Jumat, 24 April 2020


#ReviewWinter2020AU
================================================
Apabila tulisan ini dirasa panjang, disarankan untuk membacanya
di link berikut agar terhindar dari sakit mata karena layout facebook.
================================================
[Runway de Waratte: Spirit Fesyen Sebagai Identitas Diri]
Informasi Umum
Judul: Runway de Waratte / Smile at The Runway
Serial: Tv (12 Episode)
Produser: Mainichi Broadcasting System, Kodansha, dan DMM pictures
Studio: Ezόla
Adaptasi: Manga
Aliran: Drama, School, Shounen, dan Slice of Life
Tingkat: 13+ R-BO
Staf Produksi: Nagayama Nobuyoshi             Sutradara
Machida Touko                       Penulis Skenario
                        Misaki Kaneko                       Desain Karakter
Shuji Katayama                      Musik
Akinari Suzuki
Inoya Kotoba                          Komikus/Author
Pengisi Suara: Hanamori Yumiri       ><        Fujito Chiyuki (Tokoh Utama)
                        Hanae Natsuki            ><        Tsumura Ikuto (Tokoh Utama)
                        Kimura Ryouhei         ><        Ayano Too (Sampingan)
                        Kayano Ai                  ><        Hasegawa Kokoro (Sampingan)
Sinopsis: Mengisahkan sepasang muda-mudi yang ingin mewujudkan impian masing-masing. Berpusat pada Chiyuki sebagai tokoh utama sekaligus pembuka cerita yang bermimpi untuk ikut andil sebagai model dalam acara peragaan busana terbesar dunia di Paris, Prancis. Akan tetapi, impiannya terhalang oleh tinggi badannya yang di bawah standarisasi model profesional. Meski demikian, Chiyuki tetap bersikukuh agar dirinya dapat menjadi seorang model papan atas. Dalam proses upayanya itu lah ia bertemu dan mengenal Ikuto, seorang lelaki yang bercita-cita menjadi perancang busana. Lain halnya Chiyuki, Ikuto memiliki masalah dengan ekonomi keluarga. Berbekal ilmu yang didapatnya secara otodidak dan berbagai kain perca, Ikuto membuatkan busana untuk Chiyuki yang akan dikenakan saat mengikuti audisi di agensi milik ayah Chiyuki sendiri, Mille neige. Berawal dari momen tersebut, hubungan mereka terjalin semakin dekat dan saling berjanji untuk berjuang demi mewujudkan impian.
⸭Judul⸭
Setelah menonton episode 3, alasan pemilihan nama pada judulnya bisa diungkap. Saat berjalan memeragakan busana di runway terdapat dua aturan mutlak yang tidak boleh terjadi dan dilakukan. Itu adalah terjatuh dan tersenyum. Akan tetapi, melalui Chiyuki hal itu berusaha didobrak. Tak apa sekalipun terjatuh. Tak apa meskipun kau tersenyum. Selama busana yang ditampilkan jauh lebih mampu memikat perhatian, maka semua aman. Model tidak seharusnya memasang wajah kaku/dingin seakan tidak peduli dengan apa yang dikenakannya, terlebih jika model merasa tersiksa dengan busananya. Jika model merasa puas dengan busana yang dikenakan... Tersenyumlah! Sebagai rasa terima kasih karena telah menjadi orang pertama yang mengenakannya.
⸭Tema⸭
   Anime ini mengusung tema yang jarang ditemui dalam industri anime Jepang. Fesyen seringkali dianggap tidak penting dalam keseharian manusia. “Yang penting pakai baju dan terasa nyaman itu sudah cukup”. Asumsi demikian diwakilkan oleh salah seorang tokoh sampingan Nuunima yang seorang asisten jurnalis alumnus jurusan sastra. Rupa-rupanya pola pikir Nuunima dan penulis sama persis. Sebagai sesama budak yang belajar ilmu sastra, kami tak memedulikan soal fesyen. Seolah mendapatkan gamparan dan pengetahuan akan dunia baru yang tak pernah dijamah, anime ini berusaha menunjukkan bagaimana kerja dan totalitas seorang profesional dalam bidang perancangan, pembuatan, dan pemeragaan. Fashion bukan berarti fashionable. Runway de Waratte murni memusatkan cerita pada makna fesyen yang sebenarnya.
