yang
bercita-cita menjadi perancang busana. Lain halnya Chiyuki, Ikuto memiliki
masalah dengan ekonomi keluarga. Berbekal ilmu yang didapatnya secara otodidak
dan berbagai kain perca, Ikuto membuatkan busana untuk Chiyuki yang akan dikenakan
saat mengikuti audisi di agensi milik ayah Chiyuki sendiri, Mille neige. Berawal
dari momen tersebut, hubungan mereka terjalin semakin dekat dan saling berjanji
untuk berjuang demi mewujudkan impian.
⸭Judul⸭
Setelah
menonton episode 3, alasan pemilihan nama pada judulnya bisa diungkap. Saat
berjalan memeragakan busana di runway terdapat dua aturan mutlak yang tidak
boleh terjadi dan dilakukan. Itu adalah terjatuh dan tersenyum. Akan tetapi,
melalui Chiyuki hal itu berusaha didobrak. Tak apa sekalipun terjatuh. Tak apa
meskipun kau tersenyum. Selama busana yang ditampilkan jauh lebih mampu memikat
perhatian, maka semua aman. Model tidak seharusnya memasang wajah kaku/dingin
seakan tidak peduli dengan apa yang dikenakannya, terlebih jika model merasa
tersiksa dengan busananya. Jika model merasa puas dengan busana yang
dikenakan... Tersenyumlah! Sebagai rasa terima kasih karena telah menjadi orang
pertama yang mengenakannya.
⸭Tema⸭
Anime
ini mengusung tema yang jarang ditemui dalam industri anime Jepang. Fesyen
seringkali dianggap tidak penting dalam keseharian manusia. “Yang penting pakai
baju dan terasa nyaman itu sudah cukup”. Asumsi demikian diwakilkan oleh salah
seorang tokoh sampingan Nuunima yang seorang asisten jurnalis alumnus jurusan
sastra. Rupa-rupanya pola pikir Nuunima dan penulis sama persis. Sebagai sesama
budak yang belajar ilmu sastra, kami tak memedulikan soal fesyen. Seolah
mendapatkan gamparan dan pengetahuan akan dunia baru yang tak pernah dijamah,
anime ini berusaha menunjukkan bagaimana kerja dan totalitas seorang
profesional dalam bidang perancangan, pembuatan, dan pemeragaan. Fashion bukan
berarti fashionable. Runway de Waratte murni memusatkan cerita pada makna
fesyen yang sebenarnya.
⸭Plot⸭
Dalam
dunia naskah ada yang disebut dengan “cerita” dan “penceritaan” atau dalam
istilah rusia disebut “Fabula” dan “Sjuzet”. Cerita adalah keseluruhan bahan
yang ada, sedangkan penceritaan adalah bagaimana cara pengarang menyusun cerita
tersebut (plot). Dalam plot terdapat
alur dan juga teknik penceritaan yang disebut Imbas Kembali. Alur progresif
dikombinasikan dengan Imbas Kembali menghasilkan masa depan yang ditampilkan di awal cerita, kemudian cerita
akan dilempar ke masa lalu untuk mengenang semua usaha atau peristiwa yang
telah dilalui. Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam teknik ini:
[+]
Penonton tidak perlu khawatir dengan akhir cerita (Jika berakhir bahagia)
[+]
Cara penyusunan alur lebih bervariasi
[-] Di
sisi lain, teknik ini sama saja mematikan cakrawala harapan (ekspektasi)
penonton. Tak peduli apapun yang terjadi, jika sudah mengetahui akhir cerita
maka tidak akan menarik. (Berlaku bagi tim kontra spoiler)
Cerita
dalam anime ini akan berakhir bahagia, maka sebuah kesalahan jika menggunakan
teknik tersebut. Kecuali jika masa depan yang ditampilkan masih abu-abu atau
belum pada tahap resolusi. Serial Boruto termasuk salah satu anime yang
menggunakan model penceritaan yang demikian. Akan tetapi, masa depan yang
ditampilkan sebatas pada konflik yang masih belum jelas bagaimana akhir
ceritanya. Masih ada bagian yang mampu membuat penonton tertarik untuk menanti
akhir dari kisah.
Pada
akhir opening telah diperlihatkan mereka berdua berada di Paris, belum lagi
pembuka cerita juga mereka berada di sebuah peragaan dimana Chiyuki berada di
runway dan Ikuto memakai setelan jas. Benar-benar akhir yang bahagia. Mungkin
hal tersebut dilakukan oleh pengarang sebagai bentuk pemicu semangat perjuangan
guna memotivasi para penonton. “Tak perlu takut dengan berbagai bentuk
kegagalan yang akan terjadi karena semua akan indah pada waktunya.” Kira-kira
seperti itu jika orang Indonesia yang menginterpretasikannya.
Meskipun
dikata tidak perlu repot-repot menebak akhir cerita, nyatanya penonton masih dibuat
penasaran saat ketegangan terjadi dalam suatu konflik. Salah satu contohnya
ialah siapa yang akan menjadi pemenang lomba fesyen yang berlangsung sengit.
Saat-saat menegangkan itu tidak dapat diabaikan sampai membuat penonton
memasang pertanyaan siapakah juaranya. Atau mungkin sebelum perlombaan dimulai
ketika ayah Chiyuki memutuskan untuk membeli hak paten busana rancangan Ikuto
senilai 2 jt yen.
Akhir
episode ditutup dengan penuh kerendahan dan kesadaran diri tokoh utama yang
bersedia untuk berkerja dengan orang lain. Tidak menampilkan keegoisan dari
ambisi yang meluap adalah cara terbaik sebagai contoh dalam bersikap di
masyarakat. Perjalanan panjang masih harus dilewati untuk sampai di Paris,
Prancis!
⸭Penokohan⸭
Uniknya
dalam anime ini adalah masing-masing tokohnya yang memiliki latar belakang
berbeda juga kelebihan dan kekurangan tersendiri. Ragam itu lah yang membuat
jalan cerita menjadi lebih kaya akan konflik individu. Mulai dari polemik
ekonomi sebagai latar belakang Ikuto, seorang anak pemilik agensi model namun
tak memiliki tinggi badan yang mencukupi adalah Chiyuki, perempuan serba bisa
namun kikuk, Kokoro, dan ambisi seorang cucu dari perancang busana ternama yang
gagal di akhir episode, Ayano. Tidak ada villain di anime ini. Hanya saja mungkin
dapat dikatakan sebagai anti-hero yang berusaha menunjukkan bahwa dunia model
lebih baik dari dunia perancangan busana.
⸭Visual⸭
[Art
Style]
EzÏŒla merupakan studio baru. Animasi garapannya dimulai
dengan rilisnya Happy Sugar Life. Dalam kategori visual art, EzÏŒla memiliki
ciri tersendiri. Pastel adalah warna yang dipilih studio ini. Pemilihan warna
yang kalem berusaha menjaga agar mata tidak tersakiti bila menonton dalam durasi
lama. Akan tetapi, masih terdapat kelemahan yang menyertai rilisan ketiganya
tersebut. Walupun bisa dibilang EzÏŒla telah belajar dari anime sebelumnya, Sou
nan desuka?. Brightness-nya masih sedikit tinggi, namun lebih rendah dari Sou
nan desuka. Jika pada musim panas lalu saya dipaksa menurunkan kecerahan layar
secara manual, musim dingin kemarin rasanya sudah tak diperlukan.
[Grafis]
Dibangun dengan 24 FPS membuat anime ini memiliki kekurangan
pada pergerakan gambar layaknya anime kebanyakan. Tak sedikit ditemukan di
beberapa adegan yang mana pergerakan tokoh terlihat kaku dan patah-patah. Untuk
ukuran studio baru dan manga yang diadaptasi juga tidak terlalu populer
tentunya berdampak pada besar kecilnya pendanaan proyek. Secara otomatis juga
memengaruhi jumlah animator yang dipekerjakan akan lebih sedikit dibandingkan
sebuah proyek dengan pendanaan selangit.
[Videografi]
Pengambilan gambar atau yang bisa disebut juga angel shooting
tidak ada masalah. Walaupun pada genre tidak dituliskan roman, akan tetapi
sedikit bumbu roman dimasukkan bukanlah masalah. Justru akan mempermanis
suasana. Teknik pengambilan gambar Extreme Close Up (ECU) dan Close Up (CU) tidak
sulit dijumpai dalam anime ini. ECU untuk memperjelas ekspresi marah atau takut
dengan gambar difokuskan pada perubahan (pupil) mata atau geraman mulut.