Plot
   Dalam dunia naskah ada yang disebut dengan “cerita” dan “penceritaan” atau dalam istilah rusia disebut “Fabula” dan “Sjuzet”. Cerita adalah keseluruhan bahan yang ada, sedangkan penceritaan adalah bagaimana cara pengarang menyusun cerita tersebut (plot).  Dalam plot terdapat alur dan juga teknik penceritaan yang disebut Imbas Kembali. Alur progresif dikombinasikan dengan Imbas Kembali menghasilkan masa depan yang ditampilkan di awal cerita, kemudian cerita akan dilempar ke masa lalu untuk mengenang semua usaha atau peristiwa yang telah dilalui. Terdapat kelebihan dan kekurangan dalam teknik ini:
[+] Penonton tidak perlu khawatir dengan akhir cerita (Jika berakhir bahagia)
[+] Cara penyusunan alur lebih bervariasi
[-] Di sisi lain, teknik ini sama saja mematikan cakrawala harapan (ekspektasi) penonton. Tak peduli apapun yang terjadi, jika sudah mengetahui akhir cerita maka tidak akan menarik. (Berlaku bagi tim kontra spoiler)
   Cerita dalam anime ini akan berakhir bahagia, maka sebuah kesalahan jika menggunakan teknik tersebut. Kecuali jika masa depan yang ditampilkan masih abu-abu atau belum pada tahap resolusi. Serial Boruto termasuk salah satu anime yang menggunakan model penceritaan yang demikian. Akan tetapi, masa depan yang ditampilkan sebatas pada konflik yang masih belum jelas bagaimana akhir ceritanya. Masih ada bagian yang mampu membuat penonton tertarik untuk menanti akhir dari kisah.
Pada akhir opening telah diperlihatkan mereka berdua berada di Paris, belum lagi pembuka cerita juga mereka berada di sebuah peragaan dimana Chiyuki berada di runway dan Ikuto memakai setelan jas. Benar-benar akhir yang bahagia. Mungkin hal tersebut dilakukan oleh pengarang sebagai bentuk pemicu semangat perjuangan guna memotivasi para penonton. “Tak perlu takut dengan berbagai bentuk kegagalan yang akan terjadi karena semua akan indah pada waktunya.” Kira-kira seperti itu jika orang Indonesia yang menginterpretasikannya.
   Meskipun dikata tidak perlu repot-repot menebak akhir cerita, nyatanya penonton masih dibuat penasaran saat ketegangan terjadi dalam suatu konflik. Salah satu contohnya ialah siapa yang akan menjadi pemenang lomba fesyen yang berlangsung sengit. Saat-saat menegangkan itu tidak dapat diabaikan sampai membuat penonton memasang pertanyaan siapakah juaranya. Atau mungkin sebelum perlombaan dimulai ketika ayah Chiyuki memutuskan untuk membeli hak paten busana rancangan Ikuto senilai 2 jt yen.
   Akhir episode ditutup dengan penuh kerendahan dan kesadaran diri tokoh utama yang bersedia untuk berkerja dengan orang lain. Tidak menampilkan keegoisan dari ambisi yang meluap adalah cara terbaik sebagai contoh dalam bersikap di masyarakat. Perjalanan panjang masih harus dilewati untuk sampai di Paris, Prancis!
⸭Penokohan⸭
  Uniknya dalam anime ini adalah masing-masing tokohnya yang memiliki latar belakang berbeda juga kelebihan dan kekurangan tersendiri. Ragam itu lah yang membuat jalan cerita menjadi lebih kaya akan konflik individu. Mulai dari polemik ekonomi sebagai latar belakang Ikuto, seorang anak pemilik agensi model namun tak memiliki tinggi badan yang mencukupi adalah Chiyuki, perempuan serba bisa namun kikuk, Kokoro, dan ambisi seorang cucu dari perancang busana ternama yang gagal di akhir episode, Ayano. Tidak ada villain di anime ini. Hanya saja mungkin dapat dikatakan sebagai anti-hero yang berusaha menunjukkan bahwa dunia model lebih baik dari dunia perancangan busana.
Visual
   [Art Style]
   Ezόla merupakan studio baru. Animasi garapannya dimulai dengan rilisnya Happy Sugar Life. Dalam kategori visual art, Ezόla memiliki ciri tersendiri. Pastel adalah warna yang dipilih studio ini. Pemilihan warna yang kalem berusaha menjaga agar mata tidak tersakiti bila menonton dalam durasi lama. Akan tetapi, masih terdapat kelemahan yang menyertai rilisan ketiganya tersebut. Walupun bisa dibilang Ezόla telah belajar dari anime sebelumnya, Sou nan desuka?. Brightness-nya masih sedikit tinggi, namun lebih rendah dari Sou nan desuka. Jika pada musim panas lalu saya dipaksa menurunkan kecerahan layar secara manual, musim dingin kemarin rasanya sudah tak diperlukan.
    [Grafis]
   Dibangun dengan 24 FPS membuat anime ini memiliki kekurangan pada pergerakan gambar layaknya anime kebanyakan. Tak sedikit ditemukan di beberapa adegan yang mana pergerakan tokoh terlihat kaku dan patah-patah. Untuk ukuran studio baru dan manga yang diadaptasi juga tidak terlalu populer tentunya berdampak pada besar kecilnya pendanaan proyek. Secara otomatis juga memengaruhi jumlah animator yang dipekerjakan akan lebih sedikit dibandingkan sebuah proyek dengan pendanaan selangit.
   [Videografi]
   Pengambilan gambar atau yang bisa disebut juga angel shooting tidak ada masalah. Walaupun pada genre tidak dituliskan roman, akan tetapi sedikit bumbu roman dimasukkan bukanlah masalah. Justru akan mempermanis suasana. Teknik pengambilan gambar Extreme Close Up (ECU) dan Close Up (CU) tidak sulit dijumpai dalam anime ini. ECU untuk memperjelas ekspresi marah atau takut dengan gambar difokuskan pada perubahan (pupil) mata atau geraman mulut. Sedangkan CU dipergunakan untuk menunjukkan wajah yang blushing, kecantikan wajah, juga mimik wajah secara keseluruhan. Sudah menjadi kebiasaan saat menampilkan busana baik dalam adegan-adegan seperti heroine yang berpakaian menawan dsb, teknik kamera Pedestal Up (PU) menjadi solusi tepat untuk mengumbar kecantikan sekaligus postur tubuh yang disorot. Sangat cocok guna menonjolkan busana dalam anime ini.
Lagu Tema
   ♪ Ami Sakaguchi – LION (opening)
   Sangat tidak etis rasanya bila lagu pembuka tidak menggebu-gebu. Walaupun Ami-san merupakan artis pendatang baru, namun dia mampu membawakan lagu yang berjudul LION dengan baik. Lagu pembuka ini cocok dengan karakteristik sang tokoh utama, Fujito Chiyuki. Mendeskripsikan kepribadiannya yang pantang menyerah terasa padu dengan judul dan tempo lagu tersebut. Bak singa betina yang sedang berburu mangsa, dia tidak akan menyerah hingga impiannya terwujud. Lagu ini mengajak penonton untuk ikut antusias layaknya semangat para tokoh dalam anime. Hanya saja, pergantian tempo yang dipercepat pada reff kedua terasa sedikit risih di telinga. Penonton mungkin akan merasa tidak nyaman bila mendengarnya dalam kondisi sedang bersantai, dan kemungkinan jalan yang akan dipilih adalah melewati lagu pembuka ini.
   ♪ Kim Jae Joong – Ray of Light (ending)
   Berbeda dengan lagu pembuka dengan ciri khasnya yang menggugah semangat, lagu penutup selalu menjadi tempat mendinginkan kepala. Sebagai obat penenang, sudah menjadi tugasnya mengalunkan melodi dengan lembut. Kim Jae Joong, seorang penyanyi asal Korea ini menjadi pembawa lagu dengan judul Ray of Light. Sosok yang lebih dikenal Jejung (Jejun, read.) di negeri sakura itu memiliki jam terbang sebagai penyanyi yang tak perlu diragukan kembali. Hal itu dapat dibuktikan secara langsung melalui lagu yang ia bawakan. Dengan beraliran K-Pop, ia mempersembahkan sebuah rasa yang berbeda kepada industri lagu animasi Jepang. Tak pelak saat kali pertama mendengarkannya terasa ada yang ganjil atau lebih tepatnya serasa tidak asing di telinga, bagi saya yang kebetulan seorang penggemar K-Pop dan serial drama korea.
   Tema yang diajukan seperti kemenangan setelah melalui halang rintang yang begitu berat. Emosi dipaksa untuk mereda seolah merelaksasi ketengangan pasca konflik. Kehangatan yang dibawakan dimanfaatkan oleh studio untuk merepresentasikan salah seorang tokoh utama dalam anime, Tsumura Ikuto. Berbanding terbalik dengan si singa betina, Ikuto terasa seperti anakan burung yang hidup dalam kehangatan keluarga. Tidak ada minus pada lagu ini. Biarkan telinga yang merasakan sendiri ketentraman Ray of Light.