Sedangkan CU dipergunakan untuk menunjukkan wajah yang blushing,
kecantikan wajah, juga mimik wajah secara keseluruhan. Sudah menjadi kebiasaan
saat menampilkan busana baik dalam adegan-adegan seperti heroine yang
berpakaian menawan dsb, teknik kamera Pedestal Up (PU) menjadi solusi tepat
untuk mengumbar kecantikan sekaligus postur tubuh yang disorot. Sangat cocok
guna menonjolkan busana dalam anime ini.
⸭Lagu Tema⸭
♪ Ami
Sakaguchi – LION (opening)
Sangat
tidak etis rasanya bila lagu pembuka tidak menggebu-gebu. Walaupun Ami-san
merupakan artis pendatang baru, namun dia mampu membawakan lagu yang berjudul
LION dengan baik. Lagu pembuka ini cocok dengan karakteristik sang tokoh utama,
Fujito Chiyuki. Mendeskripsikan kepribadiannya yang pantang menyerah terasa
padu dengan judul dan tempo lagu tersebut. Bak singa betina yang sedang berburu
mangsa, dia tidak akan menyerah hingga impiannya terwujud. Lagu ini mengajak
penonton untuk ikut antusias layaknya semangat para tokoh dalam anime. Hanya
saja, pergantian tempo yang dipercepat pada reff kedua terasa sedikit risih di
telinga. Penonton mungkin akan merasa tidak nyaman bila mendengarnya dalam
kondisi sedang bersantai, dan kemungkinan jalan yang akan dipilih adalah
melewati lagu pembuka ini.
♪ Kim
Jae Joong – Ray of Light (ending)
Berbeda
dengan lagu pembuka dengan ciri khasnya yang menggugah semangat, lagu penutup
selalu menjadi tempat mendinginkan kepala. Sebagai obat penenang, sudah menjadi
tugasnya mengalunkan melodi dengan lembut. Kim Jae Joong, seorang penyanyi asal
Korea ini menjadi pembawa lagu dengan judul Ray
of Light. Sosok yang lebih dikenal Jejung (Jejun, read.) di negeri sakura itu
memiliki jam terbang sebagai penyanyi yang tak perlu diragukan kembali. Hal itu
dapat dibuktikan secara langsung melalui lagu yang ia bawakan. Dengan beraliran
K-Pop, ia mempersembahkan sebuah rasa yang berbeda kepada industri lagu animasi
Jepang. Tak pelak saat kali pertama mendengarkannya terasa ada yang ganjil atau
lebih tepatnya serasa tidak asing di telinga, bagi saya yang kebetulan seorang penggemar
K-Pop dan serial drama korea.
Tema
yang diajukan seperti kemenangan setelah melalui halang rintang yang begitu
berat. Emosi dipaksa untuk mereda seolah merelaksasi ketengangan pasca konflik.
Kehangatan yang dibawakan dimanfaatkan oleh studio untuk merepresentasikan
salah seorang tokoh utama dalam anime, Tsumura Ikuto. Berbanding terbalik
dengan si singa betina, Ikuto terasa seperti anakan burung yang hidup dalam
kehangatan keluarga. Tidak ada minus pada lagu ini. Biarkan telinga yang
merasakan sendiri ketentraman Ray of Light.
⸭Seiyuu⸭
Bagian
pengisi suara tidak ada masalah. Masing-masing dari mereka sanggup memerankan
dengan baik tokoh dalam cerita. Hanamori yang mampu memerankan perempuan cilik
dan remaja bisa mengekspresikan dengan baik sosok Chiyuki yang berpenampilan feminim
namun sedikit maskulin dalam kepribadiannya. Karakter suaranya yang juga
memerankan Hayasaka Ai (Kaguya-sama) ini memang cocok untuk menjadi perempuan
remaja. Demikian pula dengan Natsuki Hanae, tak perlu diragukan lagi rekam
jejaknya sebagai pengisi suara. Kaneki (Aink Ghoul), Qwenthur (Heavy Object),
Takumi (Shokugeki) dll dapat diperankan dengan baik olehnya. Sebagai seorang
profesional ia mampu menyesuaikan suara sebagaimana sifat tokohnya.