Seiyuu
   Bagian pengisi suara tidak ada masalah. Masing-masing dari mereka sanggup memerankan dengan baik tokoh dalam cerita. Hanamori yang mampu memerankan perempuan cilik dan remaja bisa mengekspresikan dengan baik sosok Chiyuki yang berpenampilan feminim namun sedikit maskulin dalam kepribadiannya. Karakter suaranya yang juga memerankan Hayasaka Ai (Kaguya-sama) ini memang cocok untuk menjadi perempuan remaja. Demikian pula dengan Natsuki Hanae, tak perlu diragukan lagi rekam jejaknya sebagai pengisi suara. Kaneki (Aink Ghoul), Qwenthur (Heavy Object), Takumi (Shokugeki) dll dapat diperankan dengan baik olehnya. Sebagai seorang profesional ia mampu menyesuaikan suara sebagaimana sifat tokohnya.
   Suara Ayano Toh terdengar berat dan seperti orang jahat (padahal bukan). Siapa yang menyangka bahwa pengisi suaranya adalah sosok yang sama dengan 10 tahun lalu yang memerankan Hinata (Angel Beats). Serasa berbeda orang. Memang begitulah seharusnya. Seorang pengisi suara yang berpengalaman memang tak perlu ditanyakan soal kelihaian dalam seni bermain peran. Terakhir adalah Kayano Ai. Tidak ada yang tak mengenalnya. Pengisi suara si kembar Alice (SAO) dan Darkness (Konosuba) ini juga tak kalah profesional dengan yang lain. Karakter suara onee-san, atau imut seperti imouto dia libas. Kokoro yang berperawakan dewasa memang berlawanan dengan suara yang tipis malu-malu. Namun memang demikian adanya menilai dari kepribadian Kokoro itu sendiri.
Meskipun Ezόla tergolong sebagai studio baru, namun berhasil memperoleh pengisi suara yang bukan kelas teri!    
Amanat
   [Spirit]
   Mereka yang membuang waktu semasa berstatus pelajar akan menyadari bahwa terdapat hal positif yang dapat dikerjakan daripada menghabiskan hari untuk bermain gim dan menonton anime hingga lupa waktu. Pada dasarnya seseorang pasti memiliki kemampuan atau ketertarikan pada suatu bidang tertentu. Tinggal bagaimana orang tersebut mendalami dan mengolah waktu. Anime ini menyadarkan bahwa menggali potensi diri sangat penting dilakukan. Memiliki cita-cita sangat penting sebagai target untuk dicapai, dengan kerja keras tentunya. Walaupun banyak masalah yang pasti akan terjadi, jangan dihindari—tapi hadapi dan selesaikan masalah tersebut. Jangan melarikan diri! Jadilah orang sukses dengan segudang pengalaman, itu akan membuktikan bahwa kesuksesan hanya dapat ditempuh melalui perjalanan yang panjang. Tidak dengan cara instan, seperti menggunakan kekuatan orang dalam misalnya.
   [Identitas]
   Menampar keras mereka yang beranggapan bahwa busana hanya untuk menutupi/melindungi tubuh dari ganasnya cuaca, Runway de Waratte memperlihatkan seperti apa itu busana sebagai fesyen. Bukan lagi hanya sekadar dipakai-nyaman-selesai. Busana memiliki keunggulan lebih dari itu. Ibaratkan saja fesyen adalah cara memasak dan busana adalah ayam. Ada banyak sekali cara untuk menyajikan ayam menjadi hidangan, begitu pula cara memanfaatkan busana. Ketika suatu fungsi utama dari obyek terpenuhi, maka manusia akan melakukan inovasi atau mencari fungsi lain dari obyek tersebut. Ayam goreng, ayam bakar, ayam panggang, ayam kukus, dan ayam-ayam lainnya. Ragam hidangan dengan bahan yang sama namun dengan cara penyajian yang berbeda berdampak pada rasa juga tekstur ayam. Demikian pula dengan busana. Busana yang dirancang untuk melindungi diri, busana yang dirancang untuk kenyamanan pemakai, busana yang dirancang untuk memamerkan estetika, dan busana untuk menunjukkan identitas diri.