Suara
Ayano Toh terdengar berat dan seperti orang jahat (padahal bukan). Siapa yang
menyangka bahwa pengisi suaranya adalah sosok yang sama dengan 10 tahun lalu
yang memerankan Hinata (Angel Beats). Serasa berbeda orang. Memang begitulah
seharusnya. Seorang pengisi suara yang berpengalaman memang tak perlu
ditanyakan soal kelihaian dalam seni bermain peran. Terakhir adalah Kayano Ai.
Tidak ada yang tak mengenalnya. Pengisi suara si kembar Alice (SAO) dan
Darkness (Konosuba) ini juga tak kalah profesional dengan yang lain. Karakter
suara onee-san, atau imut seperti imouto dia libas. Kokoro yang berperawakan
dewasa memang berlawanan dengan suara yang tipis malu-malu. Namun memang
demikian adanya menilai dari kepribadian Kokoro itu sendiri.
Meskipun
EzÏŒla tergolong sebagai studio baru, namun berhasil memperoleh pengisi
suara yang bukan kelas teri!
⸭Amanat⸭
[Spirit]
Mereka
yang membuang waktu semasa berstatus pelajar akan menyadari bahwa terdapat hal
positif yang dapat dikerjakan daripada menghabiskan hari untuk bermain gim dan
menonton anime hingga lupa waktu. Pada dasarnya seseorang pasti memiliki
kemampuan atau ketertarikan pada suatu bidang tertentu. Tinggal bagaimana orang
tersebut mendalami dan mengolah waktu. Anime ini menyadarkan bahwa menggali
potensi diri sangat penting dilakukan. Memiliki cita-cita sangat penting sebagai
target untuk dicapai, dengan kerja keras tentunya. Walaupun banyak masalah yang
pasti akan terjadi, jangan dihindari—tapi hadapi dan selesaikan masalah
tersebut. Jangan melarikan diri! Jadilah orang sukses dengan segudang
pengalaman, itu akan membuktikan bahwa kesuksesan hanya dapat ditempuh melalui
perjalanan yang panjang. Tidak dengan cara instan, seperti menggunakan kekuatan
orang dalam misalnya.
[Identitas]
Menampar
keras mereka yang beranggapan bahwa busana hanya untuk menutupi/melindungi
tubuh dari ganasnya cuaca, Runway de Waratte memperlihatkan seperti apa itu
busana sebagai fesyen. Bukan lagi hanya sekadar dipakai-nyaman-selesai. Busana
memiliki keunggulan lebih dari itu. Ibaratkan saja fesyen adalah cara memasak
dan busana adalah ayam. Ada banyak sekali cara untuk menyajikan ayam menjadi
hidangan, begitu pula cara memanfaatkan busana. Ketika suatu fungsi utama dari
obyek terpenuhi, maka manusia akan melakukan inovasi atau mencari fungsi lain
dari obyek tersebut. Ayam goreng, ayam bakar, ayam panggang, ayam kukus, dan
ayam-ayam lainnya. Ragam hidangan dengan bahan yang sama namun dengan cara
penyajian yang berbeda berdampak pada rasa juga tekstur ayam. Demikian pula
dengan busana. Busana yang dirancang untuk melindungi diri, busana yang
dirancang untuk kenyamanan pemakai, busana yang dirancang untuk memamerkan
estetika, dan busana untuk menunjukkan identitas diri.
Busana
mengubah seseorang atau seseorang memberitahu siapa dirinya melalui busana.