   Busana mengubah seseorang atau seseorang memberitahu siapa dirinya melalui busana. Keduanya bisa terjadi dan dapat dilakukan. Teruntuk mereka yang menyepelekan busana mungkin akan berubah pikiran setelah menonton anime ini. Pernah kan dari kita takjub dengan suatu busana dan ingin mengenakannya? Apa yang terjadi setelah mengenakannya? Lebih mudahnya lagi, apa yang terjadi bila tunawisma mengenakan setelan jas? Apakah masih tampak sebagai tunawisma? Dalam kasus ini busana mampu mengubah seseorang atau setidaknya penilaian seseorang terhadap orang lain. Menyulap orang biasa menjadi luar biasa dapat dilakukan dengan mengubah busana. Kemudian dalam kasus lain, seseorang yang menunjukkan sifat atau kepribadiannya melalui busana yang dikenakan. Orang yang kalem, polos, dan pendiam akan cenderung menggunakan busana yang simpel dan kasual. Tak suka berpenampilan mencolok dari yang lain. Ada juga yang berbusana glamour yang mencerminkan dirinya seorang yang suka kemewahan dan kemegahan. Busana dapat berperan sebagai cerminan diri, orang-orang dapat menilai kita dari cara dan gaya berbusana.
   [Standar Kecantikan]
   Cantik itu relatif? Omong kosong. Lantas mengapa ada kontes Miss Universe? Kecantikan itu ada standarnya. Apa yang tidak pasti menjadi mutlak. Jika tidak memenuhi standar, maka tidak layak dikatakan cantik. Model rambut, struktur wajah, bentuk hidung dan bibir, tinggi badan dan berat badan merupakan poin penting yang selalu dipertimbangkan untuk mengukur kecantikan. Dalam anime ini khususnya, menekankan faktor postur tubuh. Perempuan berwajah jelek. DITOLAK! Perempuan bertubuh gemuk tidak bisa menjadi model. DITOLAK! Perempuan bertumbuh pendek diharamkan berjalan di runway. DITOLAK! Apa yang dialami oleh Chiyuki hanya salah satu dari tiga poin di atas. Berparas cantik, bertubuh ramping, Chiyuki memilikinya.  Hanya karena faktor tinggi badannya yang tidak memenuhi standar, ia harus menelan pahitnya kenyataan. Walaupun pada akhirnya ia berhasil menembus aturan tersebut dan menjadi model untuk busana rancangan Yanagida, Ikuto, dan Kokoro.
   [Strategi]
   /Ikut orang-curi ilmunya-praktekkan/
   Tiga langkah itu adalah suatu keharusan bagi siapapun yang ingin membuka usaha sendiri. Jangan sampai merintis usaha tanpa adanya ilmu yang cukup. Memang ada yang berbekal belajar otodidak dan berhasil bisnisnya. Akan tetapi jumlah nya hanya hitungan jari, jauh lebih banyak mereka yang bangkrut di tengah jalan karena kurangnya ilmu dalam membangun usaha. Melalui Tsumura Ikuto, pengarang ingin menyampaikan bahwa kesuksesan tidak dapat diraih dengan tanpa adanya bantuan dari orang lain. Tanpa pernah belajar dari orang lain. Mustahil. Sebagai contoh adalah dimulai dari Ayano Toh yang bersikeras ingin mennyaingi neneknya dan bermaksud independen (membuka usaha sendiri), akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena sadar betul bahwa rancangannya masih meniru neneknya. Diikuti setelahnya Tsumura Ikuto yang awalnya menolak bergabung dengan tim Ayano, di akhir episode ia membuang egonya dan bersedia menjadi pembuat pola dalam tim Ayano. Kurangnya ilmu dan pengalaman membuat Ikuto harus membuat keputusan demikian. Itu semua dilakukan demi menjadi perancang busana profesional.
⸭Kesimpulan
   Anime ini menyampaikan pada penonton bahwa fesyen bukan hanya bicara soal hasil jadi (busana), melainkan adanya proses rumit di belakangnya yang jarang diketahui atau digubris oleh para konsumen. Dibarengi dengan semangat muda-mudi dalam mengejar impian, mengajarkan makna apa itu fesyen dan untuk apa keberadaan fesyen. Sangat cocok sebagai sarana motivasi bagi mereka yang selalu menyerah akan yang namanya bakat, potensi, dan impian.
Nilai Tiap Bagian
   Ø  Plot 8/10
   Ø  Visual 7,5/10
   Ø  Lagu 8,5/10
   Ø  Amanat 9/10

Ditulis oleh Aris Tri Prasetyo as Raven Guard

Tidak ada komentar:

Posting Komentar