Keduanya bisa terjadi dan dapat dilakukan. Teruntuk mereka yang menyepelekan
busana mungkin akan berubah pikiran setelah menonton anime ini. Pernah kan dari
kita takjub dengan suatu busana dan ingin mengenakannya? Apa yang terjadi
setelah mengenakannya? Lebih mudahnya lagi, apa yang terjadi bila tunawisma
mengenakan setelan jas? Apakah masih tampak sebagai tunawisma? Dalam kasus ini
busana mampu mengubah seseorang atau setidaknya penilaian seseorang terhadap orang
lain. Menyulap orang biasa menjadi luar biasa dapat dilakukan dengan mengubah
busana. Kemudian dalam kasus lain, seseorang yang menunjukkan sifat atau
kepribadiannya melalui busana yang dikenakan. Orang yang kalem, polos, dan
pendiam akan cenderung menggunakan busana yang simpel dan kasual. Tak suka
berpenampilan mencolok dari yang lain. Ada juga yang berbusana glamour yang
mencerminkan dirinya seorang yang suka kemewahan dan kemegahan. Busana dapat
berperan sebagai cerminan diri, orang-orang dapat menilai kita dari cara dan
gaya berbusana.
[Standar
Kecantikan]
Cantik
itu relatif? Omong kosong. Lantas mengapa ada kontes Miss Universe? Kecantikan
itu ada standarnya. Apa yang tidak pasti menjadi mutlak. Jika tidak memenuhi
standar, maka tidak layak dikatakan cantik. Model rambut, struktur wajah,
bentuk hidung dan bibir, tinggi badan dan berat badan merupakan poin penting
yang selalu dipertimbangkan untuk mengukur kecantikan. Dalam anime ini
khususnya, menekankan faktor postur tubuh. Perempuan berwajah jelek. DITOLAK!
Perempuan bertubuh gemuk tidak bisa menjadi model. DITOLAK! Perempuan bertumbuh
pendek diharamkan berjalan di runway. DITOLAK! Apa yang dialami oleh Chiyuki
hanya salah satu dari tiga poin di atas. Berparas cantik, bertubuh ramping,
Chiyuki memilikinya. Hanya karena faktor
tinggi badannya yang tidak memenuhi standar, ia harus menelan pahitnya
kenyataan. Walaupun pada akhirnya ia berhasil menembus aturan tersebut dan
menjadi model untuk busana rancangan Yanagida, Ikuto, dan Kokoro.
[Strategi]
/Ikut
orang-curi ilmunya-praktekkan/
Tiga
langkah itu adalah suatu keharusan bagi siapapun yang ingin membuka usaha
sendiri. Jangan sampai merintis usaha tanpa adanya ilmu yang cukup. Memang ada
yang berbekal belajar otodidak dan berhasil bisnisnya. Akan tetapi jumlah nya
hanya hitungan jari, jauh lebih banyak mereka yang bangkrut di tengah jalan
karena kurangnya ilmu dalam membangun usaha. Melalui Tsumura Ikuto, pengarang
ingin menyampaikan bahwa kesuksesan tidak dapat diraih dengan tanpa adanya
bantuan dari orang lain. Tanpa pernah belajar dari orang lain. Mustahil.
Sebagai contoh adalah dimulai dari Ayano Toh yang bersikeras ingin mennyaingi
neneknya dan bermaksud independen (membuka usaha sendiri), akan tetapi ia
mengurungkan niatnya karena sadar betul bahwa rancangannya masih meniru
neneknya. Diikuti setelahnya Tsumura Ikuto yang awalnya menolak bergabung
dengan tim Ayano, di akhir episode ia membuang egonya dan bersedia menjadi
pembuat pola dalam tim Ayano. Kurangnya ilmu dan pengalaman membuat Ikuto harus
membuat keputusan demikian. Itu semua dilakukan demi menjadi perancang busana
profesional.
⸭Kesimpulan⸭
Anime ini menyampaikan pada penonton bahwa fesyen bukan hanya bicara soal hasil jadi (busana), melainkan adanya proses rumit di belakangnya yang jarang diketahui atau digubris oleh para konsumen. Dibarengi dengan semangat muda-mudi dalam mengejar impian, mengajarkan makna apa itu fesyen dan untuk apa keberadaan fesyen. Sangat cocok sebagai sarana motivasi bagi mereka yang selalu menyerah akan yang namanya bakat, potensi, dan impian.
Nilai Tiap Bagian
Ø
Plot
8/10
Ø Visual
7,5/10
Ø
Lagu
8,5/10
Ø Amanat
9/10
Ditulis
oleh Aris Tri Prasetyo as Raven Guard


Tidak ada komentar:
Posting Komentar